Mengapa Buku Desain Pameran Ini Penting untuk Ekosistem Kreatif
The EPIC Journey of VERSHOME adalah buku desain pameran yang mendokumentasikan perjalanan 12 tahun sebuah studio desain interior dan pameran, mengurai nilai inti, sistem kerja, dan strategi membangun kepercayaan klien kreatif, sehingga bukan hanya memamerkan portofolio, tetapi mengajukan standar baru tentang bagaimana pengetahuan praktis di industri desain Indonesia seharusnya ditulis dan dibagikan.
VERSHOME, studio desain interior terpadu yang berfokus pada ruang pamer dan narasi brand, merilis buku pertamanya The EPIC Journey of VERSHOME pada 6 Agustus di Wonder Bookstore ASHTA District 8 Jakarta. Di tengah banjir konten visual di media sosial, langkah ini terasa berani: alih-alih menambah gambar di linimasa, mereka memilih menulis proses. Keresahan Roni Timothy, sang Founder dan Creative Director, berangkat dari fakta bahwa rak-rak toko buku di berbagai kota dunia penuh dengan referensi desain rumah, restoran, atau museum, namun nyaris tak ada literatur yang secara spesifik mengulas desain booth dan exhibition. Kekosongan itu bukan sekadar celah pasar; ia adalah lubang pengetahuan yang dibiarkan terbuka terlalu lama.
Dalam konteks industri desain Indonesia, keputusan untuk mempublikasikan pengetahuan internal ke ranah publik adalah sikap politis: menegaskan bahwa standar keahlian tidak harus datang dari luar, dan bahwa pengalaman lokal layak didokumentasikan dengan serius. Itulah mengapa The EPIC Journey lebih penting daripada sekadar “buku baru”; ia adalah pernyataan bahwa studio desain pameran punya hak untuk menulis sejarahnya sendiri.

Mengisi Kekosongan Literatur: Dari Keresahan Menuju Buku Rujukan
Selama bertahun-tahun, para pelaku desain pameran hidup dari referensi yang timpang: buku-buku tentang hunian dan hospitality berlimpah, sementara konteks booth dan exhibition dibiarkan sebagai pengetahuan lisan. Roni Timothy mengakui, sebagai pecinta buku visual, ia berkali-kali menghitung langkah di toko buku London, Tokyo, hingga Seoul, hanya untuk menyadari satu hal: hampir tidak ada buku yang membahas desain pameran secara khusus. Kalimatnya terang dan cukup menjadi kutipan kunci, “Kok belum ada ya buku yang benar-benar membahas desain exhibition secara spesifik? Akhirnya saya berpikir, kenapa tidak membuatnya sendiri?”.
The EPIC Journey lahir dari kegelisahan itu. Alih-alih berhenti sebagai katalog visual, buku ini menggabungkan catatan jujur tentang perjalanan studio dengan pengetahuan praktis desain interior dan pameran: mulai dari cara membaca karakter brand, merumuskan konsep ruang, hingga mengelola eksekusi proyek lintas industri. Di dalamnya, dokumentasi VERSHOME terhadap kolaborasi dengan lebih dari 100 klien lokal dan internasional sejak 2018 bukan sekadar parade nama, melainkan bahan baku untuk mengurai pola, kesalahan, dan perbaikan yang dilakukan studio.
Industri kreatif Indonesia selama ini lemah di dokumentasi: banyak proses berhenti sebagai obrolan internal, tidak pernah naik kelas menjadi rujukan yang bisa dipelajari generasi berikutnya. Buku ini mencoba menutup celah itu, memposisikan dirinya sebagai arsip awal yang diharapkan memicu efek domino—mendorong studio dan pelaku lain untuk ikut menulis. Roni menegaskan, ini adalah pesan tegas bahwa pelaku kreatif tidak perlu menunggu validasi dari luar sebelum berani mendokumentasikan pengetahuannya sendiri.
EPIC: Nilai Inti yang Menjadi Sistem Bisnis dan Bahasa Kepercayaan
Bagian paling menarik dari The EPIC Journey bukan daftar proyeknya, melainkan bagaimana VERSHOME merumuskan nilai inti EPIC—Experience, Prestigious, Inspire, Creative—sebagai sistem kerja yang hidup, bukan slogan di dinding kantor. EPIC ditawarkan sebagai kompas pengambilan keputusan, cara studio menyelaraskan desain pameran dengan identitas brand sekaligus ekspektasi pengunjung.
