Nilai Pancasila lebih mudah dipahami lewat pengalaman
Belajar Pancasila anak adalah proses mengenalkan nilai dasar kehidupan bersama melalui penjelasan dan pengalaman yang sesuai dengan usia, agar anak dapat menghubungkan gagasan dengan tindakan sehari-hari. Dua kegiatan mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) memperlihatkan mengapa pendekatan itu lebih menarik daripada ceramah semata: nilai seperti toleransi, tanggung jawab, dan musyawarah menjadi konkret ketika anak ikut melakukan sesuatu.
Mahasiswa Program Studi Manajemen UBSI Kampus Kaliabang mengadakan pengabdian masyarakat bertema “Pancasila sebagai Sistem Etika” di Panti Asuhan PYI Perjuangan Harapan Baru, Bekasi Utara, pada 18 Oktober 2026. Kegiatan yang dimulai pukul 13.00 WIB itu melibatkan delapan mahasiswa. Sementara itu, tim UBSI Kampus Margonda menggelar kegiatan edukasi interaktif di TK Islam Al-Birru, Kecamatan Cinere, pada 29 Oktober 2026. Perbedaan tempat dan usia peserta menghasilkan cara belajar yang berbeda, tetapi keduanya berangkat dari kebutuhan yang sama: menjadikan Pancasila terasa dekat dengan keseharian anak.
Diskusi di panti asuhan menghubungkan nilai dengan keseharian
Di Panti Asuhan PYI, mahasiswa Kaliabang memilih membahas Pancasila sebagai pedoman etika, bukan sekadar hafalan sila. Anak-anak diajak memahami sikap saling menghormati, kejujuran, tanggung jawab, disiplin, toleransi, dan kepedulian. Contoh yang digunakan dekat dengan kehidupan mereka: menghormati orang yang lebih tua, membantu teman, menjaga kebersihan, bekerja sama, serta menghindari perundungan.
Pemaparan materi dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab. Anak-anak dapat menjawab pertanyaan, menyampaikan pendapat, dan berbagi pengalaman tentang sikap saling menghargai. Pilihan ini penting karena edukasi Pancasila kehilangan daya jika hanya berlangsung satu arah. Saat peserta berbicara dan mengaitkan materi dengan pengalaman sendiri, nilai abstrak berubah menjadi persoalan yang bisa dikenali dan dibicarakan. Pendekatan interaktif juga memberi ruang bagi mahasiswa untuk mengetahui apakah pesan yang disampaikan benar-benar dipahami.
Di TK, bermain menjadi cara untuk mempraktikkan sila
Tim UBSI Margonda merancang empat sesi kegiatan untuk menjawab rendahnya minat terhadap materi PPKn yang teoritis, terbatasnya media interaktif, dan sulitnya menghubungkan Pancasila dengan kegiatan sehari-hari. Anak-anak mewarnai gambar rantai sambil mengenal makna kemanusiaan, lalu mewarnai balon secara berkelompok dan bermusyawarah memilih warna. Mereka juga mengikuti bermain peran tentang gotong royong dan antre menunggu giliran.
Kebiasaan sederhana seperti berdoa sebelum makan, berbagi mainan, menolong teman, dan menunggu giliran membuat sila terasa sebagai tindakan, bukan daftar istilah. Pembagian hadiah yang sama rata di akhir kegiatan pun digunakan untuk menjelaskan keadilan. Dibandingkan diskusi di panti asuhan, pendekatan bermain di TK lebih banyak mengandalkan gerak, gambar, dan kerja kelompok. Namun keduanya menunjukkan manfaat kegiatan anak interaktif: anak belajar dengan berpartisipasi, sementara nilai-nilai menjadi lebih mudah diingat karena dialami langsung.

Interaksi bukan pelengkap, melainkan inti pembelajaran
Kedua kegiatan menawarkan pelajaran yang patut diperhatikan: metode harus mengikuti usia dan situasi peserta. Diskusi memberi anak ruang untuk menalar dan bercerita; permainan memberi kesempatan untuk mencoba bekerja sama, berbagi, dan mengambil giliran. Keduanya lebih bermakna daripada mengukur keberhasilan hanya dari kemampuan menyebutkan sila, sebab tujuan belajar Pancasila adalah membantu anak mengenali pilihan sikap dalam kehidupan nyata.
Kegiatan mahasiswa UBSI di panti asuhan dan TK Al-Birru memang menggunakan bentuk berbeda, tetapi sama-sama menjadikan partisipasi sebagai jalan masuk menuju pemahaman. Belajar Pancasila anak akan lebih menarik ketika nilai disampaikan dengan bahasa sederhana, contoh yang akrab, dan aktivitas yang memberi ruang untuk mencoba. Kesimpulannya, permainan dan diskusi bukan hiasan dalam edukasi Pancasila; keduanya membantu mengubah nilai yang abstrak menjadi kebiasaan yang dapat dipraktikkan.






