Kecemasan bukan kelemahan
Norma gender adalah aturan sosial tak tertulis tentang bagaimana seseorang diharapkan merasa, bertindak, dan menunjukkan emosi berdasarkan gendernya. Bagi banyak laki-laki, aturan itu hadir sebagai tuntutan untuk selalu kuat, berani, dan tidak memperlihatkan rasa takut sejak kecil. Akibatnya, kecemasan laki-laki kerap dianggap sebagai sesuatu yang harus disembunyikan, bukan pengalaman manusiawi yang patut dikenali.
Pengalaman seorang penulis berubah ketika teman-temannya menangis lega setelah mengetahui mereka naik kelas, dalam masa sekolah menengah atas. Tangisan itu menggoyahkan anggapan bahwa pria yang kuat harus selalu tampak tenang. Kecemasan sendiri punya fungsi: membantu seseorang mengantisipasi ancaman dan bersiap menghadapi kemungkinan. Kini pemicunya bisa berupa ujian, penerimaan teman sebaya, hubungan, atau ketidakpastian masa depan—hal-hal yang terasa sangat nyata bagi remaja.
Karena itu, masalahnya bukan apakah laki-laki boleh menahan tangis sesekali, melainkan apakah mereka punya pilihan selain memendam. Menekan ekspresi mungkin berguna dalam keadaan tertentu, tetapi jika menjadi kebiasaan kaku, hal itu dapat membatasi pemahaman diri dan komunikasi. Pria dan emosi tidak seharusnya dipertentangkan: mengakui rasa takut bukan tanda gagal menjadi laki-laki, melainkan langkah untuk meresponsnya dengan lebih baik.

Saat perempuan menangis, kebingungan bukan berarti tak peduli
Ketika melihat pasangan menangis, sebagian pria kebingungan karena tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan. Mereka mungkin mencoba memeluk, menghibur, atau mencari penyebab kesedihan. Jika usaha itu tak berhasil, rasa frustrasi dapat muncul dan membuat mereka merasa gagal menenangkan orang yang disayangi. Respons tersebut mudah disalahartikan sebagai sikap dingin, padahal kecanggungan dan kekhawatiran salah bertindak juga bisa berperan.
Norma gender ikut membentuk jarak itu. Pria yang dibiasakan menyembunyikan kesedihannya sendiri mungkin tidak memiliki banyak pengalaman menghadapi ekspresi emosi secara terbuka. Mereka bisa mengira tugasnya adalah menghentikan tangis atau segera menawarkan solusi. Namun, menganggap wanita menangis sebagai kerepotan yang harus dibereskan justru mengabaikan apa yang mungkin ia perlukan: kehadiran, perhatian, dan kesediaan untuk mendengarkan tanpa buru-buru memperbaiki keadaan.
Tidak semua pria pandai merespons tangisan, tetapi keterampilan itu bisa tumbuh lewat empati dan komunikasi. Bertanya dengan lembut, “Kamu ingin aku mendengarkan atau membantu mencari solusi?” memberi ruang bagi orang yang bersedih untuk menyatakan kebutuhannya. Cara ini juga membebaskan pria dari dugaan bahwa ia harus selalu tahu jawaban yang tepat.
Belajar mengenali emosi sejak remaja
Masa remaja membawa perubahan sekaligus ketidakpastian: seseorang mulai membangun identitas, mengembangkan kemandirian, dan mengambil keputusan penting. Pertemanan, hubungan romantis, prestasi akademik, penerimaan lingkungan, serta bayangan tentang masa depan dapat menjadi sumber kecemasan. Menepis perasaan remaja sebagai hal sepele tidak membantu; mereka membutuhkan kesempatan untuk mengenali apa yang dirasakan dan memikirkan cara meresponsnya.
Dalam program pengabdian kepada masyarakat di De Britto pada 22–28 Oktober 2026, tim Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada memperkenalkan kecemasan, mekanisme biologisnya, dan strategi regulasi emosi, termasuk grounding, kepada siswa kelas X. Grounding dapat membantu seseorang kembali terhubung dengan pengalaman saat ini, sehingga ada ruang untuk menilai situasi dan merespons emosi dengan lebih adaptif.
Pendidikan emosi bukan janji bahwa seseorang akan selalu tenang, dan keterampilan ini tidak menggantikan dukungan profesional bila diperlukan. Namun, bekal untuk mengenali dan mengungkapkan perasaan dapat membantu remaja mengambil keputusan sambil memahami emosi yang menyertai pilihan mereka. Harapannya, siswa memahami bahwa kecemasan pada laki-laki bukan kelemahan yang harus disembunyikan demi tuntutan maskulinitas.
Mengubah aturan, memperbaiki komunikasi
Dua situasi ini—laki-laki menyembunyikan kecemasan dan pria yang canggung saat wanita menangis—berakar pada pesan sosial yang sama: emosi tertentu dianggap tidak pantas ditunjukkan. Pesan itu merugikan semua pihak. Laki-laki kehilangan ruang untuk meminta dukungan, sementara orang yang menangis berisiko menerima solusi tergesa-gesa alih-alih didengarkan. Mengubah norma gender bukan berarti memaksa semua orang berekspresi dengan cara seragam; artinya, menyediakan pilihan yang lebih luas dan aman.
Keluarga, sekolah, dan pasangan dapat mulai dengan tidak mengejek rasa takut atau menganggap tangisan sebagai kelemahan maupun gangguan. Untuk pria yang menemani seseorang bersedih, perhatian tak harus tampil sebagai nasihat canggih: tanyakan apa yang dibutuhkan, dengarkan jawabannya, lalu hadir tanpa mengambil alih perasaan orang lain. Untuk laki-laki yang sedang cemas, mengakui keadaan itu kepada orang tepercaya bisa menjadi langkah awal, bukan kegagalan.
Pada akhirnya, kedewasaan emosional bukan kemampuan menahan semua rasa, melainkan kemampuan memahami dan menyampaikan perasaan dengan bertanggung jawab. Norma yang menuntut pria selalu kuat dan menganggap perempuan menangis merepotkan hanya mempersempit komunikasi. Kita perlu menggantinya dengan ruang bagi kecemasan, empati, dan percakapan yang jujur—agar tidak seorang pun harus menyembunyikan emosi demi memenuhi peran gender.






