Forum Iklim Perkotaan sebagai Panggung Strategi Kota Makassar
Forum iklim perkotaan adalah ruang pertemuan antarpemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat sipil yang membahas cara kota-kota merespons perubahan iklim melalui kebijakan tata kelola, mitigasi banjir urban, transisi energi kota, dan perencanaan ruang yang berkelanjutan, sehingga pembangunan tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi tetapi juga menjaga kualitas lingkungan dan ketahanan sosial jangka panjang. Urban Climate Forum (UCF) yang diselenggarakan di Pullman Jakarta Thamrin CBD pada 16–17 September menjadi contoh konkret, ketika sekitar 200 pemangku kepentingan berkumpul membahas transformasi perkotaan melalui aksi iklim dan tata kelola multilevel. Kehadiran Wakil Wali Kota Makassar Aliyah Mustika Ilham di panggung ini bukan sekadar seremoni; ini adalah pernyataan politik bahwa komitmen keberlanjutan Makassar mulai dijadikan agenda utama, bukan catatan kaki dalam rencana pembangunan.
Aliyah Mustika Ilham dan Diplomasi Iklim Kota Makassar
Dengan tampil langsung di Urban Climate Forum, Aliyah Mustika Ilham membawa posisi Makassar naik kelas: dari sekadar penerima dampak iklim menjadi aktor yang ikut membentuk arah kebijakan urban di tingkat regional. Urban Climate Forum 2026 mempertemukan pemerintah pusat, pemerintah daerah, jejaring kota, mitra pembangunan, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan sektor swasta dalam satu ruang diskusi yang intensif selama dua hari, diikuti sekitar 200 peserta. Di tengah forum yang mengusung tema "Advancing Urban Transformation through Climate Action and Governance", Aliyah menegaskan bahwa urusan iklim tidak bisa diserahkan kepada pemerintah saja; ia menuntut kolaborasi antara masyarakat, dunia usaha, dan kampus sebagai syarat agar kebijakan berkelanjutan benar-benar bergerak dari dokumen ke lapangan. Sikap ini penting: kota yang ingin serius menghadapi krisis iklim tidak boleh eksklusif dalam mengambil keputusan.
Komitmen Keberlanjutan Makassar: Antara Kata dan Arah Kebijakan
Makassar jelas ingin dikenal sebagai kota yang tidak hanya mengejar angka pertumbuhan, tetapi juga menjaga daya dukung lingkungan. Pemerintah kota menegaskan komitmennya mendorong pembangunan perkotaan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, dengan penekanan bahwa ekonomi dan ekologi harus berjalan beriringan. Aliyah menyebut Makassar berkomitmen pada pembangunan yang bertumbuh secara ekonomi sekaligus berkelanjutan dan mampu memberi manfaat bagi masyarakat, sebuah narasi yang menempatkan warga sebagai penerima manfaat utama, bukan korban pembangunan. Di forum iklim perkotaan ini, Makassar tidak datang untuk sekadar mengikuti arus; kota ini mencari praktik terbaik pengelolaan lingkungan, transportasi berkelanjutan, dan tata kelola kota yang mampu memperkuat ketahanan iklim. Pertanyaannya sekarang: sejauh mana komitmen keberlanjutan Makassar ini akan diterjemahkan menjadi indikator kinerja, anggaran, dan proyek nyata di tingkat kelurahan?
Transisi Energi Kota dan Mitigasi Banjir Urban sebagai Agenda Utama
Urban Climate Forum mengangkat isu transisi energi kota, ketahanan iklim, mobilitas berkelanjutan, pengelolaan sampah, hingga Voluntary Local Review dan pelokalan ASEAN Community Vision 2045 sebagai topik utama diskusi. Bagi Makassar, transisi energi bukan lagi wacana teknis, melainkan soal arah masa depan kota: apakah Makassar siap meninggalkan ketergantungan energi kotor dan membangun sistem energi yang lebih bersih, aman, dan terjangkau bagi warganya. Di sisi lain, mitigasi banjir urban muncul sebagai ancaman yang tak bisa diabaikan ketika Menko Bidang Infrastruktur menyoroti banjir, banjir rob, penurunan muka tanah, dan berkurangnya daya serap air di berbagai daerah. Jika Makassar ingin menjadi kota metropolitan yang berketahanan iklim, pengendalian banjir dan penataan drainase harus ditempatkan setara penting dengan proyek infrastruktur besar. Transisi energi dan mitigasi banjir adalah dua ujian paling nyata dari keseriusan komitmen keberlanjutan Makassar.
Jejaring, Pembelajaran, dan Jalan Panjang Menuju Kota Berketahanan Iklim
Manfaat terbesar partisipasi Makassar di forum iklim perkotaan bukanlah foto bersama para pejabat, melainkan akses ke jejaring dan pengetahuan yang bisa mengubah cara kota ini merencanakan masa depannya. Pemerintah Kota Makassar diharapkan memperkuat pertukaran pengetahuan, membangun kemitraan, dan membuka peluang kolaborasi untuk mendukung pembangunan kota yang berkelanjutan dan berketahanan terhadap perubahan iklim. Pemerintah kota juga optimistis dapat memperluas jejaring kemitraan, mengadopsi praktik terbaik pengelolaan kota, serta memperkuat posisi Makassar sebagai kota metropolitan yang adaptif. Namun, forum hanya awal. Tanpa tindak lanjut berupa regulasi, insentif, serta pelibatan warga dalam pengambilan keputusan, komitmen keberlanjutan Makassar bisa berhenti di tataran slogan. Kesimpulannya, kehadiran Aliyah di forum ini adalah langkah penting, tetapi ukuran keberhasilan sesungguhnya akan terlihat ketika banjir berkurang, kualitas udara membaik, dan warga merasakan langsung dampak transisi energi di lingkungannya.






