Ketika Hobi Menanam dan Luka Pribadi Menjadi Gerakan Herbal
Kisah Haji Slamet Sugiarto dan Nora Novita Purba menunjukkan bahwa entrepreneur botani adalah pelaku usaha yang memadukan kecintaan pada tanaman herbal langka dengan misi sosial, yakni menjaga konservasi tanaman tradisional sambil membangun usaha herbal lokal yang berkelanjutan dan menghidupi komunitas sekitarnya. Alih-alih mengejar keuntungan jangka pendek, keduanya menjadikan kebun dan rimpang sebagai fondasi gerakan kesehatan alami sekaligus pelestarian pengetahuan leluhur. Di tengah gempuran produk instan dan tren kesehatan musiman, mereka memilih jalan panjang: merawat, membudidayakan, mengolah, dan mengedukasi, agar warisan botani tidak berhenti di generasi mereka. Ini bukan cerita romantis tentang “kembali ke alam”; ini adalah strategi sadar untuk memastikan bahwa kekayaan hayati tetap berada di tangan warga, bukan hanya di rak-rak industri besar.
Dari Banjarnegara, Haji Slamet menekuni tanaman herbal sejak muda, lalu mengembangkan Griya Bina Sehat sejak era 1980-an. Dari Simalungun, Nora yang lahir 5 Oktober 1983 keluar dari zona nyaman karier farmasi setelah diuji infeksi rahim lima tahun dan menemukan harapan pada rimpang serta terapi herbal yang ia pelajari di berbagai kelas online dan offline. Keduanya menolak melihat tanaman obat sekadar komoditas. Mereka memposisikan diri sebagai penjaga gerbang: siapa pun yang ingin menikmati manfaat herbal, harus sekaligus diajak memahami betapa rapuhnya keberadaan tanaman-tanaman ini jika tidak dijaga bersama. Di tangan mereka, bisnis bukan lawan konservasi, melainkan kendaraannya.
Haji Slamet dan 167 Jenis Herbal Langka: Mimpi Sentra Herbal Dunia
Griya Bina Sehat di Desa Gumelem Kulon, Banjarnegara, adalah bukti bahwa tanaman herbal langka bisa menjadi pusat gravitasi sebuah wilayah. Berawal dari hobi menanam, Haji Slamet selama puluhan tahun merawat kebun yang pada musim kemarau saja masih menyisakan sekitar 167 jenis tanaman herbal yang tetap tumbuh dan dirawat, termasuk berbagai tanaman herbal langka yang sengaja dibudidayakan agar tidak hilang. Ia tidak puas menjadi peracik jamu generik; ia mengumpulkan tanaman non-generik, belajar dari profesor Amerika Latin dan Malaysia, lalu menjadikannya basis pengobatan personal, lengkap dengan pemeriksaan nadi sebelum meracik ramuan.
Dampak sosialnya jelas: dalam sebulan, Griya Bina Sehat menerima sekitar 600 hingga 700 pasien dari berbagai daerah, dari Kalimantan hingga pasien mancanegara seperti Amerika. Ini bukan sekadar praktik pengobatan tradisional; ini magnet kesehatan yang memperkuat posisi Banjarnegara sebagai pusat pengetahuan herbal. Lebih penting lagi, Haji Slamet menegaskan bahwa edukasi adalah bagian tak terpisahkan dari layanannya: ia mengajarkan masyarakat mengenal jenis tanaman, cara merawat, serta memanfaatkannya, agar mereka memahami pentingnya menjaga kelestarian tanaman, bukan hanya menelan ramuannya. Dari sinilah lahir visinya: kekayaan herbal Banjarnegara harus berkembang dan dikenal hingga mancanegara, hingga suatu saat daerah ini menjadi salah satu sentra herbal dunia.
Nora dan RAJAMU: Mengangkat Rempah Simalungun ke Panggung Kesehatan Modern
Jika Haji Slamet membangun kekuatan dari kebun, Nora memilih memulai dari dapur rumahnya. Pengalaman sakit yang menggerogoti tubuhnya menjadi titik balik: ia mengonsumsi herbal dan rempah hingga kondisi kesehatannya berangsur pulih, lalu menjadikannya inspirasi untuk mendirikan RAJAMU, rumah jamu dan terapi herbal yang memanfaatkan berbagai bahan alami, termasuk rempah dari Kabupaten Simalungun. Ia resmi merintis RAJAMU pada 5 Oktober 2019 di Huta Siramah Tapian, Pematang Dolok Kahean, Tapian Dolok. Nama RAJAMU ia maknai sebagai “kerajaan” rimpang dan rempah untuk kesehatan dan perawatan tubuh berbahan alami, bukan sekadar kedai jamu kekinian.
