Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Keselamatan Fotografer Bencana: Latihan, Protokol, dan Nyali Sehat

Keselamatan Fotografer Bencana: Latihan, Protokol, dan Nyali Sehat
Minat|Gaya Fotografi

Fotografi bencana alam bukan heroisme, tapi disiplin keselamatan

Fotografi bencana alam adalah praktik jurnalistik visual yang mendokumentasikan dampak dan dinamika peristiwa berbahaya—seperti kebakaran hutan, banjir, atau evakuasi satwa—dengan mengutamakan keselamatan fotografer jurnalis melalui pelatihan liputan bencana, kesiapan fisik, dan protokol keselamatan fotojurnalis yang ketat. Di Pontianak, Pewarta Foto Indonesia (PFI) menjadikan isu ini agenda utama lewat sharing session “Di Balik Lensa Bencana Alam” yang digelar di Everyone Cafe pada Selasa malam. Sikap organisasi ini tegas: tanpa budaya keselamatan, liputan bencana mudah bergeser dari kerja jurnalistik menjadi aksi nekat. Penekanan pada pelatihan khusus dan kondisi tubuh yang prima bukan tambahan opsional, melainkan fondasi. Kita perlu mengakui, foto dramatis tidak pernah sepadan dengan kehilangan nyawa di lapangan.

Keselamatan Fotografer Bencana: Latihan, Protokol, dan Nyali Sehat

Pelatihan liputan bencana: syarat wajib sebelum menginjak zona merah

PFI Pontianak mengirim pesan yang sulit dibantah: jurnalis tidak boleh masuk area bencana tanpa pelatihan khusus dan kesiapan fisik yang memadai. Willy Kurniawan menegaskan, “Safety kita sendiri itu penting dalam peliputan. Untuk meliput tempat-tempat yang mengandung bahaya, harus ada pelatihan dulu”. Pelatihan liputan bencana meliputi pemahaman risiko medan, perilaku api pada karhutla, manajemen paparan asap, hingga prosedur evakuasi mandiri ketika situasi memburuk. Di sisi lain, kesehatan yang prima menjadi prasyarat agar tubuh mampu merespon tekanan fisik dan mental di lapangan, seperti berjalan jauh di lahan gambut terbakar atau bertahan dalam kabut asap pekat. Mengabaikan aspek ini bukan soal keberanian, melainkan kelalaian. Organisasi profesi seharusnya menjadikannya standar, bukan sekadar rekomendasi.

Protokol keselamatan fotojurnalis: dari masker hingga perizinan satwa

Dalam fotografi bencana alam, protokol keselamatan fotojurnalis bukan daftar aksesori keren, tetapi garis hidup yang melindungi pewarta dari bahaya yang acap tidak terlihat. Ketua PFI Pontianak, Jessica Helena Wuysang, menekankan bahwa pewarta harus memahami objek dan kondisi lapangan, memastikan kesehatan, serta menyiapkan perlengkapan pelindung diri sebelum meliput. Untuk kebakaran lahan, itu berarti masker, kacamata, dan sepatu boots sebagai perlindungan minimum terhadap asap dan medan berat. Pada peliputan yang menyangkut orangutan, Willy menjelaskan adanya prosedur khusus: setiap pihak wajib mengurus izin terlebih dahulu kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam sebelum ke lokasi. Protokol seperti ini sering dianggap birokrasi penghambat, padahal merupakan sistem perlindungan bagi jurnalis, satwa, dan kredibilitas liputan.

Kamera selalu siap, tapi nyawa tetap prioritas

Willy menyebut kamera sebagai “senjata utama” pewarta foto dan mengaku membawanya ke mana pun pergi, bahkan ketika ke toilet, karena momentum bencana tidak pernah bisa diprediksi. Sikap siaga ini penting dalam fotografi bencana alam, namun PFI Pontianak mengingatkan bahwa senjata utama sesungguhnya adalah kesadaran risiko. Dalam liputan karhutla di Ketapang, Willy mendokumentasikan lahan terbakar, aktivitas masyarakat, satwa terdampak, hingga upaya pemadaman api. Semua itu dilakukan dengan memahami bahwa keselamatan diri adalah aspek paling penting ketika berada di lokasi berbahaya. Jurnalis hadir untuk melihat langsung dan menyampaikan situasi kepada publik, bukan menjadi korban tambahan. Jika protokol keselamatan fotojurnalis diabaikan demi “mendapat angle terbaik”, praktik tersebut telah keluar dari etika profesi.

Teknologi tidak menggantikan jam terbang dan kepekaan manusia

Di era kamera canggih dan sensor beresolusi tinggi, mudah tergoda berpikir bahwa teknologi akan menyelesaikan semua tantangan fotografi bencana alam. PFI Pontianak justru menekankan sebaliknya: kemampuan mendapatkan momentum terbaik tidak punya metode baku dan hanya bisa diasah lewat pengalaman panjang serta jam terbang. “Semua harus melewati pengalaman panjang,” ujar Jessica Helena Wuysang. Pengalaman mengajarkan batas aman, intuisi terhadap perubahan arah angin saat karhutla, membaca bahasa tubuh satwa yang stres, dan kapan harus mundur meski adegan tampak sangat dramatis. Inilah faktor manusia yang tidak bisa digantikan sensor atau algoritma. Kesimpulannya jelas: pelatihan liputan bencana dan protokol keselamatan fotojurnalis harus berjalan seiring dengan pengasahan kepekaan manusia. Foto kuat lahir dari perpaduan etika keselamatan, keahlian, dan nyali yang terukur—bukan dari ketololan nekat.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!