Dari Ikan Sisa ke Produk Premium: UMKM Mengubah Laut Jadi Cuan

Dari Ikan Sisa ke Produk Premium: UMKM Mengubah Laut Jadi Cuan
Minat|Memasak

Olahan ikan UMKM: definisi baru nilai tambah dari laut

Olahan ikan UMKM adalah rangkaian produk pangan berbasis hasil laut dan perikanan, termasuk bagian utama dan limbah seperti kulit atau tulang, yang diubah pelaku usaha kecil menjadi produk nilai tambah siap konsumsi dengan cita rasa, bentuk, dan daya simpan baru untuk meningkatkan pendapatan sekaligus konsumsi ikan masyarakat. Di banyak desa, definisi ini bukan lagi teori, tetapi realitas yang lahir dari dapur para ibu dan pengusaha lokal. Mereka tidak menunggu pabrik besar, melainkan memanfaatkan apa yang ada: lele, tongkol, ikan kakap barakuda, hingga limbah ikan nila. Hasilnya adalah nugget, keripik, abon, dan aneka camilan yang tampak modern meski lahir dari bahan yang dulu dipandang sebelah mata. Intinya, nilai bukan ada di ikannya, melainkan di cara UMKM mengolahnya.

Lele dan tongkol: dari lauk murah jadi nugget ikan lele kekinian

Transformasi paling terasa terlihat di Desa Banjarejo, ketika Tim PKM-B FPIK UB Kelompok 12 mengenalkan resep nugget ikan lele dan tongkol melalui program sosialisasi gizi dan demo masak dalam kegiatan pengabdian masyarakat PKM-Bahari 2026. Selama ini lele identik dengan pecel lele goreng dan tongkol hanya jadi lauk sambal, tetapi di tangan kreatif mahasiswa dan ibu-ibu PKK, keduanya disulap menjadi nugget gurih yang digemari warga.

Menariknya, mereka memanfaatkan keunggulan gizi masing-masing: dalam 100 gram lele terdapat sekitar 240 kalori, 14,53 gram lemak, 8,54 gram karbohidrat, dan 17,57 gram protein, sementara tongkol hanya 110 kalori dengan 0,92 gram lemak dan 23,87 gram protein. Kombinasi ini menciptakan nugget ikan lele yang teksturnya mirip nugget ayam, tapi dengan bonus omega-3 dan tanpa duri yang menakutkan anak-anak. Sejumlah ibu PKK mengaku terkejut karena rasanya enak dan gurih tanpa bau amis, mematahkan stigma bahwa olahan ikan UMKM kalah kelas dibanding produk pabrikan.

Eva dan 3Dara1Putra: kakap, barakuda, dan lahirnya camilan laut modern

Jika Banjarejo bermain di nugget, Eva memilih jalur camilan laut. Berbekal warisan keluarga nelayan dari Demak, ia mendirikan usaha 3Dara1Putra dan mengembangkan hasil laut kampung halamannya menjadi produk olahan ikan UMKM bernilai jual tinggi. Di kampungnya, para bapak melaut sementara para ibu mengolah tangkapan menjadi ikan asin barakuda dan kulit ikan kakap. Tradisi inilah yang ia bawa ke kota, tapi dengan pendekatan yang lebih modern.

Salah satu inovasi utamanya adalah mengolah kulit ikan kakap menjadi kerupuk beraneka rasa, sehingga masyarakat dapat menikmati kulit ikan dalam bentuk camilan renyah dan praktis. Ikan kakap barakuda yang dulu hanya hadir sebagai bahan ikan asin rumahan, kini tampil sebagai produk nilai tambah dengan branding jelas dan cita rasa yang disesuaikan dengan lidah konsumen urban. Eva juga mengolah ikan barakuda yang selama ini kurang diminati menjadi ikan asin garing siap saji, mengubah predator laut menjadi lauk favorit di meja makan.

