Konektivitas dan pendidikan sebagai prioritas
Kunjungan Gubernur Kepri ke Anambas memperlihatkan bahwa pembangunan wilayah kepulauan perlu menghubungkan kebutuhan mobilitas warga dengan kesempatan belajar yang terjangkau. Dalam rangkaian agenda pada 6 dan 7 November 2026, Ansar Ahmad mengunjungi STAI Paduka Anambas lalu meresmikan pelabuhan apung di Desa Matak. Dua agenda ini menyasar hambatan yang berbeda, tetapi saling berkaitan: jarak antarpulau membatasi pergerakan orang dan barang, sementara terbatasnya perguruan tinggi dekat rumah dapat membebani keluarga yang ingin menyekolahkan anaknya. Karena itu, kunjungan tersebut lebih bermakna jika dinilai bukan dari seremoni, melainkan dari manfaat berkelanjutan bagi warga. Pelabuhan perlu membuat perjalanan dan distribusi lebih lancar; kampus perlu membuka akses pendidikan Anambas sekaligus berperan dalam pembangunan setempat.
Pelabuhan apung untuk mengurangi keterisolasian
Pada Sabtu, 7 November 2026, Ansar Ahmad meresmikan penggunaan Pelabuhan HDPE Matak, pelabuhan apung berbahan High Density Polyethylene di Desa Matak, Kecamatan Kute Siantan, Kabupaten Anambas. Peresmian ini penting karena konektivitas laut di kawasan perbatasan bukan sekadar urusan infrastruktur: kelancaran perjalanan memengaruhi akses warga ke pusat kegiatan, sementara jalur pasok yang lebih baik dapat membantu distribusi kebutuhan pokok. Ansar menyebut pelabuhan memadai diharapkan memperlancar mobilitas warga dengan lebih aman, terjangkau, dan efisien serta mengurangi hambatan pasokan barang. Namun, keberadaan dermaga saja tidak menjamin semua manfaat tersebut. Nilainya akan ditentukan oleh pemeliharaan dan layanan yang benar-benar mendukung perjalanan antarpulau. Jika digunakan secara andal, pelabuhan ini dapat menjadi pijakan bagi kegiatan perdagangan dan usaha lokal, bukan hanya penanda hadirnya pembangunan.

Kampus dekat rumah, peluang lebih terbuka
Sehari sebelum peresmian pelabuhan, Ansar dan rombongan mengunjungi Sekolah Tinggi Agama Islam Paduka Anambas sebagai bagian dari kunjungan kerja di kabupaten itu. Pesan utamanya tepat: perguruan tinggi di wilayah perbatasan perlu memberi ruang bagi putra-putri daerah untuk menempuh pendidikan berkualitas tanpa harus pergi jauh. Menurut Ansar, keberadaan kampus setempat dapat mengurangi beban biaya besar keluarga yang sebelumnya perlu menyekolahkan anak ke luar daerah. Pemerintah juga menyatakan dukungan bagi pembangunan sumber daya manusia melalui beasiswa untuk keluarga yang kurang mampu dan mahasiswa berprestasi. Dukungan tersebut penting, tetapi akses pendidikan Anambas tidak cukup diukur dari keberadaan kampus. Informasi beasiswa, dukungan belajar, dan peluang bagi mahasiswa setempat harus menjangkau mereka yang paling membutuhkan. Dengan begitu, kampus Anambas dapat menjadi pilihan nyata, bukan sekadar fasilitas yang ada di peta.

Dari fasilitas menuju manfaat jangka panjang
Ansar mendorong STAI Paduka agar tidak berhenti pada kegiatan akademik, tetapi ikut menjadi penggerak pembangunan sosial, ekonomi, dan budaya melalui riset, inovasi, serta pengabdian kepada masyarakat. Program seperti KKN Kebangsaan, sekolah perbatasan, dan pengabdian masyarakat disebut sebagai jalur untuk menyiapkan lulusan yang dapat menjadi agen perubahan. Arah ini layak didukung karena kampus lokal memiliki kedekatan dengan persoalan warga, sedangkan konektivitas laut yang lebih baik dapat membantu hubungan antarpulau. Meski demikian, hasilnya memerlukan kerja berkelanjutan: pelabuhan harus melayani kebutuhan perjalanan dan distribusi, sementara perguruan tinggi perlu menghubungkan pembelajaran dengan tantangan nyata di daerah. Agenda kunjungan Gubernur Kepri di Anambas menyatukan dua prasyarat pembangunan dari pinggiran—akses bergerak dan akses belajar. Keberhasilannya kelak akan terlihat pada manfaat sehari-hari yang dirasakan warga, bukan pada peresmian semata.







