PIJAR: Program pemberdayaan disabilitas yang fokus pada kemandirian
Program Sahabat Inspiratif Pelindo – PIJAR adalah program pemberdayaan disabilitas netra berbasis pelatihan vokasi pijat tradisional yang dirancang untuk mengubah bantuan sosial menjadi kemandirian ekonomi jangka panjang melalui pelatihan terstruktur, sertifikasi, fasilitas praktik, dan pendampingan berkelanjutan.
Inti program pemberdayaan disabilitas ini sederhana namun strategis: keterampilan dulu, bantuan menyusul. PT Pelindo Sinergi Lokaseva (PT PSL), anak usaha BUMN kepelabuhanan, memperluas Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PIJAR ke Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Gajahmungkur, Semarang, dengan melatih 20 penyandang disabilitas netra sebagai terapis pijat tradisional. Pendekatan ini menolak pola “bagi-bagi bantuan” yang cepat menguap dan menggantinya dengan investasi jangka panjang pada kapasitas manusia. Sejak 2024, PIJAR menggabungkan pelatihan, sertifikasi, dan penyediaan alat bantu praktik bekerja sama dengan PERTUNI, memperlihatkan bahwa tanggung jawab sosial perusahaan bisa dioperasionalkan sebagai program vokasi yang terukur, bukan sekadar slogan di laporan tahunan.

Mengapa model TJSL BUMN ini berbeda dari CSR seremonial
Banyak program tanggung jawab sosial perusahaan berhenti pada seremoni penyerahan bantuan. PIJAR memilih jalur lain: membangun ekosistem inklusi masyarakat netra yang berjalan bertahap dan menyasar hasil nyata. Sejak 2024, program ini dimulai lewat kolaborasi dengan PERTUNI Cabang Jakarta Utara melalui pelatihan, sertifikasi pijat netra, dan pemberian alat bantu praktik. Pada 2025, PT PSL menambah fasilitas praktik pijat netra di Terminal Penumpang Nusantara Pelabuhan Tanjung Priok sebagai jembatan langsung ke pasar.
Kutipannya jelas: “Program Sahabat Inspiratif Pelindo – PIJAR kami yakini dapat menjadi sebuah sinergi dan kolaborasi untuk bersama-sama membangun ekosistem yang inklusif dan berkeadilan, di mana setiap individu memiliki kesempatan yang setara untuk tumbuh, berkarya, dan berkontribusi,” ujar Dewi Fitriyani. Di sini TJSL BUMN diposisikan sebagai instrumen perubahan sosial yang selaras dengan SDGs: Tanpa Kemiskinan, Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta Berkurangnya Kesenjangan. Inisiatif ini juga mendukung agenda pembangunan sumber daya manusia dan penguatan kesejahteraan masyarakat dalam Asta Cita pemerintah. Singkatnya, PIJAR adalah contoh bagaimana CSR bisa disambungkan langsung ke target pembangunan nasional.
Dari pelatihan ke pasar kerja: ukuran nyata dampak PIJAR
Kekuatan program pemberdayaan disabilitas ini terletak pada hasil yang bisa dihitung, bukan hanya niat baik. Sejak diluncurkan pada 2024 hingga kini, PIJAR telah menjangkau 70 penyandang disabilitas netra di Jakarta dan Semarang. Memasuki tahun ketiga, perluasan ke Karangrejo menambah 20 peserta baru yang dibekali pelatihan profesi terapis pijat tradisional. Rangkaian kegiatannya mencakup sosialisasi, pelatihan dan sertifikasi teknik pijat dasar, pendampingan, serta pemberian sarana pendukung.
Dampaknya terasa langsung di dompet peserta: sebagian alumni kini aktif memberikan layanan pijat secara mandiri maupun bekerja pada usaha kesehatan tradisional. Ketua PERTUNI Semarang, Achyani, menyebut program ini membuka peluang penghasilan mandiri bagi penyandang disabilitas netra. Di sisi lain, dukungan perlengkapan pelatihan dan praktik dirancang untuk menyiapkan peserta menjadi terapis pijat profesional dan memperkuat keberlanjutan usaha setelah program berakhir. Di sini, kemandirian ekonomi bukan jargon; ia dibuktikan lewat kapasitas yang meningkat dan akses nyata ke pasar jasa kesehatan tradisional.
Semarang sebagai laboratorium inklusi masyarakat netra
Perluasan PIJAR ke Semarang bukan sekadar ekspansi wilayah, melainkan pengujian model inklusi masyarakat netra dalam konteks kota yang berbeda. Di Kelurahan Karangrejo, PT PSL menggandeng PERTUNI Semarang dan Dinas Sosial setempat untuk memberdayakan 20 penyandang disabilitas netra melalui pelatihan pijat tradisional bersertifikat. Pemerintah kelurahan menyambut positif, menyebut keterampilan ini sebagai bekal untuk meningkatkan kesejahteraan dan perekonomian secara mandiri.
Desain programnya penting dicatat: selain pelatihan, peserta menerima pendampingan dan sarana pendukung yang menjadi modal awal praktik. Artinya, PIJAR tidak melempar lulusan ke pasar tanpa alat. Dukungan berlapis ini mengurangi risiko program berhenti begitu sertifikat dibagikan. Model TJSL BUMN seperti ini memperlihatkan bahwa inklusi sosial lebih efektif bila diarahkan pada sektor spesifik (dalam hal ini jasa pijat tradisional) dengan rantai nilai yang jelas dari pelatihan hingga layanan ke pelanggan.
Kemandirian sebagai arah utama TJSL BUMN ke depan
Pelajaran utama dari PIJAR: TJSL BUMN yang serius harus menempatkan kemandirian sebagai indikator keberhasilan, bukan jumlah paket bantuan yang disalurkan. Dewi Fitriyani menegaskan harapan agar peserta tidak hanya memperoleh keterampilan, tetapi juga mampu meningkatkan pendapatan dan membangun usaha berkelanjutan; PT PSL pun berkomitmen terus mengembangkan program pemberdayaan yang berdampak sosial dan ekonomi. Pemerintah kelurahan berharap program serupa menyasar UMKM dan potensi masyarakat lain di masa depan.
Ke depan, tantangannya ada pada replikasi dan penguatan rantai dukungannya: memperluas kolaborasi dengan organisasi disabilitas, memperbanyak titik fasilitas praktik, dan memastikan akses ke pasar jasa. Namun satu hal sudah terbukti: ketika tanggung jawab sosial perusahaan diarahkan pada keterampilan, sertifikasi, dan akses kerja, komunitas netra bergerak dari posisi penerima bantuan menjadi pelaku ekonomi. PIJAR menunjukkan bahwa kemandirian bukan bonus tambahan dari CSR, melainkan hasil yang bisa dirancang sejak awal program.






