KuybeliKuybeli

Guru Pesantren Naik Level dengan Pelatihan Canva dan CapCut

Guru Pesantren Naik Level dengan Pelatihan Canva dan CapCut
Minat|Aplikasi Ponsel

Digitalisasi Pendidikan: Dari Ponsel untuk Scroll Jadi Alat Belajar

Digitalisasi pendidikan adalah proses ketika guru dan lembaga belajar memasukkan alat desain, video, dan aplikasi kreatif seperti Canva dan CapCut ke dalam metode pengajaran mereka, sehingga ponsel dan perangkat digital tidak lagi hanya dipakai untuk hiburan, tetapi menjadi media untuk membuat konten pembelajaran, melatih literasi digital sekolah, dan memperluas jangkauan edukasi ke kelas dan komunitas secara lebih menarik dan interaktif. Dalam konteks ini, pelatihan Canva guru dan CapCut untuk pendidik bukan sekadar kegiatan tambahan, melainkan strategi naik kelas bagi dunia pendidikan. Di satu sisi, 22 ustadz, ustadzah, dan guru di sebuah pondok pesantren mengikuti Pelatihan Digitalisasi 3 Hari yang fokus pada Canva, CapCut, AI, dan arsip digital. Di sisi lain, mahasiswa di sebuah kelurahan menggelar workshop desain online berbasis Canva untuk anak-anak sebagai pintu awal literasi digital.

Tiga Hari yang Mengubah Cara Guru Mengajar di Pesantren

Pelatihan Digitalisasi 3 Hari di Pondok Pesantren Zaid bin Tsabit yang berlangsung pada 13–15 Juli mengirim pesan jelas: guru pesantren tidak boleh tertinggal dalam revolusi konten digital. Sebanyak 22 ustadz, ustadzah, dan guru resmi “naik level” setelah mengikuti kelas intensif yang materinya langsung menyentuh kebutuhan praktik: pelatihan Canva guru untuk desain, CapCut untuk pendidik yang ingin mengedit video, pemanfaatan AI untuk mempercepat kerja, hingga pengelolaan arsip digital agar berkas tidak menumpuk. Suasana pelatihan digambarkan santai namun serius, dengan peserta langsung praktik membuat konten dan menyelesaikan tugas, bukan hanya mendengar ceramah panjang. Kalimat pembimbing pelatihan, “Digitalisasi itu strategi. Biar ngajar lebih kreatif, admin lebih rapi, dakwah lebih luas,” merangkum betapa perangkat digital kini menjadi bagian dari identitas profesional seorang guru.

Canva di Tangan Anak: Fondasi Literasi Digital Sejak Dini

Jika pesantren membuktikan guru bisa beradaptasi cepat, maka di tingkat komunitas, anak-anak Kelurahan Palas menunjukkan bahwa generasi muda mampu menyambut era ini dengan antusias. Mahasiswa FISIP Berdampak untuk Negeri mengadakan program Kelas Design dan Mewarnai yang dirancang sebagai media pembelajaran edukatif, interaktif, dan menyenangkan. Anak-anak diajak mengenal teknologi digital secara positif lewat aplikasi desain grafis Canva, sementara peserta usia dini mengikuti kegiatan mewarnai untuk mengasah kreativitas dan motorik halus. Ini bukan sekadar workshop desain online yang mengajarkan klik dan geser; mereka dikenalkan fungsi font, teks, tema, gradasi warna, dan elemen desain, lalu diminta menghasilkan satu karya sesuai tema melalui praktik langsung. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa literasi digital sekolah seharusnya dimulai dari lingkungan sekitar, bukan menunggu fasilitas ideal di ruang kelas.

Jembatan Antara Tradisi Pendidikan dan Konten Digital

Pelatihan Canva guru dan CapCut untuk pendidik di pesantren memperlihatkan bagaimana metode praktik langsung mampu menjembatani dunia kitab dan papan tulis dengan gaya belajar visual dan video yang disukai generasi sekarang. Ketika para peserta diminta langsung membuat konten, mereka tidak hanya mempelajari fitur, tetapi belajar memikirkan ulang cara menyampaikan materi agar lebih menarik. Wakil kepala kurikulum pesantren mencatat bahwa setelah pelatihan, media pembelajaran menjadi lebih menarik dan siswa lebih bersemangat. Di sisi lain, di Kelas Design dan Mewarnai, anak-anak yang telah mampu mengoperasikan telepon pintar didampingi membuat desain sederhana di Canva dan langsung melihat karya mereka tampil di layar. Pendekatan praktik seperti ini mengurangi jarak antara dunia tradisional dan ekosistem konten digital yang selama ini terasa milik kreator di luar sekolah.

Dari Inisiatif Lokal ke Gerakan Literasi Digital yang Lebih Luas

Dua contoh program ini menunjukkan satu pola penting: digitalisasi pendidikan sukses ketika dimulai dari kebutuhan nyata guru dan siswa, lalu digerakkan oleh pelatihan yang konkret, bukan seminar jargon. Di pesantren, hasil pelatihan membuat pimpinan menyebut ponsel yang dulu hanya untuk media sosial kini menjadi “ladang pahala” lewat produksi konten dakwah sendiri. Di Kelurahan Palas, anak-anak yang sebelumnya hanya pengguna pasif gawai berubah menjadi pembuat desain sederhana yang menyalurkan ide dan kreativitas mereka. Pelatih digital di pesantren menegaskan bahwa kegiatan ini baru langkah awal dan digitalisasi harus menyebar ke sekolah, pesantren, UMKM, hingga kantor pemerintah. Jika ajakan itu diikuti, literasi digital sekolah akan tumbuh bukan sebagai proyek sesaat, tetapi sebagai gerakan panjang yang menjadikan guru lebih kreatif, administrasi lebih rapi, dan layanan pendidikan lebih cepat.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!