RAJAMU berkembang menjadi usaha mikro, kecil, dan menengah yang tidak berhenti pada minuman jamu: ada jamu godok, kapsul herbal, dan rangkaian produk perawatan kulit berbahan alami. Dengan konsep Herbal Healing for Woman, Nora fokus pada perempuan sebagai jantung kesehatan keluarga, karena ketika ibu sehat, keluarga ikut sehat. Ia memandang Simalungun sebagai lumbung bahan baku rempah dan tanaman herbal yang bisa diolah menjadi produk bernilai ekonomi, sejalan dengan falsafah Habonaron do Bona yang menegaskan pentingnya kebenaran dan kejujuran sebagai akar pembangunan. Pengakuannya ringkas dan kuat: “Dari pengalaman pahit menjadi inspirasi. Dari dapur rumah menjadi ‘kerajaan’ rempah”. Inilah wajah baru usaha herbal lokal yang tidak minder pada kosmetik maupun suplemen modern.

Usaha Herbal Lokal Berbasis Komunitas: Dari Konservasi ke Model Bisnis Berkelanjutan
Yang membuat perjalanan Haji Slamet dan Nora layak dijadikan contoh bukan hanya keberhasilan usaha herbal lokal mereka, melainkan cara keduanya menata hubungan dengan lingkungan dan komunitas. Haji Slamet sengaja mempertahankan tanaman yang tergolong langka dan terus membudidayakannya agar keberadaannya tidak hilang, sembari mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian tanaman. Ini inti konservasi tanaman tradisional: jika pengetahuan dan bibit tersebar ke banyak tangan, risiko kepunahan berkurang drastis. Visi menjadikan Banjarnegara sebagai sentra herbal dunia tumbuh dari keyakinan bahwa kekayaan hayati tidak boleh terkurung di laboratorium atau lahan milik segelintir orang.
Di Simalungun, Nora membaca potensi daerahnya sebagai lumbung bahan baku rempah dan tanaman herbal yang bisa dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi. Ini membuka pintu bagi model bisnis yang melibatkan petani: rimpang dan rempah lokal tidak lagi dijual mentah dengan nilai rendah, melainkan diolah menjadi jamu, kapsul, dan produk perawatan yang memberi nilai tambah, sekaligus mendorong masyarakat mengadopsi gaya hidup sehat alami. Dalam kerangka ini, entrepreneur botani bukan sekadar pengusaha; mereka perantara antara tanah, pengetahuan tradisional, dan pasar modern. Jika pola seperti ini diperluas—kebun konservasi seperti di Banjarnegara dipadukan dengan UMKM herbal seperti RAJAMU—maka kita bisa membangun ekosistem herbal yang sustainable: menguntungkan, berbasis komunitas petani, dan tetap setia pada akar tradisi.
Menjamu Masa Depan: Mengapa Model Haji Slamet dan Nora Perlu Ditiru
Kisah Haji Slamet dan Nora mematahkan dua mitos: bahwa pengobatan alami adalah urusan masa lalu, dan bahwa konservasi selalu bertentangan dengan bisnis. Griya Bina Sehat yang melayani ratusan pasien per bulan dan merawat 167 jenis tanaman herbal, termasuk tanaman herbal langka, menunjukkan bahwa konservasi bisa menjadi jantung layanan kesehatan alternatif yang dipercaya publik. RAJAMU membuktikan bahwa rempah di halaman dan ladang-ladang Simalungun dapat naik kelas menjadi produk kesehatan dan perawatan yang memberi martabat ekonomi bagi pelaku UMKM dan petani lokal.
Jika kita serius ingin menjaga konservasi tanaman tradisional, kita membutuhkan lebih banyak entrepreneur botani seperti mereka, yang berani meracik tiga hal sekaligus: ilmu modern, kearifan lokal, dan keberanian berbisnis. “Dalam satu bulan, Griya Bina Sehat rata-rata menerima sekitar 600 hingga 700 pasien dari berbagai daerah,” menjadi bukti bahwa kepercayaan publik bisa dibangun tanpa mengorbankan prinsip pelestarian. Sementara misi RAJAMU untuk “mengembalikan manusia pada pengobatan alami” mengingatkan bahwa masa depan kesehatan tidak harus tercetak dalam bentuk pil sintetis saja. Menjamu masa depan berarti menjadikan kebun, rimpang, dan komunitas petani sebagai pilar utama ekosistem kesehatan yang adil, berkelanjutan, dan berakar pada tanah sendiri.






