Babak Baru VIVIZ di UNCORE: Kemenangan Hukum, Tantangan Identitas
Transition VIVIZ pindah agensi ke UNCORE menggambarkan babak baru bagi Eunha, SinB, dan Umji yang menang gugatan kontrak melawan Big Planet Made Entertainment namun kini harus menegosiasikan nasib nama grup mereka di tengah rencana comeback dan konsistensi aktivitas bertiga sebagai satu tim. Langkah ini terasa seperti paradoks khas industri K-pop: di satu sisi kebebasan kreatif akhirnya mereka raih, di sisi lain identitas yang sudah dibangun melalui nama VIVIZ justru terancam berubah. UNCORE mengumumkan kontrak eksklusif dengan ketiganya pada 5 Oktober, menegaskan dukungan penuh agar mereka tetap aktif sebagai satu grup. Namun, sorotan utama bukan sekadar perpindahan manajemen, melainkan pertarungan simbolis atas siapa yang berhak atas nama yang melekat pada karya dan memori penggemar. Bagi banyak fan, berita ini bukan hanya soal comeback, tetapi soal mempertahankan sejarah yang mereka ikuti sejak era GFRIEND hingga menjadi VIVIZ.

Dari Sengketa Kontrak ke Kebebasan: Mengapa VIVIZ Tinggalkan BPM
Keputusan VIVIZ pindah agensi tidak terjadi tiba-tiba; ia lahir dari serangkaian pelanggaran yang membuat hubungan dengan Big Planet Made Entertainment retak. Pada Maret, mereka resmi mengirim pemberitahuan penghentian kontrak eksklusif, menuding agensi gagal memenuhi kewajiban pembayaran dana hasil penjualan dan dukungan manajemen. BPM disebut menunda pembayaran hasil penjualan terakhir sekitar satu bulan pada November, lalu berhenti membayar sama sekali meski sudah berulang kali ditanyakan. Lebih dari soal uang, pembatalan sepihak mini album Januari dan rangkaian fan meeting paruh pertama tahun itu menunjukkan betapa rapuhnya prioritas agensi terhadap karier sang artis. Ironisnya, di tengah kekacauan tersebut, Eunha, SinB, dan Umji tetap menuntaskan seluruh jadwal hingga akhir Maret sebagai bentuk tanggung jawab kepada penggemar. Putusan pengadilan Seoul yang sepenuhnya mengabulkan permohonan penangguhan kontrak pada Juni mengkonfirmasi posisi mereka: trio ini tidak lagi terikat secara hukum dan berhak mencari rumah baru untuk karya mereka.
Nama VIVIZ di Ujung Tanduk: Risiko Mengganti Identitas Grup
Meski kontrak dengan UNCORE sudah aman, status penggunaan nama VIVIZ justru menjadi titik paling rawan. UNCORE mengakui bahwa negosiasi dengan agensi lama terkait hak atas nama belum mencapai kata sepakat karena perbedaan pandangan atas syarat yang diajukan. Di atas kertas, opsi mengganti nama mungkin terdengar praktis: asalkan Eunha, SinB, dan Umji tetap satu tim, apa pun labelnya. Namun secara emosional, ini menyentuh inti budaya K-pop, di mana nama grup adalah simbol kontinuitas dan memori kolektif. Sebagai alumni GFRIEND yang harus meninggalkan nama lama saat berganti agensi, mereka sudah sekali mengalami ‘penghapusan’ identitas. Jika kini K-pop nama grup berubah lagi, fan akan dipaksa memaknai ulang perjalanan mereka dari GFRIEND ke VIVIZ lalu ke potensi nama baru. UNCORE sendiri menyebut tengah mempertimbangkan tampil dengan nama tim baru demi kelancaran comeback secepat mungkin, bila negosiasi buntu.
Rencana Comeback dan Dinamika Trio: Kontinuitas di Tengah Ketidakpastian
Di balik drama nama, satu hal yang jelas: Eunha, SinB, dan Umji tidak berniat berpisah. UNCORE menegaskan bahwa ketiganya akan melanjutkan aktivitas bersama sebagai sebuah grup dan menerima dukungan penuh agar bisa kembali menjalani berbagai kegiatan sebagai tim. Nama grup serta rencana kegiatan selanjutnya akan diumumkan setelah persiapan dan pembahasan selesai, menandakan bahwa fokus manajemen adalah kecepatan dan stabilitas comeback, bukan sekadar menang adu gengsi soal branding. Secara artistik, mereka punya modal kuat: pengalaman sejak debut di GFRIEND pada 2015, lalu mengukuhkan trio VIVIZ pada 2022 melalui lagu seperti "BOP BOP!" dan "MANIAC". Ketika basis penggemar sudah terikat pada tiga sosok ini, keputusan UNCORE untuk menempatkan tim di garis depan, bukan nama, terasa masuk akal. Namun, tanpa kejelasan identitas resmi, setiap pengumuman jadwal baru akan dibayangi pertanyaan: apakah kita menyambut VIVIZ, atau versi ketiga dari grup yang sama dengan nama berbeda?
Kesimpulan: Di Atas Kertas Bebas, di Hati Masih VIVIZ
Perpindahan VIVIZ ke UNCORE adalah kemenangan penting atas ketidakpastian hukum, tetapi bukan akhir dari perjuangan mereka. Kontrak baru memberi jaminan aktivitas bersama dan dukungan manajemen, namun negosiasi nama menunjukkan bahwa dalam industri K-pop, kebebasan artis sering berbenturan dengan logika kepemilikan merek. Bagi penggemar, inti dukungan sudah bergeser: bukan lagi sekadar mengikuti nama di poster, tetapi mengikuti tiga individu yang konsisten menjaga profesionalisme bahkan saat agensi lama membatalkan rilisan dan fan meeting secara sepihak. Apakah pada akhirnya mereka tampil sebagai VIVIZ atau dengan identitas baru, babak UNCORE menandai pernyataan sikap yang tegas: Eunha, SinB, dan Umji memilih kontrol atas karier dan ritme comeback mereka, meski harus mempertaruhkan nama yang mereka bangun sejak 2022. Jika dulu GFRIEND berubah menjadi VIVIZ, mungkin kini fan harus siap menerima satu evolusi lagi—dengan keyakinan bahwa isi grup lebih penting daripada label di sampul album.






