Transjakarta Ekspansi ke Makassar: Lebih dari Sekadar Tambah Armada
Transjakarta ekspansi Makassar adalah rencana kerja sama antara Pemerintah Kota Makassar dan PT Transportasi Jakarta untuk menghadirkan sistem bus terintegrasi yang nyaman, terhubung, dan disesuaikan dengan kebutuhan mobilitas perkotaan warga Makassar, sebagai pelengkap dan bukan pengganti layanan transportasi publik Makassar yang sudah ada. Langkah ini bukan sekadar menghadirkan bus baru, melainkan mengubah cara kota timur ini mengatur pergerakan jutaan orang setiap hari. Di balik rapat daring dan istilah teknis, intinya sederhana: Makassar mulai sadar bahwa tanpa sistem bus terintegrasi yang direncanakan serius, pertumbuhan kota akan tercekik oleh kemacetan dan layanan angkutan yang tidak saling terhubung. Melalui zoom meeting antara Wali Kota Munafri Arifuddin dan manajemen Transjakarta pada 21 Agustus 2026, Makassar resmi menyatakan ketertarikan untuk menggandeng operator bus terbesar di Jakarta sebagai mitra strategis. Ini adalah sinyal politik sekaligus teknis bahwa kota siap keluar dari pola lama yang mengandalkan angkutan parsial dan mulai membangun jaringan transportasi publik yang menyatu, dari terminal Regional Daya hingga Terminal Mallengkeri.
Kenapa Makassar Membutuhkan Sistem Bus Terintegrasi Sekarang
Jika ada kota yang mendesak membutuhkan sistem bus terintegrasi, Makassar ada di daftar teratas. Munafri mengingatkan, penduduk kota ini sekitar 1,4 juta jiwa pada malam hari, dan melonjak mendekati 2 juta di siang hari karena arus keluar-masuk setiap harinya. Tanpa transportasi publik Makassar yang kuat, lonjakan mobilitas perkotaan seperti ini akan menghasilkan kemacetan kronis dan biaya waktu yang semakin mahal bagi warga. Saat ini sudah ada layanan Trans Sulsel yang melintasi ruas jalan utama kota. Namun layanan koridor provinsi saja tidak cukup menjangkau kawasan permukiman, pusat ekonomi baru, dan simpul aktivitas yang tumbuh cepat. Ambisi Munafri menghadirkan sistem bus terintegrasi yang mampu menghubungkan sejumlah kawasan di Makassar tanpa menimbulkan tumpang tindih dengan layanan lokal adalah sikap yang tepat: pemerintah mengakui bahwa jaringan yang rapi, bukan sekadar penambahan rute acak, adalah kunci mobilitas perkotaan yang sehat. Dalam konteks ini, Transjakarta ekspansi Makassar bukan “kemewahan”, melainkan kebutuhan struktural untuk menjaga kota tetap bergerak dan kompetitif.
Tim Kajian: Menentukan Wajah Transportasi Publik Makassar ke Depan
Bagian paling penting dari rencana ini justru bukan armada atau halte, melainkan tim kajian yang dibentuk bersama Transjakarta. Munafri menyatakan, langkah awal yang diambil adalah membentuk tim untuk mengkaji dari awal sehingga proses perjalanan terkawal dengan baik. Pernyataan ini menunjukkan kesadaran bahwa sistem bus terintegrasi tidak bisa diimpor begitu saja; ia harus tumbuh dari kebutuhan spesifik lapangan. Tim ini akan mempelajari kesesuaian konsep, kebutuhan, dan skema paling tepat untuk Makassar sebelum menyentuh tahap bentuk kerja sama maupun operasional layanan. Di sisi lain, Perumda Terminal Makassar Metro dan Dinas Perhubungan memegang peran sentral untuk menyinkronkan regulasi dan rute yang akan dilalui Transjakarta di kota ini. Jika kajian dilakukan serius—melibatkan data perjalanan harian, pola permukiman, hingga potensi konflik dengan angkutan lokal—kolaborasi ini berpeluang menjadi contoh bagaimana kota menata ulang transportasi publik Makassar dengan kepala dingin, bukan dengan keputusan instan yang mengabaikan realitas sosial di jalan.
Dari Zoom Meeting ke Perubahan Nyata Mobilitas Perkotaan
Rapat perdana Munafri dengan Direktur Utama Transjakarta, Welfizon Yuza, yang menghadirkan jajaran perencanaan, keuangan, pendapatan daerah, dan perhubungan, adalah titik awal yang penting. Di situ pemerintah kota menyampaikan ekspektasi terhadap pengembangan sistem layanan bus terintegrasi dan mempelajari berbagai skema yang pernah diterapkan Transjakarta. Namun pertemuan itu belum masuk ke penentuan bentuk kerja sama maupun operasional layanan; keduanya sepakat pembahasan lanjut diperlukan untuk memastikan konsep yang paling pas bagi Makassar. Bagi warga, dampak praktisnya jelas: jika proyek ini terwujud, Transjakarta akan menghadirkan transportasi publik baru yang nyaman, dengan rute yang disusun berbasis riset lalu lintas, bukan sekadar mengulang jalur lama. Rute yang direncanakan dari terminal Regional Daya ke Terminal Mallengkeri adalah gambaran awal bagaimana koridor utama bisa dibangun dan nanti dikembangkan. Munafri menutup pertemuan dengan harapan yang lugas: "Kami sangat berharap proyek ini bisa menjadi kenyataan di Kota Makassar." Harapan itu patut didukung, tetapi publik juga perlu mengawal prosesnya, memastikan kajian berjalan transparan dan hasilnya menjawab kebutuhan mobilitas perkotaan, bukan hanya ambisi politis.
Kesimpulan: Momentum yang Tak Boleh Disia-siakan Makassar
Rencana Transjakarta ekspansi Makassar adalah momentum langka: kota yang sedang tumbuh pesat berkesempatan belajar langsung dari pengalaman operator sistem bus terintegrasi yang sudah bertahun-tahun beroperasi. Jika dikelola dengan kajian yang jujur terhadap kebutuhan transportasi publik Makassar, kolaborasi ini bisa menggeser pola pikir dari “tambah kendaraan” menjadi “atur jaringan”. Di sisi lain, ancaman kegagalan juga nyata bila tim kajian sekadar formalitas dan tidak menyentuh isu sensitif seperti integrasi dengan Trans Sulsel, relasi dengan angkutan lokal, serta kepastian regulasi dan pendanaan operasional. Makassar perlu berani menetapkan bahwa kenyamanan warga—dari pekerja harian hingga pelajar—adalah parameter utama. Kesimpulannya, Transjakarta di Makassar bukan soal menempelkan nama baru di badan bus. Ini tentang keberanian kota timur menata ulang mobilitas perkotaan agar waktu, ruang, dan kesempatan warganya tidak terus hilang di tengah kemacetan dan ketidakpastian moda transportasi.






