KuybeliKuybeli

Dari Nol hingga Pro: Workshop Canva dan CapCut Ubah Guru dan Siswa Jadi Content Creator

Dari Nol hingga Pro: Workshop Canva dan CapCut Ubah Guru dan Siswa Jadi Content Creator
Minat|Aplikasi Ponsel

Pelatihan Digital Bukan Lagi Bonus, Tapi Kebutuhan Utama

Pelatihan digital tools kreatif adalah proses terstruktur untuk mengenalkan dan mengajarkan aplikasi desain, video, dan kecerdasan buatan kepada guru dan siswa agar mereka mampu memproduksi konten edukatif yang menarik, sistematis, dan relevan dengan budaya media sosial yang mereka konsumsi setiap hari, sekaligus meningkatkan literasi digital dan rasa percaya diri dalam berkarya.

Jika dulu kreativitas visual dianggap bakat tambahan, hari ini keterampilan desain dan video sudah menjadi bahasa baru di kelas. Mahasiswa FISIP Berdampak untuk Negeri (FBN) di Kelurahan Palas mengerti hal ini dan menggelar Kelas Design dan Mewarnai pada Jumat 3 Juli 2026 untuk mengajak anak-anak masuk ke dunia desain sejak dini. Di sisi lain, di sebuah pesantren, 22 guru mengikuti Pelatihan Digitalisasi 3 hari penuh yang fokus ke Canva, CapCut, dan AI. Dua contoh ini menunjukkan: siapa yang menguasai konten, dia yang memegang perhatian siswa.

Mahasiswa UNRI: Canva sebagai Gerbang Pertama Literasi Digital Siswa

Program mahasiswa UNRI di Kelurahan Palas tidak hanya mengisi waktu luang anak-anak; ia memindahkan mereka dari posisi konsumen konten menjadi calon kreator. Melalui Kelas Design dan Mewarnai, mahasiswa FBN merancang kegiatan edukatif dan interaktif untuk meningkatkan kreativitas, kemampuan berpikir visual, sekaligus memperkenalkan literasi digital kepada anak sejak usia dini.

Anak yang sudah mampu memakai ponsel diajak membuat desain sederhana di Canva, mengenal fungsi font, teks, tema, gradasi warna, hingga elemen desain dengan pendampingan langsung. Sementara itu, anak yang lebih kecil mengasah motorik halus lewat kelas mewarnai. Pendekatan praktik langsung membuat setiap peserta keluar dengan satu karya desain mereka sendiri. Di sinilah literasi digital siswa lahir: bukan dengan ceramah panjang tentang internet, melainkan dengan pengalaman mengerjakan proyek nyata yang membuat mereka bangga memamerkan hasilnya.

Pesantren Naik Level: Guru Jadi Editor Video dan Manajer Arsip Digital

Sementara mahasiswa membina anak-anak, sebuah pondok pesantren membuktikan bahwa guru juga bisa “naik level” tanpa harus kuliah desain. Dalam Pelatihan Digitalisasi 3 hari di Pondok Pesantren Zaid bin Tsabit pada 13–15 Juli 2026, sebanyak 22 ustadz, ustadzah, dan guru dilatih menguasai Canva untuk desain, CapCut untuk video, dan AI untuk mempercepat pekerjaan, termasuk pengelolaan arsip digital agar berkas tidak menumpuk.

Kelas berlangsung santai namun serius: hari pertama di lingkungan pesantren, hari kedua pindah ke warkop untuk suasana yang lebih cair, tetapi tugas konten tetap harus diselesaikan. “Digitalisasi itu strategi. Biar ngajar lebih kreatif, admin lebih rapi, dakwah lebih luas,” kata Maimudin, praktisi digital bersertifikat BNSP. Hasilnya terasa cepat: media pembelajaran jadi lebih menarik, siswa lebih semangat, dan ponsel yang sebelumnya hanya dipakai untuk media sosial berubah menjadi alat dakwah dan mengajar yang produktif.

Dampak Nyata: Konten Edukasi, Kepercayaan Diri, dan Komunitas yang Berdaya

Kedua program pelatihan ini menunjukkan pola yang sama: ketika digital tools seperti Canva dan CapCut diajarkan dengan cara praktis, komunitas lokal memperoleh keterampilan yang relevan dengan era konten. Anak-anak di Palas belajar menuangkan ide ke dalam desain, mengasah ekspresi, konsentrasi, dan koordinasi motorik halus, sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri lewat karya yang mereka hasilkan sendiri.

Di pesantren, penguasaan Canva, CapCut, dan AI membuat guru mampu mengubah materi ajar menjadi konten yang hidup, sehingga literasi digital siswa tidak berhenti di teori, tetapi hadir dalam bentuk video, poster, dan arsip digital yang tertata. Menurut Wakil Kepala Kurikulum, setelah pelatihan ini media pembelajaran menjadi lebih menarik dan siswa lebih bersemangat mengikuti pelajaran. Ini bukan sekadar workshop digital tools; ini transformasi budaya belajar, dari buku tulis ke layar, dari hafalan ke produksi konten.

Langkah Lanjut: Dari Dua Program Menjadi Gerakan Literasi Digital

Pertanyaan pentingnya: apakah dua program ini akan berhenti sebagai kegiatan sekali selesai, atau menjadi titik awal gerakan literasi digital yang lebih luas? Maimudin secara tegas menyebut bahwa kegiatan ini seharusnya menjadi permulaan, dan digitalisasi perlu menyebar ke sekolah, pesantren, UMKM, hingga kantor pemerintah. Jika anak dan guru sudah membuktikan mampu menguasai aplikasi desain dan video, maka alasan untuk menunda digitalisasi di lembaga lain semakin tipis.

Kuncinya adalah memperbanyak akses ke workshop digital tools yang kontekstual, mudah diikuti, dan dekat dengan realitas peserta. Alih-alih menunggu kurikulum berubah, komunitas bisa memulai dari hal sederhana: kelas Canva untuk poster tugas, sesi CapCut untuk video pembelajaran pendek, atau pengenalan AI untuk merapikan administrasi. Program mahasiswa dan pesantren ini menunjukkan bahwa ketika literasi digital siswa dan guru disatukan, ruang kelas berubah menjadi studio kreatif, dan ponsel tidak lagi musuh, melainkan alat belajar yang memberi peluang baru.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!