Pertumbuhan yang belum terbagi merata
Pemerataan ekonomi Bali adalah upaya membagi peluang kerja, investasi, dan nilai usaha secara lebih seimbang antardaerah, agar pertumbuhan pulau tidak hanya menguntungkan kawasan yang telah menjadi pusat kegiatan ekonomi. Inilah ukuran yang semestinya dipakai untuk menilai pembangunan Bali Utara: bukan sekadar jumlah kunjungan atau proyek baru, melainkan seberapa besar manfaatnya tinggal di masyarakat setempat. Pada Kamis, 5 November 2026, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali membahas rekomendasi pemerataan tersebut dalam forum BALINOMICS di Kantor Bupati Buleleng. Forum dibuka oleh Putu Ayu Reika Nurhaeni, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Buleleng, yang menyoroti masih terkonsentrasinya aktivitas ekonomi di Bali Selatan. Ketimpangan itu terlihat pada kontribusi Sarbagita—Denpasar, Badung, dan Gianyar—yang mencapai 58 persen dari PDRB Bali. Wilayah yang sama juga menyerap investasi Rp30,49 triliun, atau 81,64 persen dari total realisasi sepanjang 2026. Angka tersebut membuat penguatan ekonomi Bali Utara mendesak, bukan sekadar agenda pelengkap.
Konektivitas harus membuka akses nyata
Buleleng membutuhkan konektivitas yang lebih kuat karena jarak dan waktu tempuh membatasi pergerakan wisatawan, pekerja, hasil tani, serta produk perikanan. Jalan pintas yang menghubungkan Bali Selatan dan Utara sudah rampung di beberapa titik, sementara bagian lain masih dikerjakan. Pekerjaan itu penting, tetapi konektivitas Buleleng tak boleh berhenti pada jalan: jaringan fisik dan digital perlu memudahkan usaha lokal mengirim produk, memperoleh informasi pasar, dan menjangkau pelanggan. Jalur kereta api Bali Utara–Selatan tercantum dalam Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 2 Tahun 2023, tetapi belum terealisasi. Sementara itu, rencana trem listrik berbasis baterai yang dibahas dalam kerja sama pemerintah provinsi, Pemerintah Kabupaten Badung, dan PT KAI berfokus pada rute Bandara Ngurah Rai–Canggu di Bali Selatan; KAI menyiapkan anggaran sekitar Rp2 triliun. Karena itu, proyek transportasi selatan tidak dengan sendirinya menutup kesenjangan. Prioritas berikutnya harus memastikan hubungan utara–selatan memberi akses setara bagi warga dan pelaku usaha Buleleng.
Pariwisata berkualitas perlu ditopang hilirisasi
Pariwisata Bali Utara sebaiknya tumbuh dengan mutu dan keberlanjutan sebagai sasaran, bukan mengejar volume tanpa menghitung manfaat lokal. Namun, pariwisata saja tidak cukup untuk meratakan ekonomi Bali. Strategi BI memasangkan pengembangan wisata berkualitas dengan peningkatan nilai tambah kelautan, perikanan, dan pertanian melalui hilirisasi sektor unggulan. Kombinasi ini lebih masuk akal: belanja pengunjung dapat bertemu dengan produk lokal yang diproses, memenuhi standar, dan dipasok secara konsisten. Buleleng memiliki hasil perkebunan, hortikultura, dan perikanan; kopi, rumput laut, anggur, tuna, dan udang termasuk komoditas yang disebut memiliki peluang pasar domestik maupun internasional. Akan tetapi, bahan baku saja belum menjamin pendapatan lebih besar. Mutu, kesinambungan pasokan, dan akses pasar tetap harus diperkuat. Contoh penggunaan sirup aren sebagai pengganti sirup maple impor menunjukkan peluang substitusi impor, tetapi nilainya baru terasa bila pengolahan, standar produk, dan pembelian berulang dibangun bersama. Dengan demikian, lapangan kerja dan bagian nilai usaha dapat lebih banyak bertahan di Bali Utara.
Dari rekomendasi menuju manfaat warga
BI merekomendasikan tiga arah: memperkuat konektivitas Bali Utara–Selatan, mengembangkan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan, serta meningkatkan nilai tambah komoditas kelautan, perikanan, dan pertanian lewat hilirisasi. Rekomendasi ini tepat, tetapi hasilnya bergantung pada pelaksanaan lintas sektor. Pemerintah perlu menghubungkan infrastruktur dengan kebutuhan produsen; pelaku usaha harus membangun standar mutu dan pasokan; lembaga pendukung perlu memperluas akses pasar dan jaringan digital. Kinerja ekonomi Bali pada 2026 diprakirakan tumbuh di batas atas kisaran 5,4–5,9 persen secara tahunan, meski aktivitas dan investasi masih terkonsentrasi di selatan. Pertumbuhan agregat yang kuat tidak otomatis berarti peluang tersebar. Ukuran keberhasilan yang lebih bermakna ialah pekerjaan yang tercipta, produk lokal yang diolah di daerah, dan pendapatan usaha yang tinggal di Buleleng. Jika konektivitas, pariwisata, dan pengolahan komoditas dirancang sebagai satu ekosistem, pemerataan ekonomi Bali dapat bergerak dari rekomendasi menjadi manfaat sehari-hari. Jika tidak, ketimpangan utara–selatan akan terus bertahan di balik angka pertumbuhan yang mengesankan.






