Apa yang Diungkapkan Lonjakan Uang Primer
Uang primer adalah ukuran paling dasar dari likuiditas ekonomi yang mencakup uang tunai yang beredar dan simpanan bank umum di bank sentral, sehingga setiap perubahan pertumbuhannya mencerminkan denyut sistem keuangan, arah kebijakan moneter, dan cara pelaku ekonomi bertransaksi dalam keseharian mereka. Pada Juli 2026, uang primer Indonesia (M0) melonjak 17,1 persen secara tahunan, naik dari 13,8 persen bulan sebelumnya, dengan posisi mencapai Rp2.254,5 triliun. Angka ini bukan sekadar statistik; ini sinyal bahwa bank sentral dengan sadar menggelontorkan likuiditas lebih besar ke dalam sistem. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi bank sentral, Ramdan Denny Prakoso, mengaitkan lonjakan ini terutama dengan pertumbuhan giro bank umum yang disesuaikan serta kenaikan uang kartal beredar. Pertumbuhan moneter seperti ini menunjukkan upaya menjaga ekonomi tetap berputar di tengah perubahan cepat pada infrastruktur pembayaran.
Kontras: Uang Kartal Masih Tumbuh, Tapi Kalah Cepat
Di saat uang primer Indonesia melaju 17,1 persen, uang kartal beredar tertinggal di belakangnya. Uang kartal yang diedarkan tercatat tumbuh 14,03 persen (YoY) menjadi Rp1.315 triliun pada triwulan II-2026. Sementara itu, dalam perhitungan uang primer, uang kartal yang beredar disebut meningkat 15,1 persen secara tahunan. Perbedaan laju ini penting secara makro: likuiditas di neraca perbankan (giro di bank sentral) tumbuh lebih agresif daripada uang tunai fisik yang berputar di tangan masyarakat. Ini menandakan bahwa pertumbuhan moneter banyak terjadi di dalam sistem keuangan formal dan basis digital, bukan di dompet dan laci kasir. Kebutuhan terhadap uang tunai masih tinggi, tetapi pertumbuhan yang lebih lambat dibanding M0 menyiratkan bahwa uang kartal kehilangan dominasi sebagai medium utama transaksi, digantikan instrumen elektronik dan saldo digital.
Digitalisasi Pembayaran: Uang Tunai Mundur Selangkah, Bukan Menghilang
Pertumbuhan asimetris antara uang primer dan uang kartal beredar tidak bisa dilepaskan dari digitalisasi pembayaran yang kian pesat. Bank sentral sendiri menegaskan bahwa pertumbuhan 14,03 persen uang tunai menunjukkan kebutuhan uang kartal tetap tinggi di tengah gencarnya digitalisasi sistem pembayaran. Deputi Gubernur Ricky P. Gozali mengingatkan bahwa rupiah bukan hanya alat pembayaran, tetapi juga instrumen strategis penggerak ekonomi, baik dalam bentuk tunai maupun digital; rupiah disebut berdaulat sebagai satuan nilai dalam ekosistem pembayaran digital. Ini menggambarkan fase transisi: masyarakat beradaptasi dengan QRIS, dompet digital, dan transfer instan, namun masih mengandalkan uang tunai untuk konteks tertentu. Digitalisasi pembayaran bukan berarti menghapus uang fisik, melainkan menggesernya ke peran pelengkap dalam ekosistem yang semakin terhubung secara digital.
Dimensi Sosial: Dari Koin Pecahan Kecil hingga Pasar Tradisional
Di balik grafik pertumbuhan moneter, ada realitas sosial yang jauh lebih rumit. Asisten Gubernur sekaligus Kepala Departemen Pengelolaan Uang, Anwar Bashori, menjelaskan bahwa bank sentral tetap memproduksi pecahan kecil dan koin untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama saat hari besar keagamaan. Di sebagian wilayah, uang kecil sudah mulai tersisih oleh pembayaran digital, tetapi di daerah lain pasar tradisional tetap mengandalkan uang kartal dan perlu pasokan koin untuk penukaran. Artinya, digitalisasi pembayaran berlapis sangat tidak merata: kota besar melaju cepat, sementara wilayah yang belum terjangkau infrastruktur digital tetap hidup dengan uang fisik. Kebijakan moneter dan pengelolaan uang harus mengakomodasi kedua dunia ini sekaligus, agar transformasi tidak meninggalkan kelompok yang akses teknologinya terbatas.
Kebijakan Moneter di Tengah Transformasi Digital
Lonjakan uang primer tidak berdiri sendiri; ia adalah produk desain kebijakan. Bank sentral menyesuaikan perhitungan uang primer dengan memasukkan dampak insentif likuiditas sejak Januari 2025, agar dinamika likuiditas lebih tergambar akurat. Penyesuaian ini mengisolasi efek penurunan giro bank umum akibat pemberian insentif, sehingga angka M0 yang disajikan lebih mencerminkan pertumbuhan moneter yang sesungguhnya. Peningkatan M0 di Juli 2026 karenanya tidak hanya sinyal likuiditas perbankan yang longgar, tetapi juga bagian dari strategi moneter untuk menjaga kelancaran aktivitas ekonomi di tengah percepatan digitalisasi pembayaran. Festival edukasi seperti FERBI 2026 yang digelar 14–16 Agustus menjadi panggung untuk menunjukkan bagaimana pengelolaan uang rupiah berkembang ke arah yang lebih modern dan berkelanjutan. Ke depan, tantangannya jelas: menyeimbangkan kelimpahan likuiditas digital dengan kebutuhan uang tunai yang belum akan hilang.