Dari Ikan Sisa ke Produk Premium: UMKM Mengubah Laut Jadi Cuan

Nining Sundawati dan Ba Lamok: dari ikan pepija ke pasar lintas batas

Cerita berbeda datang dari Nining Sundawati, pemilik brand “Ba Lamok”. Perjalanannya dimulai pada 2012 ketika ia mendapat ikan pepija (ikan nomei) dari keluarga dan tetangga, lalu mengolahnya menjadi camilan crispy ikan tipis untuk dibagikan kembali. Respons positif membuatnya sadar: camilan rumahan berbasis hasil perikanan bisa menjadi produk nilai tambah yang serius. Saat olahan ini diikutsertakan dalam lomba Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) hingga tingkat nasional, Nining berhasil meraih juara tiga, membuka jalan baginya untuk menekuni usaha UMKM secara lebih terarah.

Didukung pemerintah kota dan sebuah BUMN, Nining terus belajar serta berinovasi hingga produk Ba Lamok yang berbahan dasar hasil perikanan Kaltara dikenal luas bahkan sampai ke negara tetangga Malaysia. Ini menunjukkan bahwa olahan ikan UMKM tidak berhenti pada pasar lokal; dengan kualitas dan cerita yang kuat, camilan sederhana bisa menembus pasar lintas batas. Nama “Ba Lamok” sendiri diambil dari bahasa Tidung, “Ba” berarti sangat, “Lamok” berarti enak, yang secara tidak langsung menjanjikan pengalaman rasa di setiap kemasan.

Dari Ikan Sisa ke Produk Premium: UMKM Mengubah Laut Jadi Cuan

Limbah ikan nila: tetelan jadi nugget, keripik, abon dan mesin ekonomi desa

Sementara itu di Simalungun, paradigma tentang limbah ikan nilak mendapat tantangan serius. Di dapur produksi sederhana milik Ibu Mulyani, tetelan dan tulang ikan nila yang selama ini dibuang mulai diolah menjadi nugget, keripik, dan abon siap saji. Demo pengolahan yang digelar pada Jumat, 28 Agustus 2026 mempertemukan komunitas MARSADA, para pelaku UMKM setempat, dan PT Sari Tani Pemuka, anak perusahaan PT Japfa, dengan satu tujuan: membangun ekonomi desa dengan menjadikan tetelan ikan nila sebagai produk unggulan.

Dari bahan yang tadinya dianggap sisa, kini muncul produk bernilai jual yang memperbaiki efisiensi produksi dan menambah sumber pendapatan bagi keluarga pelaku UMKM. Demo ini juga menjadi awal kerja sama resmi antara UMKM MARSADA binaan Rospita Purba dan PT Sari Tani Pemuka, membuka jalan kemitraan yang memperluas pasar dan memperkuat mental bisnis pelaku usaha kecil. Efeknya berantai: pasar lebih luas terbuka, lapangan kerja bertambah, dan inovasi lokal bermunculan dari dapur-dapur desa. Limbah ikan nila tidak lagi identik dengan sampah, melainkan bahan baku strategis.

Dari dapur ke pasar: strategi UMKM ikan olahan untuk naik kelas

Rangkaian kisah ini menunjukkan pola yang sama: olahan ikan UMKM yang berhasil selalu menggabungkan bahan lokal, inovasi resep, dan keberanian mem-branding. Di Banjarejo, mahasiswa tidak hanya mengajarkan resep nugget ikan lele dan tongkol, tetapi berharap agar resep itu dipraktikkan ulang hingga menjadi rutinitas baru di dapur warga. Eva memulai dari penjualan bahan mentah lalu beralih ke produk siap konsumsi setelah mendapat pendampingan, seminar, dan kesempatan ikut bazar melalui program pengembangan wirausaha, yang menempanya untuk konsisten berinovasi dan tidak mudah menyerah.

Nining mengandalkan lomba UP2K dan pembinaan lembaga untuk memperkuat kualitas produknya, sementara UMKM Simalungun memanfaatkan kemitraan dengan perusahaan untuk memastikan pasokan limbah ikan nila stabil dan saluran distribusi lebih terarah. Harapannya, pola-pola ini ditiru lebih banyak desa: bahan yang kurang akrab di keseharian warga bisa disulap menjadi sesuatu yang menarik, bergizi, dan menguntungkan. Pada akhirnya, kunci naik kelas bukan sekadar resep rahasia, melainkan keberanian melihat “ikan sisa” sebagai aset, bukan beban.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!