Pakaian sehari-hari sebagai pengingat tradisi
Gerakan bersarung adalah anjuran mengenakan sarung dan peci satu kali dalam sepekan di lingkungan kerja Kementerian Agama untuk merawat identitas budaya dan kebanggaan terhadap tradisi Nusantara. Gagasan itu disampaikan Menteri Agama Nasaruddin Umar saat membuka Festival Sarung dan Peci Santri 2026 di halaman Kantor Kemenag, Jakarta, pada Sabtu, 24 Oktober 2026.
Usulan ini layak mendapat dukungan karena pelestarian budaya akan lebih berarti ketika hadir dalam kebiasaan, bukan hanya dalam festival dan seremoni. Mengajak pegawai mengenakan sarung dan peci memberi tradisi tempat yang terlihat di ruang kerja pemerintahan. Namun, nilai langkah ini tidak terletak pada seragam baru, melainkan pada kesediaan lembaga memperlakukan warisan budaya sebagai bagian wajar dari kehidupan modern.
Festival tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri 2026. Nasaruddin berharap kegiatan itu dapat berlangsung rutin, dan menyatakan setuju jika pegawai sepakat mengenakan sarung dan peci sekali seminggu.

Anjuran, bukan kewajiban
Sikap Menag yang tidak menjadikan sarung mingguan sebagai kewajiban merupakan bagian penting dari gagasan ini. Ia menyebut pemakaian sarung dan peci dapat menjadi anjuran yang mempertimbangkan kondisi, kenyamanan, serta kebutuhan pegawai saat bekerja. Pendekatan tersebut lebih masuk akal daripada mewajibkan busana tertentu tanpa memedulikan ragam tugas dan situasi kerja.
Bagi pegawai Kemenag, pilihan untuk ikut seharusnya tetap memberi ruang bagi aktivitas yang menuntut pakaian berbeda. Fleksibilitas juga menjaga agar gerakan ini tidak berubah menjadi pemeriksaan kepatuhan yang mengaburkan tujuan budayanya. Jika diterapkan dengan terbuka dan tanpa tekanan, sarung dan peci bisa menjadi ajakan yang mengundang rasa bangga, bukan aturan yang memicu keberatan.
Karena itu, keberhasilan gerakan tak semestinya diukur dari berapa banyak pegawai yang mengenakan busana tersebut setiap pekan. Ukuran yang lebih penting ialah apakah kebijakan itu menumbuhkan apresiasi terhadap tradisi sekaligus menghormati kebutuhan orang yang menjalankan tugas pelayanan.
Makna di balik sarung dan peci
Menurut Nasaruddin, sarung dan peci membawa makna yang melampaui fungsi pakaian. Sarung mencerminkan kebersamaan, kesetaraan, dan kebebasan, antara lain karena bentuknya sederhana dan dipakai oleh beragam kelompok masyarakat. Peci, sementara itu, dikaitkan dengan kehormatan, kewibawaan, dan identitas kebangsaan, serta telah digunakan dalam berbagai kegiatan kenegaraan.
Simbol-simbol itu memberi alasan yang kuat bagi gerakan bersarung di kantor pemerintah: tradisi tidak harus dikurung di lingkungan pesantren atau acara khusus. Peci pegawai Kemenag dan sarung yang dikenakan bersama pakaian kerja dapat menegaskan bahwa identitas budaya tetap punya tempat dalam kehidupan profesional.
Namun, simbol hanya bermakna jika disertai pemahaman. Memakai sarung tidak otomatis menjaga tradisi bila ia diperlakukan sebagai kostum sesaat. Kemenag perlu menyandingkan pembiasaan berpakaian dengan pengenalan nilai sejarah dan sosialnya, agar pegawai memahami apa yang hendak dirawat, bukan sekadar mengikuti jadwal.
Selasa Bersarung sebagai langkah lanjutan
Direktur Jenderal Pesantren Kemenag, Basnang Said, mengusulkan Selasa Bersarung di lingkungan Direktorat Jenderal Pesantren. Usulan itu masih menunggu persetujuan Menteri Agama sebelum diterapkan. Basnang memilih Selasa karena sarung dinilai serasi dengan pakaian kerja putih yang biasa dikenakan pegawai.
Gagasan ini dapat menjadi uji coba yang terukur: satu hari kerja khusus di unit yang dekat dengan tradisi pesantren, tanpa serta-merta menganggapnya sebagai kebijakan untuk seluruh Kemenag. Basnang juga menolak anggapan bahwa sarung menandakan keterbelakangan; menurutnya, modernitas lebih ditentukan oleh cara berpikir dan cara seseorang memandang sesuatu.
Pada akhirnya, gerakan ini akan bernilai jika mampu mendekatkan tradisi Nusantara dengan keseharian, bukan menjadikannya kewajiban simbolis. Anjuran yang lentur, disertai pemahaman dan penghormatan terhadap kenyamanan pegawai, menawarkan jalan yang lebih kuat untuk merawat warisan tanpa mempertentangkannya dengan kemajuan.






