Recall Kendaraan Listrik: Saat Defek Keselamatan Tak Bisa Lagi Diabaikan
Recall kendaraan listrik adalah penarikan kembali mobil oleh produsen untuk memperbaiki defek keselamatan atau kualitas yang berpotensi membahayakan pengemudi, penumpang, maupun pengguna jalan lain, termasuk masalah pada sistem kelistrikan mobil, airbag, sensor bantuan mengemudi, hingga suspensi, yang biasanya terdeteksi melalui audit internal, umpan balik konsumen, atau insiden di lapangan sebelum berkembang menjadi kecelakaan besar. Gelombang recall terbaru menunjukkan satu hal: era EV bukan berarti era bebas masalah. Saat mobil berubah menjadi komputer di atas roda, risiko pun bergeser dari murni mekanis ke campuran mekanis, elektronik, dan perangkat lunak. Itu sebabnya recall kendaraan listrik sekarang harus dilihat sebagai barometer kedewasaan industri, bukan sekadar aib yang disembunyikan. Justru transparansi dan kecepatan produsen dalam mengakui defek keselamatan EV akan menentukan siapa yang layak dipercaya jangka panjang.
Lucid Air: Risiko Kebakaran dan Solusi Over-The-Air yang Wajib Diselesaikan
Kasus Lucid Air adalah contoh telanjang bagaimana sistem kelistrikan mobil bisa berbalik menjadi sumber bahaya jika perangkat lunak dirancang tidak hati-hati. Produsen ini menarik kembali 27.185 unit Lucid Air di Amerika Serikat karena masalah pada sistem perlindungan sekring elektronik yang berpotensi memicu kebakaran. Masalah berasal dari software pengontrol sekring pada sirkuit lampu eksterior yang memungkinkan sirkuit tetap dialiri listrik saat terjadi lonjakan arus. Akibatnya, komponen bisa panas berlebih, memunculkan asap, merusak kabel, bahkan memicu kebakaran, sekaligus mematikan lampu rem tengah dan lampu utama saat mobil bergerak. Di atas kertas, solusi tampak elegan: pembaruan software versi 2.10.0 atau lebih baru lewat update OTA kendaraan, yang menurunkan ambang perlindungan sekring dan mengunci sirkuit bermasalah. Namun ada sisi lain: hingga kini baru 20.719 unit yang selesai di-update, menyisakan 6.466 mobil dengan potensi risiko yang sama. Pemilik yang menunda update OTA pada EV modern, terutama Lucid Air, secara praktis sedang menunda perbaikan sistem keselamatan yang berkaitan langsung dengan nyawa.

Kia EV9 dan Geely: Airbag Anak hingga LiDAR yang Bisa "Buta" di Jalan
Jika Lucid menyorot bahaya di sistem kelistrikan mobil, Kia EV9 dan Geely memperlihatkan rapuhnya lapisan perlindungan lain: airbag dan sensor bantuan mengemudi. Sebanyak 21.290 unit Kia EV9 model 2025–2026 di Amerika Serikat ditarik karena masalah sistem pendeteksi penumpang yang terhubung ke airbag. Selang sensor dapat terjepit saat kursi penumpang depan dinaikkan ke posisi tertinggi akibat jalur pemasangan yang keliru, sehingga sistem bisa gagal menonaktifkan airbag ketika mendeteksi anak di kursi depan. Airbag yang tetap aktif dalam skenario ini justru meningkatkan risiko cedera dan membuat mobil tidak memenuhi standar keselamatan federal. Di sisi lain, Geely menarik hampir 93.000 kendaraan karena masalah pada sistem LiDAR yang dapat mengganggu kinerja fitur bantuan pengemudi. Chip daya di dalam LiDAR berpotensi gagal akibat variasi proses produksi pemasok, membuat sensor kehilangan fungsi dan sistem bantuan mengemudi kesulitan membaca lingkungan sekitar. Model terdampak mencakup lini Lynk & Co 900, 10 EM-P, 07, 08, serta Geely Galaxy M9. Ini bukan sekadar bug software, tapi cacat komponen yang menyentuh jantung teknologi keselamatan modern. Ketika sensor “buta” atau airbag salah bekerja, seluruh narasi EV sebagai mobil lebih aman mendadak terasa rapuh.

Xpeng X9 dan Regulasi China: Panas Ekstrem Memaksa Industri Lebih Jujur
Defek keselamatan EV bukan hanya soal komponen elektronik; lingkungan ekstrem pun bisa memicu titik lemah baru. Gelombang panas di Chongqing dilaporkan membuat sistem suspensi udara Xpeng X9 hilang tenaga, membuat sasis ambruk di satu sisi atau seluruhnya saat kendaraan melaju, dan langkah recall pun tak terelakkan. Manajemen lokal menegaskan mereka sedang mendalami masalah suspensi udara bersama Xpeng Global dan memastikan apakah unit untuk pasar lain ikut terimbas. Dalam konteks ini, kebijakan baru China terasa logis: pemerintah mewajibkan produsen melaporkan secara proaktif temuan cacat dari audit internal dan segera mengajukan rencana penarikan jika ditemukan produk cacat. Kebijakan satu tahun ini mengharuskan produsen menyerahkan hasil audit kualitas, keandalan, dan daya tahan kendaraan ke regulator daerah sebelum akhir 2026. Audit meliputi sistem bantuan pengemudi, mengemudi otonom, keselamatan fungsional, keamanan siber, keamanan data, dan pembaruan software. Langkah ini diambil setelah perbaikan terhadap total 4,3 juta kendaraan oleh Tesla dan delapan produsen EV, dipicu kekhawatiran mekanisme pembuka pintu darurat. Regulasi ketat seperti ini seharusnya dibaca sebagai sinyal: era “coba-coba” teknologi di jalan raya sudah selesai; produsen wajib jujur dan gesit ketika defek keselamatan muncul.

Apa yang Harus Dilakukan Pemilik: Jangan Anggap Recall sebagai Masalah Orang Lain
Gelombang recall kendaraan listrik global adalah peringatan keras bahwa pemilik tidak boleh apatis terhadap notifikasi servis, update OTA, atau lampu peringatan di dasbor. Pada Kia EV9, pemilik bisa menemukan indikasi masalah melalui lampu peringatan airbag dan peringatan sabuk pengaman penumpang depan meski kursi kosong. Pada Lucid Air, update OTA versi 2.10.0 bukan sekadar peningkatan fitur, tapi perbaikan penting untuk mencegah panas berlebih pada sirkuit lampu luar. "Recall dilakukan karena memang ditemukan masalah pada kendaraan, bukan sekadar pembaruan perangkat lunak atau penyempurnaan fitur". Mengabaikan recall sama saja dengan menerima risiko kebakaran, airbag yang bekerja salah, sensor LiDAR yang tidak berfungsi, atau suspensi yang bisa roboh saat cuaca ekstrem. Sikap yang lebih sehat adalah menganggap recall sebagai hak keselamatan: produsen wajib memperbaiki, pemilik wajib menindaklanjuti. Dalam jangka panjang, kombinasi regulasi tegas seperti di China, audit kualitas menyeluruh, dan pemilik yang responsif adalah satu-satunya cara membuat ekosistem EV lebih aman dari sekadar slogan.






