Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Gangguan Makan pada Pria: Saat Stigma Gender Mengorbankan Nyawa

Gangguan Makan pada Pria: Saat Stigma Gender Mengorbankan Nyawa
Minat|Kesehatan Mental

Gangguan makan pria bukan pengecualian, melainkan sepertiga kasus

Gangguan makan pada pria adalah kondisi kesehatan mental serius yang melibatkan pola makan tidak teratur, pikiran obsesif tentang tubuh atau berat badan, dan perilaku kompensasi berbahaya, yang sering berakar pada tekanan sosial, internalized stigma, serta ideal maskulinitas yang sempit, dan bila tidak tertangani dapat berujung pada komplikasi fisik maupun psikologis berat. Fakta yang paling sering diabaikan adalah bahwa satu dari tiga orang dengan gangguan makan adalah laki-laki. Namun, narasi publik masih menggambarkan gangguan makan sebagai “penyakit perempuan”. Ini bukan sekadar miskonsepsi; ini adalah bias yang berbahaya. Ketika laki-laki tidak masuk dalam imajinasi kita tentang pasien gangguan makan, gejala mereka tidak dikenali, keluhan mereka dikecilkan, dan akses ke perawatan menjadi tertunda. Hasilnya, pria membayar harga yang lebih tinggi, termasuk risiko kematian yang lebih besar, hanya karena identitas gender mereka.

Gangguan Makan pada Pria: Saat Stigma Gender Mengorbankan Nyawa

Stigma gender kesehatan mental: dari salah kaprah ke bahaya medis

Stigma gender kesehatan mental bekerja halus namun mematikan. Laki-laki diajari bahwa tubuh mereka seharusnya kuat, tahan lapar, dan tidak rewel soal makanan. Gangguan makan pria kemudian dipandang tidak maskulin, seolah hanya anoreksia pada laki-laki yang “cukup ekstrem” baru layak disebut masalah. Di ruang praktik, bias ini menular ke klinisi. Artikel Dream menyoroti bahwa bahkan tenaga kesehatan kerap melewatkan tanda-tanda gangguan makan pada pria karena masih terjebak pada anggapan lama bahwa kondisi ini milik perempuan. Ketika gejala dianggap sekadar diet, latihan berlebihan, atau upaya “bulking”, deteksi dini gangguan makan pun gagal terjadi. Kita bukan kekurangan gejala, melainkan keberanian untuk mengakui bahwa standar gender yang kaku telah mengaburkan penilaian medis dan menormalisasi perilaku yang sebetulnya berbahaya.

Internalized stigma: ketika suara masyarakat menjadi suara di kepala

Internalized stigma membuat banyak pria menyerap pandangan diskriminatif tentang gangguan makan ke dalam cara mereka memandang diri sendiri. Mereka tidak hanya mendengar bahwa gangguan makan adalah “penyakit cewek”; mereka mulai percaya bahwa rasa sakit mereka tidak sah, bahwa mengakui gejala berarti gagal menjadi laki-laki. Ini menciptakan barrier psikologis yang kuat terhadap bantuan profesional. Model minority stress yang dijelaskan IDN Times menekankan bagaimana stigma yang dialami kelompok minoritas—termasuk pria LGBTQ dan laki-laki transgender—dapat memicu tekanan kronis, yang kemudian memperparah gangguan makan. Data Dream menunjukkan remaja LGBTQ dengan diagnosis gangguan makan punya peluang hampir empat kali lebih besar melakukan percobaan bunuh diri. Ketika rasa malu dan takut dihakimi menghalangi keterhubungan dengan komunitas dan dukungan sosial, gangguan makan tidak hanya bertahan, tetapi mengakar.

Lingkungan perawatan yang bias gender: pria merasa seperti tamu tak diundang

Bahkan ketika pria berhasil menembus tembok stigma dan mencari bantuan, mereka sering menemukan sistem yang tidak dirancang untuk mereka. Dream menggambarkan banyak program perawatan gangguan makan yang berfokus pada perempuan: kelompok terapi mayoritas perempuan, kurikulum citra tubuh yang berpusat pada kelangsingan, bukan pada tekanan membangun otot atau tubuh “ideal” maskulin. Tidak mengherankan bila banyak pasien pria merasa tidak pada tempatnya dan tidak dipahami. Ini bukan sekadar masalah kenyamanan; rasa terasing dapat melemahkan keterlibatan dalam terapi, meningkatkan risiko dropout, dan mengurangi efektivitas intervensi. Meski hasil perawatan secara umum disebut sebanding antara laki-laki dan perempuan, kesembuhan tetap lebih sulit dicapai bagi banyak pria. Selama pendekatan klinis tidak disesuaikan, kita menerima begitu saja bahwa mereka harus berjuang lebih keras di lingkungan yang tidak ramah.

Mengubah narasi: deteksi dini, edukasi, dan solidaritas lintas gender

Jika satu dari tiga kasus gangguan makan dialami pria, maka mengabaikan mereka adalah pilihan, bukan ketidaktahuan. Kita perlu mengubah narasi dari “ini bukan masalah laki-laki” menjadi “ini masalah semua manusia”. Deteksi dini gangguan makan pada pria hanya mungkin jika tenaga kesehatan menanggalkan stereotip, bertanya dengan bahasa yang sensitif gender, dan menganggap serius keluhan tentang pola makan, olahraga ekstrem, atau ketidakpuasan tubuh—bahkan ketika pasien terlihat “maskulin”. Di luar klinik, edukasi publik harus menyoroti bahwa veteran, laki-laki transgender, dan remaja LGBTQ memiliki risiko lebih tinggi, serta bahwa dukungan sosial dan lingkungan positif dapat mengurangi dampak minority stress. Pada akhirnya, melawan internalized stigma membutuhkan dua arah: pria yang berani mengakui kerentanannya, dan masyarakat yang berhenti menjadikan gender sebagai filter sah-tidaknya penderitaan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!