Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Mahasiswa ke Pelaut: Transformasi di KRI Wahidin Sudirohusodo

Dari Mahasiswa ke Pelaut: Transformasi di KRI Wahidin Sudirohusodo
Minat|Asia Tenggara

Saat Kampus Berpindah ke Laut: Definisi Sebuah Perjalanan

Perjalanan dari mahasiswa menjadi pelaut kapal perang adalah proses ketika identitas akademis diganti dengan peran praktis sebagai ABK kapal laut, memaksa seseorang meninggalkan kenyamanan ruang kuliah untuk hidup di ruang sempit, disiplin keras, dan ritme kerja tanpa henti di atas kapal, sambil belajar membaca aturan, ruang, dan manusia dalam satu ekosistem terapung yang tak menawarkan tombol jeda. Jumat, 11 September 2026, sekitar pukul 15.30 WIB, KRI dr. Wahidin Sudirohusodo-991 mulai bergerak dari Dermaga Semampir Baru, Ujung, mengawali perjalanan panjang yang mengubah cara lima dosen dan mahasiswa Untag Surabaya melihat diri mereka sendiri. Sejak peluit besar dibunyikan dan pekik “Jalesveva Jayamahe” menggema, mereka tidak lagi sekadar tamu; mereka resmi memasuki kehidupan sebagai pelaut kapal perang, dengan kapal sebagai rumah bergerak yang tidak mengenal kata pulang sejenak untuk mengambil barang yang tertinggal.

Dari Mahasiswa ke Pelaut: Transformasi di KRI Wahidin Sudirohusodo

Dari Surabaya ke Jakarta: Hari-Hari Pertama Menjadi Pelaut

Momen kapal menghadap ke timur menuju Suramadu, lalu “balik kanan” ke arah Jakarta, adalah metafor paling jujur tentang hidup yang berputar haluan. Lima orang dari Untag Surabaya, berdampingan dengan awak KRI dan personel satuan, mulai belajar bahwa pengalaman berlayar bukan wisata, melainkan kontrak tak tertulis dengan gelombang dan jadwal ketat. Sepiring nasi tumpeng yang diserahkan Komandan KRI, Kolonel Laut (P) Benedictus Hery Murwanto, kepada Ludfi, mahasiswa Teknik Arsitektur, menandai bukan sekadar slametan keberangkatan, tetapi pengesahan simbolik bahwa mereka kini bagian dari komunitas pelaut kapal perang. Rumah sakit terapung ini, dengan lorong bersih dan fungsional, mengajarkan satu pelajaran penting: steril bukan berarti nyaman; ruang klinis yang rapi bisa berubah menjadi arena adaptasi mental ketika setiap sudut bergoyang mengikuti arus laut.

Tiba-Tiba Menjadi ABK: Disiplin, Tempat Tidur, dan Lorong Tanpa Nama

Kehidupan sebagai awak kapal laut itu formal dimulai sejak perjalanan Surabaya–Jakarta; misi resmi boleh menunggu, tetapi ritme ABK tidak. Lorong-lorong berlantai biru dan dinding putih gading di KRI Wahidin Sudirohusodo (WSH)-991 memaksa mereka menghafal rute, karena kapal sepanjang 124 meter dan lebar 21,8 meter ini ibarat labirin terapung dengan enam dek plus main deck sebagai pintu keluar-masuk orang dan barang. Kutipan yang paling menggambarkan fase ini adalah: “Nah, apa yang harus kami hafalkan dan ‘amalkan’? Tentu, bagaimana hidup ala kelasi. Bagaimana tidur ala ABK. Bagaimana rutinitas harian pengawak kapal”. Di dek 5, satu lantai dengan komandan kapal, mereka belajar bahwa status akademis tidak ada artinya di ruang sempit dengan tempat tidur susun mungil; yang dihitung adalah kemampuan mengikuti aturan, menghormati hierarki, dan hadir tepat waktu di setiap apel.

Dari Mahasiswa ke Pelaut: Transformasi di KRI Wahidin Sudirohusodo

Dek 5: Dari Ruang Kuliah ke Ruang Makan VIP

Dek 5 menjadi kampus baru bagi para dosen dan mahasiswa Untag Surabaya. Di sinilah mereka tidur, makan, dan menyusun ulang identitas sebagai duta budaya dan calon pelaut kapal perang yang layak dipercaya. Kamar berkapasitas dua orang dengan tempat tidur susun rapi, meja kerja kecil, dan kamar mandi dalam, mengajarkan mereka bahwa kenyamanan kini diukur dari efisiensi, bukan luas ruangan. Kamar lain menampung 4–6 orang dengan kamar mandi di luar, di tengah lambung, memaksa kompromi harian soal privasi. Ruang makan VIP di arah haluan, dengan lima meja bundar dan minibar, bukan sekadar tempat makan; di sana Satgas Terpadu Port Visit 2026 merancang detail penampilan untuk empat negara tujuan, menjadikan meja makan sebagai ruang strategi, bukan hanya kantin santai.

Dari Mahasiswa ke Pelaut: Transformasi di KRI Wahidin Sudirohusodo

Port Visit, Identitas Baru, dan Makna Menjadi Pelaut

Ketika sebagian besar personel Satgas Terpadu Port Visit 2026 baru naik dari Jakarta dan Sorong, para akademisi Untag sudah lebih dulu belajar ritme kapal, dari hafalan lorong sampai etika ruang makan. Pengalaman berlayar ini mengungkap ironi: mereka berangkat sebagai tamu akademis, tetapi dipaksa matang sebagai ABK kapal laut, ikut menyiapkan diri sebagai duta budaya di Vanuatu, Fiji, Solomon Islands, dan Papua Nugini. Transformasi ini menegaskan bahwa misi Port Visit Pasifik bukan hanya agenda diplomasi, tetapi juga laboratorium karakter yang tak tersedia di ruang kelas. Kesimpulannya sederhana namun keras: jika kampus mengasah nalar, KRI Wahidin Sudirohusodo mengasah keberanian; dan keduanya, ketika bertemu di geladak kapal perang, melahirkan generasi yang tahu kapan harus berpikir, dan kapan harus berdiri tegak saat peluit panjang kembali dibunyikan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!