Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Rumput Purun ke Wastra Kriookng: Warisan Alam Jadi Cuan

Dari Rumput Purun ke Wastra Kriookng: Warisan Alam Jadi Cuan
Minat|Industri Fashion

Kerajinan tradisional lokal: dari warisan alam ke model bisnis

Kerajinan tradisional lokal yang memanfaatkan bahan alam—seperti wastra Dayak Tunjung dan rumput purun tas—adalah praktik mengolah material warisan leluhur menjadi produk tekstil alam dan aksesori fungsional bernilai ekonomi, yang sekaligus menjaga identitas budaya, membuka penghasilan bagi pengrajin perempuan Indonesia, dan mendukung kelestarian lanskap tempat bahan tersebut tumbuh. Di tengah isu keberlanjutan yang kian mengisi percakapan sehari-hari, arah transformasi ini bukan sekadar tren gaya hidup ramah lingkungan, melainkan koreksi atas cara kita memandang nilai sebuah tradisi. Bahan yang dulu dianggap sederhana terbukti bisa menopang ekonomi kreatif yang berkelanjutan, selama ada inovasi desain dan akses pasar. Pertanyaannya bukan lagi apakah kerajinan tradisional layak dijadikan bisnis, tetapi apakah kita masih bisa mengabaikan potensinya.

Wastra Kriookng Dayak Tunjung: identitas budaya yang jadi omzet

Kisah Lydia Selvi menunjukkan bahwa wastra Dayak Tunjung bukan sekadar kain upacara, melainkan fondasi usaha yang hidup dan berkembang. Wastra Kriookng khas Suku Dayak Tunjung di Kutai Barat telah bergeser dari kerajinan tradisional lokal menjadi produk bernilai ekonomi yang digarap serius selama 16 tahun. Salah satu perajin yang konsisten menghidupkannya adalah Lydia, yang kini memproduksi sekitar 10 stel pakaian Kriookng per bulan dengan melibatkan 10 pekerja, dan meraih omzet sekitar Rp30 juta per bulan. Dulu, saat semua dikerjakan manual, satu stel pakaian lengkap dengan aksesori dijual sekitar Rp1,5 juta dengan pendapatan hanya sekitar Rp3 juta per bulan. Peralihan ke penggunaan mesin jahit bukan menghilangkan ruh tradisi, tetapi mengakui bahwa keberlanjutan budaya butuh efisiensi. Sikap Lydia tegas: menjaga Kriookng berarti memberi ruang bagi generasi muda untuk memakainya, mengusahakannya, dan menghidupinya sebagai bagian dari ekonomi, bukan museum.

Rumput purun tas: tanaman rawa yang naik kelas jadi aksesori jutaan

Rumput purun adalah contoh telak bahwa produk tekstil alam bisa naik kelas ketika perajin bertemu pasar modern. Purun yang tumbuh alami di lahan basah, termasuk gambut dan rawa, telah lama dibuat menjadi anyaman sehari-hari oleh masyarakat Kalimantan Selatan. Tetapi baru ketika gagasan menjadikannya tas, aksesori, tech organizer, document pouch, dan kebutuhan rumah tangga muncul, nilai ekonominya melompat. Material yang dulu dianggap biasa tiba-tiba tampil sebagai rumput purun tas bernilai jutaan rupiah, menyasar konsumen yang peduli gaya sekaligus keberlanjutan. Di balik estetika, ada pesan serius: lahan basah tempat purun tumbuh menyimpan cadangan karbon besar dan berperan menjaga tata air; memuliakan purun berarti memberi insentif agar lanskap itu tidak dikeringkan atau dialihfungsikan sembarangan. "Dengan menciptakan nilai ekonomi dari purun, kami ingin membantu membangun insentif agar masyarakat tetap melihat nilai dari lanskap tempat purun tumbuh," ujar Alexandra Christy Untono.

Dari Rumput Purun ke Wastra Kriookng: Warisan Alam Jadi Cuan

Gaia Weave dan pengrajin perempuan: ekonomi kreatif yang mengalir dari rumah

Transformasi purun menjadi bisnis tidak terjadi begitu saja; ada wirausaha sosial yang menjahit keterampilan tradisi dengan kebutuhan pasar. Melalui Gaia Weave, yang didirikan Alexandra Christy Untono pada 2025, rumput purun diolah menjadi produk modern dan fungsional, sekaligus membuka peluang penghasilan bagi pengrajin perempuan Indonesia. Kuncinya ada pada desain yang relevan dan pola kerja yang realistis: keterampilan menganyam dilakukan dari rumah, tanpa harus meninggalkan pekerjaan utama. Kasus Ibu Idang menggambarkan dampaknya. Sebelum bergabung, ia mengandalkan tani musiman dengan penghasilan sekitar Rp40.000–Rp50.000 per hari; setelah menjadi perajin purun, ia mendapat tambahan sekitar Rp80.000–Rp100.000 per hari. Kemitraan Gaia Weave dengan 126 perajin di 15 desa disebut mampu meningkatkan pendapatan sekitar 100–150%, dari Rp1 juta–Rp1,5 juta menjadi Rp2,7 juta–Rp3 juta per bulan. Ini bukan program bantuan; ini model ekonomi kreatif berbasis komoditas lokal yang mengakui nilai keterampilan perempuan dan membayar mereka layak.

Dari Kutai Barat ke lahan basah purun: arah baru ekonomi kreatif berbasis alam

Jika digabung, wastra Kriookng dan rumput purun menunjukkan arah baru: ekonomi kreatif berbasis komoditas lokal bisa sekaligus menguntungkan dan berkelanjutan. Di satu sisi, Lydia Selvi membuktikan bahwa warisan keluarga berupa motif melubangi (ngereok) bisa tumbuh menjadi usaha dengan 10 pekerja dan omzet puluhan juta, tanpa memutus akar budaya Dayak Tunjung. Di sisi lain, Gaia Weave menegaskan bahwa keterampilan menganyam dari rumah mampu menggandakan penghasilan perajin perempuan, sambil mengisi rak konsumen modern dengan produk tekstil alam yang ramah lingkungan. Keduanya berbagi pelajaran penting: tradisi baru berarti ketika kita berhenti memeliharanya hanya di ritual dan mulai mengizinkannya bernegosiasi dengan pasar. Ke depan, tantangannya bukan sekadar memperluas penjualan, tetapi memastikan nilai budaya dan ekologi tetap menjadi inti narasi. Kalau pasar dibiarkan berjalan tanpa cerita, Kriookng dan purun bisa tergelincir menjadi sekadar motif dan bahan. Tugas kita adalah memastikan mereka tetap dikenali sebagai identitas dan lanskap yang layak diperjuangkan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!