MCK Yamboi memasuki tahap akhir
MCK Kampung Yamboi adalah fasilitas mandi, cuci, dan kakus yang dibangun untuk memperluas akses sanitasi layak bagi warga Kampung Yamboi, Distrik Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan. Pembangunannya kini mencapai sekitar 85 persen dan memasuki tahap penyelesaian, sehingga perhatian perlu bergeser dari kecepatan kerja ke mutu hasil. Pada Minggu, 1 November 2026, Komandan Satgas TMMD ke-130 Kodim 1808/Manokwari Selatan meninjau langsung kondisi bangunan dan pekerjaan yang masih berlangsung. Sehari sebelumnya, personel Satgas bersama warga masih bergotong royong mempercepat pembangunan. Kedua perkembangan itu menunjukkan bahwa progres MCK TMMD sudah mendekati sasaran, tetapi angka 85 persen bukan alasan untuk mengendurkan pemeriksaan. Bagian akhir menentukan apakah fasilitas siap digunakan dengan aman dan nyaman, bukan sekadar tampak selesai.
Finishing harus menjaga fungsi, bukan hanya tampilan
Satgas TMMD mengoptimalkan pekerjaan finishing, termasuk menyempurnakan bagian bangunan yang masih memerlukan pengerjaan akhir, sembari mengejar penyelesaian sesuai target. Pilihan untuk tetap menaruh perhatian pada kualitas adalah langkah yang tepat: fasilitas sanitasi warga harus aman digunakan dan nyaman dalam jangka panjang, bukan hanya cepat diserahkan. Peninjauan Dansatgas juga menjadi kesempatan untuk mengevaluasi tahapan pekerjaan dan memastikan pembangunan berjalan sesuai rencana. Sumber tidak merinci jenis perlengkapan atau sambungan yang sedang dikerjakan, sehingga kesiapan fasilitas sebaiknya dinilai dari hasil pemeriksaan akhir, bukan asumsi tentang detail bangunan. Pembangunan MCK merupakan sasaran fisik TMMD ke-130 untuk mendukung kualitas sanitasi lingkungan di Kampung Yamboi. Karena itu, tahap akhir seharusnya memastikan seluruh bagian benar-benar layak dipakai sebelum warga mengandalkannya.
Manfaat bergantung pada akses dan perawatan warga
Nilai utama pembangunan MCK ini terletak pada manfaat sehari-hari: akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar, mendukung perilaku hidup bersih dan sehat, serta membuat lingkungan lebih nyaman. Namun, bangunan saja tidak menjamin perubahan jika pemanfaatan dan perawatannya diabaikan. Satgas berharap masyarakat menggunakan dan merawat MCK bersama agar tetap bersih dan dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang. Harapan itu menempatkan tanggung jawab setelah pembangunan pada dua pihak: Satgas menyelesaikan pekerjaan dengan teliti, sementara warga menjaga fasilitas setelah digunakan. Gotong royong antara personel dan masyarakat sudah terlihat dalam proses pembangunan; semangat yang sama perlu berlanjut dalam pemeliharaan. Dengan demikian, keberhasilan proyek tidak cukup diukur dari rampungnya konstruksi, melainkan dari akses yang benar-benar tersedia dan terjaga bagi warga.






