Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Bahasa Daerah Mulai Hilang dari Rumah: Peran Orang Tua Menjaga Identitas Anak

Bahasa Daerah Mulai Hilang dari Rumah: Peran Orang Tua Menjaga Identitas Anak
Minat|Pendidikan Orang Tua dan Anak

Bahasa daerah anak: cermin identitas yang pelan-pelan menghilang

Bahasa daerah anak adalah bahasa pertama yang diperkenalkan keluarga kepada anak di rumah, yang menyimpan cara berpikir, tata krama, dan memori kolektif suatu komunitas sehingga menjadi fondasi identitas budaya anak dan warisan budaya keluarga lintas generasi. Di banyak daerah, fondasi ini mulai retak. Bupati Aceh Besar Muharram Idris menyoroti semakin berkurangnya kemampuan generasi muda menggunakan bahasa Aceh dan bahkan mulai malu berbahasa daerah sendiri. Fenomena serupa muncul di berbagai kota: di sekolah, di media sosial, hingga di lingkungan pergaulan, bahasa lokal tersisih oleh bahasa Indonesia dan bahasa asing. Ketika rumah ikut beralih ke satu bahasa saja, pelestarian bahasa ibu berubah dari kebiasaan alami menjadi proyek penyelamatan darurat.

Bahasa Daerah Mulai Hilang dari Rumah: Peran Orang Tua Menjaga Identitas Anak

Ketika rumah berhenti berbahasa lokal: alarm untuk warisan budaya keluarga

Kecenderungan keluarga meninggalkan bahasa lokal bukan sekadar soal pilihan kata, tetapi soal hilangnya warisan budaya keluarga. Di Aceh Besar, Muharram Idris mengingatkan, “Jangan sampai anak Aceh tidak bisa berbicara bahasa Aceh. Ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama agar bahasa dan budaya Aceh tetap terjaga serta diwariskan kepada generasi berikutnya”. Pernyataan ini menegaskan bahwa pelestarian bahasa ibu tidak bisa diserahkan pada acara seremonial atau festival saja. Meski Festival Piasan Aceh Rayeuk 2026 melibatkan 273 siswa dari 15 sekolah dan menghadirkan enam cabang lomba berbahasa Aceh, tanpa kebiasaan di rumah, semua itu hanya menjadi pertunjukan sesaat. Rumah yang beralih total ke bahasa nasional menjadikan bahasa daerah sekadar mata pelajaran, bukan lagi bahasa hidup yang mengikat hubungan antargenerasi.

Keluarga sebagai benteng terakhir pelestarian bahasa ibu

Pelestarian bahasa ibu tidak akan bertahan jika keluarga menyerah. Di Kutai Timur, pemerintah daerah menegaskan bahwa bahasa Kutai adalah identitas yang harus diwariskan kepada generasi muda sebagai penopang karakter masyarakat. Pelestarian bahasa Kutai diminta dimulai dari lingkungan keluarga, lalu diperkuat pendidikan dan kegiatan kebudayaan. Di Lampung, Balai Bahasa menekankan bahwa pelestarian bahasa Lampung membutuhkan peran keluarga, bukan hanya pemerintah; orang tua diminta membiasakan anak berbicara bahasa daerah di rumah dan menggunakan bahasa Lampung saat berkomunikasi dengan anak. Pesan ini jelas: orang tua ajarkan bahasa lokal bukan sebagai tugas tambahan, tetapi sebagai bagian dari pola asuh. Tanpa percakapan sehari-hari di rumah, identitas budaya anak akan bergantung pada buku teks, bukan pada pengalaman hidup.

Sekolah dan kebijakan publik: pelengkap, bukan pengganti rumah

Sekolah dan kebijakan publik bisa menjadi sekutu keluarga, tetapi tidak boleh menggantikan peran rumah. Di Aceh Besar, pemerintah mendukung pengembangan seni dan budaya melalui Gerakan Seniman Masuk Sekolah, sementara Festival Piasan Aceh Rayeuk menjadi ruang bagi 273 siswa dari 15 sekolah untuk menumbuhkan kecintaan pada bahasa ibu. Di Kutai Timur, dukungan sekolah dan pemerintah daerah ditekankan agar generasi muda tidak hanya mengenal bahasa Kutai sebagai warisan leluhur, tetapi mampu menggunakannya sebagai identitas mereka. Di Lampung, pemerintah mendorong penggunaan bahasa Lampung setiap hari Kamis untuk membiasakan masyarakat memakai bahasa daerah dalam aktivitas sehari-hari. Kebijakan ini penting, namun tanpa keluarga yang konsisten, bahasa daerah tetap berstatus “hari tertentu saja”, bukan bahasa hidup yang menyatu dengan keseharian anak.

Mengatasi rasa malu dan membangun kebanggaan bahasa daerah anak

Tantangan terbesar hari ini bukan ketiadaan program, melainkan rasa malu generasi muda terhadap bahasa daerah mereka sendiri. Muharram Idris menaruh perhatian pada anak muda yang kehilangan kefasihan dan merasa malu menggunakan bahasa Aceh. Di sisi lain, arus teknologi dan kebutuhan akan bahasa Indonesia serta bahasa asing membuat bahasa ibu dianggap kurang bergengsi. Di sinilah orang tua perlu bersikap tegas: bahasa daerah bukan simbol keterbelakangan, tetapi modal identitas budaya anak. Orang tua bisa memulai dengan percakapan rutin di rumah, permainan kata, cerita rakyat, dan sapaan harian dalam bahasa lokal. Di Lampung, pemerintah menegaskan bahwa pelestarian bahasa Lampung membutuhkan keterlibatan pemerintah dan masyarakat; orang tua memulai dari rumah, lembaga memperkuat melalui kebijakan dan praktik kerja. Tanpa keberanian menghapus rasa malu, bahasa daerah akan tinggal di poster, bukan di lidah anak.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!