Literasi Kelautan Bukan Lagi Pelengkap, Tapi Fondasi Pesisir
Literasi kelautan siswa adalah upaya sistematis untuk menanamkan pemahaman, sikap peduli, dan keterampilan praktis terkait laut serta lingkungan pesisir melalui pendidikan, kegiatan komunitas, dan aksi nyata, sehingga generasi muda bukan hanya mengenal ekosistem maritim, tetapi juga mampu mengambil keputusan dan tindakan yang mendukung pelestarian lingkungan laut secara berkelanjutan. Di banyak wilayah pesisir, tema laut selama ini dianggap sekadar pengetahuan tambahan. Padahal, bagi komunitas yang hidup berdampingan dengan garis pantai, literasi kelautan mestinya menjadi kurikulum hidup. Dua inisiatif korporasi di sektor maritim menunjukkan perg shifting penting: laut tidak hanya ruang ekonomi, tetapi ruang pendidikan karakter dan pemberdayaan komunitas pesisir. Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah program seperti ini dibutuhkan, melainkan bagaimana memperluas dan memperdalamnya sebelum kerusakan ekosistem makin sulit dibalikkan.
Ocean LiteraSEA: Mengubah 61 Sekolah Pesisir Menjadi Laboratorium Laut
Program Ocean LiteraSEA yang digagas PT Pertamina International Shipping (PIS) bersama Inovasi Muda telah menjangkau 61 sekolah pesisir sejak 2023 dan melibatkan lebih dari 3.600 siswa serta menghasilkan 41 guru tersertifikasi. Ini bukan sekadar angka, melainkan indikasi lahirnya ekosistem pembelajaran baru di kawasan yang selama ini paling terdampak perubahan lingkungan laut. Menurut Pjs. Corporate Secretary PIS, Vega Pita, program ini adalah komitmen berkelanjutan untuk membangun masyarakat pesisir melalui edukasi dan aksi nyata menjaga laut. Revitalisasi 25 perpustakaan, pengelolaan 3,86 ton sampah, dan beasiswa untuk 15 pelaut muda menandakan pendekatan yang tidak berhenti pada buku dan ceramah, tetapi menyentuh perilaku dan masa depan ekonomi lokal. Ketika siswa di SDN Sarang Tiung mulai saling menegur agar tidak membuang sampah sembarangan dan membawa kebiasaan itu ke rumah, kita melihat bukti perubahan budaya, bukan acara seremonial.
Mariners Mengajar: Pendidikan Maritim Anak yang Dekat dengan Sungai
Jika Ocean LiteraSEA bermain di skala lintas sekolah, program Mariners Mengajar dari PT Pelindo Marine Service bekerja lebih lokal namun tak kalah strategis. Di RW 09 Kelurahan Tanah Kali Kedinding, Kenjeran, Surabaya, perusahaan ini mengajak anak-anak belajar menjaga lingkungan dalam momentum HUT ke-81 Kemerdekaan dengan tema “Kenjeran Wani Resik”. Pendekatan yang digunakan sederhana tapi efektif: edukasi kebersihan, lalu kegiatan mewarnai komik bertema kapal tunda sebagai pintu masuk pendidikan maritim anak. Menurut Direktur Keuangan, SDM, dan Manajemen Risiko Pelindo Marine, Lia Indi Agustiana, Mariners Mengajar merupakan kontribusi untuk pendidikan karakter, kepedulian lingkungan, dan literasi maritim generasi muda. Di kawasan yang berdekatan dengan bantaran sungai, Ketua RW menegaskan betapa pentingnya edukasi kebersihan bagi warga. Program ini menunjukkan bahwa literasi kelautan tidak harus rumit: yang penting relevan dengan keseharian dan memberi ruang anak untuk bermain sambil belajar.

Pemberdayaan Komunitas Pesisir: Sampah, Perpustakaan, dan Karier Maritim
Ocean LiteraSEA mengambil langkah berani dengan menjadikan sampah dan akses pengetahuan sebagai titik tumpu pemberdayaan komunitas pesisir. Pengelolaan 3,86 ton sampah dalam program ini bukan hanya soal angka, tetapi pesan tegas bahwa pelestarian lingkungan laut dimulai dari kebiasaan sehari-hari di darat. Revitalisasi 25 perpustakaan menjadikan sekolah pesisir sebagai pusat literasi kelautan siswa, di mana buku tentang laut berdampingan dengan cerita peluang profesi maritim masa depan. Chairwoman Inovasi Muda, Restu Andini, menegaskan bahwa literasi laut bukan hanya pengetahuan lingkungan, melainkan pintu untuk mengenalkan keterampilan dan peluang kerja maritim. Beasiswa bagi 15 pelaut muda memperkuat pesan ini: anak pesisir tidak harus menjadi penonton di pelabuhan tempat mereka tumbuh. Mereka bisa menjadi pelaku utama, selama pendidikan maritim anak dihubungkan langsung dengan jalur karier yang nyata.
Kesimpulan: Laut Sebagai Kelas, Bukan Latar Belakang
Jejak Ocean LiteraSEA dan Mariners Mengajar memperlihatkan satu hal: selama laut hanya dianggap latar belakang ekonomi, komunitas pesisir akan terus rentan. Saat laut diperlakukan sebagai kelas terbuka, siswa belajar melihat sampah sebagai ancaman, kapal sebagai teknologi, dan pesisir sebagai rumah yang harus dijaga. Momentum kemerdekaan yang dimanfaatkan Pelindo Marine untuk menanamkan kebiasaan membuang sampah pada tempatnya, serta investasi PIS pada generasi muda pesisir melalui sekolah, perpustakaan, dan beasiswa, menandai pergeseran penting: tanggung jawab pelestarian lingkungan laut dibagi sampai ke tingkat anak. Tantangannya sekarang adalah konsistensi dan replikasi. Jika pendekatan berbasis komunitas ini diperluas, literasi kelautan siswa bisa menjadi fondasi kebijakan maritim yang lebih adil, di mana suara pesisir bukan lagi pelengkap, melainkan penentu arah.






