Ultra Marathon: Antara Euforia Kolektif dan Risiko Nyata
Ultra marathon adalah ajang lari jarak sangat jauh yang biasanya menempuh puluhan hingga ratusan kilometer, melibatkan ribuan peserta dengan beragam usia dan kondisi fisik, sehingga menuntut protokol kesehatan marathon, sistem ultra marathon keselamatan, dan event lari medical support yang jauh lebih ketat dibanding lomba lari biasa. Dalam konteks ini, ITB Ultra Marathon menjadi simbol gerakan sosial dan pendidikan yang menghubungkan olahraga, penggalangan Dana Lestari, serta pengabdian masyarakat di sepanjang rute Jakarta–Bandung sejauh 180 kilometer menuju Kampus Ganesha sebagai titik akhir lomba. Namun di balik narasi inspiratif dan semangat kolaborasi kampus, alumni, dan pemerintah, tragedi meninggalnya mahasiswa peserta relay mengingatkan bahwa safety standar running event tidak boleh dikalahkan oleh euforia, target donasi, atau ambisi memperbesar skala acara.

Tragedi Dody Muhammad Pasha di Tengah 5.216 Pelari
Di tengah 5.216 peserta yang ambil bagian dalam ITB Ultra Marathon, termasuk pelari lintas generasi dari usia belasan hingga 70 tahun, kabar duka datang dari jalur relay. Mahasiswa Teknik Pertambangan angkatan 2023, Dody Muhammad Pasha, meninggal dunia saat mengikuti kategori relay 16 pada Sabtu, 17 Oktober. Dalam kategori ini, setiap anggota tim menempuh sekitar 11,25 kilometer dari total rute 180 kilometer Jakarta–Bandung. Belasungkawa resmi disampaikan fakultas dan panitia, menegaskan bahwa ia adalah bagian dari keluarga besar akademik dan komunitas pelari. Fakta bahwa penyebab kematian belum diketahui tidak mengurangi bobot pertanyaan yang harus dijawab: apakah standar ultra marathon keselamatan dan protokol kesehatan marathon yang diterapkan sudah sepadan dengan risiko fisik dan medis yang dihadapi ribuan peserta muda dan lansia?

Saat Protokol Kesehatan dan Medical Support Diuji
Penyelenggara menegaskan perhatian khusus terhadap kesehatan dan keselamatan, termasuk kerja sama dengan AMP Unpad untuk pemantauan kondisi kesehatan peserta selama kegiatan berlangsung. Mereka juga menghadirkan teknologi live tracking melalui peta digital untuk memantau posisi pelari secara langsung dan mempercepat penanganan darurat, serta berkoordinasi dengan TNI dan Polri demi keamanan lintasan. Secara di atas kertas, ini tampak seperti event lari medical support yang cukup modern. Namun tragedi Dody menunjukkan bahwa protokol kesehatan marathon bukan hanya soal kehadiran tenaga medis dan teknologi, melainkan soal bagaimana sistem screening kesehatan, monitoring intensif, dan emergency response benar-benar bekerja pada level individu. Kutipan harapan pejabat agar peserta "selalu mengutamakan keselamatan" terasa timpang jika tidak diikuti evaluasi terbuka: apakah kapasitas tim medis, titik bantuan, dan alur evakuasi sudah memadai untuk 5.216 pelari dengan spektrum risiko yang sangat lebar?

Tanggung Jawab Penyelenggara: Dari Edukasi Risiko hingga Transparansi
ITB Ultra Marathon dibingkai sebagai gerakan sosial yang mendukung Dana Lestari, dengan klaim penggalangan lebih dari Rp2 miliar pada tahun sebelumnya dari ribuan donatur untuk beasiswa pendidikan. Narasi "bukan hanya berlari, tapi juga berdampak" memang kuat secara emosional. Namun semakin besar dampak sosial dan finansial sebuah event, semakin besar pula tanggung jawab moral dan operasional penyelenggara terhadap keselamatan peserta. Tanggung jawab itu bukan sekadar menyediakan medical support, tetapi juga mengedukasi peserta tentang risiko kesehatan, batas kemampuan fisik, dan konsekuensi ikut serta dalam ajang ekstrem. Kematian seorang mahasiswa muda menuntut transparansi: bagaimana proses persiapan fisik peserta, apa saja protokol kesehatan marathon yang diterapkan, dan bagaimana safety standar running event akan diperbaiki setelah insiden ini. Tanpa jawaban jelas, reputasi gerakan sosial yang dibangun bisa berubah menjadi pertanyaan etis yang sulit diabaikan.

Mengubah Tragedi Menjadi Momentum Perbaikan Keselamatan
Tragedi di ITB Ultra Marathon harus dibaca sebagai alarm keras bagi semua penyelenggara event lari jarak jauh. Mengandalkan semangat kebersamaan, teknologi live tracking, dan kerja sama lembaga saja tidak cukup jika ultra marathon keselamatan belum menjadi pusat desain acara. Ke depan, setiap event lari massal perlu menjadikan safety standar running event sebagai syarat utama: mulai dari seleksi kesehatan peserta, penentuan kategori yang realistis, hingga kapasitas tim medis dan skenario evakuasi yang teruji. Penyelenggara juga perlu berani membuka data, mengevaluasi insiden secara jujur, dan melibatkan komunitas medis dalam merumuskan protokol baru. Hanya dengan cara itu, ajang yang mengusung misi pendidikan dan pengabdian masyarakat bisa tetap berjalan tanpa mengorbankan nyawa peserta yang percaya bahwa mereka berlari dalam sistem yang aman dan bertanggung jawab.