Experience menuntut setiap proyek menciptakan pengalaman mendalam, bukan sekadar visual yang fotogenik. Prestigious mendorong standar kualitas dan reputasi tinggi sebagai dasar hubungan jangka panjang dengan klien. Inspire menempatkan karya sebagai sumber inspirasi bagi ekosistem kreatif, sedangkan Creative memaksa tim terus mengeksplorasi bentuk, branding, dan narasi ruang. Menariknya, filosofi ini tidak berhenti di level konsep. The EPIC Journey menunjukkan bagaimana nilai itu diturunkan menjadi budaya kerja, dari cara tim membaca DNA klien sampai cara mereka mengukur keberhasilan bukan dari luas lantai atau ketinggian struktur, melainkan dari kedalaman relasi dan kekuatan narasi yang tercipta.
Di sini terlihat jelas bahwa EPIC sekaligus menjadi sistem bisnis: kepercayaan klien kreatif dibangun melalui konsistensi nilai, bukan hanya melalui proposal yang indah. Buku ini memaparkan bagaimana VERSHOME menjaga kepercayaan itu—dari transparansi proses, cara merespons revisi, hingga kemampuan memposisikan diri sebagai mitra strategis, bukan sekadar vendor desain. Dalam industri desain Indonesia yang kerap menilai studio dari ukuran proyek, The EPIC Journey menawarkan ukuran lain: kualitas hubungan yang memungkinkan karya berkembang bersama klien, bukan mengalah demi brief sesaat.
Menjaga Kepercayaan Klien Kreatif: Dari Budaya Kerja ke Narasi Ruang
Salah satu keberanian The EPIC Journey adalah membuka dapur studio: bagaimana budaya kerja dibangun, bagaimana konflik dihadapi, dan bagaimana kesalahan dikonversi menjadi sistem yang lebih matang. Roni menyadari, tumbuhnya sebuah studio desain tidak hanya soal kualitas karya, tetapi juga kualitas hubungan antarmanusia—di dalam tim maupun dengan klien. Di sinilah buku ini menjawab tantangan besar industri kreatif Indonesia: rekam jejak membangun kepercayaan klien selama ini jarang sekali terdokumentasi, padahal ia adalah referensi berharga bagi generasi mendatang.
The EPIC Journey menunjukkan bahwa menjaga kepercayaan klien kreatif adalah proses panjang: memahami karakter klien hingga ke level DNA, merancang ruang yang bukan hanya estetis tetapi punya keterikatan emosional dengan target audiens, serta konsisten menghadirkan kualitas yang sejalan dengan nilai EPIC. Relasi itu dirawat melalui kolaborasi yang jelas ritmenya, dari perencanaan hingga evaluasi. Pilihan VERSHOME untuk mengukur keberhasilan dari kedalaman relasi dan kekuatan narasi ketimbang parameter teknis semata adalah sikap yang menantang cara industri menilai “sukses”.
Dengan harga Rp899.000 dan distribusi awal secara eksklusif, buku ini ditempatkan sebagai karya premium yang menandai keseriusan dokumentasi, sebelum nantinya diperluas ke jaringan toko buku dan platform penjualan lain. Melalui publikasi ini, VERSHOME berharap desainer, mahasiswa, dan pelaku kreatif lain terinspirasi untuk menuliskan ide dan proses mereka, bukan hanya menambah gambar di portfolio. Jika harapan itu terwujud, kepercayaan klien di industri desain pameran tak lagi bergantung pada “nama besar” semata, tetapi pada transparansi pengetahuan yang dibagikan lintas generasi.
Kesimpulan: Saat Studio Lokal Menentukan Standar Pengetahuannya Sendiri
The EPIC Journey layak dibaca bukan karena ia buku yang “indah”, tetapi karena ia berani menjawab kekosongan: kurangnya literatur yang secara khusus mengulas desain pameran, proses kreatif, dan dinamika membangun kepercayaan klien di industri desain Indonesia. VERSHOME menunjukkan bahwa studio lokal tidak perlu menunggu validasi eksternal untuk mulai mendokumentasikan ilmunya; mereka bisa menetapkan standar pengetahuan sendiri, berangkat dari pengalaman yang real dan kontekstual.
Di level ekosistem, buku ini adalah ajakan terbuka: jika satu studio bisa mengubah 12 tahun perjalanan menjadi arsip yang rapi, maka tidak ada alasan bagi pelaku lain untuk terus menyimpan pengetahuan sebagai memori internal. Dokumentasi pengalaman, nilai inti, dan strategi membangun kepercayaan klien kreatif bukan hanya menguntungkan satu studio, tetapi memperkaya bahasa bersama yang dipakai industri untuk tumbuh. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah kita membutuhkan buku seperti ini, melainkan kapan studio-studio lain siap menulis EPIC mereka sendiri.






