Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Prabowo Ajak Anak Muda Belajar Sejarah agar Kesalahan Tak Terulang

Prabowo Ajak Anak Muda Belajar Sejarah agar Kesalahan Tak Terulang
Minat|Wisata Afrika

Sejarah sebagai bekal menjaga persatuan

Belajar sejarah adalah upaya memahami keputusan, perpecahan, dan pengalaman masa lalu agar masyarakat dapat mengambil pelajaran untuk menghadapi masa depan dengan lebih bijak. Pesan itu menjadi inti seruan Prabowo Subianto kepada generasi muda: jangan malas mempelajari sejarah, sebab bangsa yang melupakan pelajaran terdahulu berisiko mengulang kesalahan yang sama. Saat meresmikan SMA Taruna Nusantara Kampus Cimahi, Jawa Barat, pada Jumat, Prabowo mengingatkan bahwa ada pemimpin yang lupa sejarah dan bahkan enggan mempelajarinya.

Seruan tersebut bukan ajakan menghafal tanggal dan nama semata. Prabowo menekankan bahwa teknologi terus berubah, sementara sifat dasar manusia cenderung tetap. Karena itu, sejarah membantu generasi muda mengenali pola tindakan dan akibatnya, termasuk bagaimana perpecahan dapat melemahkan bangsa. Pesan ini penting, tetapi harus diterjemahkan menjadi kebiasaan berpikir kritis: memahami sebab dan dampak, bukan menerima kisah masa lalu sebagai daftar kejadian tanpa makna.

Pelajaran pahit tentang perpecahan

Prabowo menyebut penjajahan sebagai salah satu pengalaman paling menyakitkan dalam sejarah bangsa. Dalam penjelasannya, perpecahan di antara masyarakat dan pemimpin membuka jalan bagi kekuasaan asing, sementara sebagian penguasa memilih bekerja sama dengan pihak luar alih-alih dengan saudara sebangsa. Ia mengingatkan generasi muda pada politik pecah belah atau divide et impera sebagai strategi yang patut dipahami agar kesalahan serupa tidak terulang.

Peringatan itu relevan bukan karena sejarah menawarkan jawaban siap pakai, melainkan karena ia menunjukkan harga yang harus dibayar ketika kepentingan bersama dikalahkan oleh persaingan dan kecurigaan. Namun belajar sejarah juga bukan berarti memandang para pendahulu hanya melalui kegagalannya. Prabowo mengakui mereka memiliki keunggulan dan pencapaian yang patut dihargai. Sikap yang lebih matang ialah melihat keduanya sekaligus: menghormati perjuangan, lalu berani mengkaji kekeliruan.

Ikrar Sumpah Pemuda memberi konteks

Seruan tentang sejarah itu terasa selaras dengan peringatan Sumpah Pemuda. Pada Rabu malam, 28 Oktober, Prabowo mengunggah video sekitar satu menit yang memperlihatkan dirinya memimpin sejumlah siswa sekolah dasar membacakan ikrar. Video tersebut hadir bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda ke-98, yang diperingati setiap 28 Oktober.

Dalam suasana perpustakaan, siswa mengikuti bacaan dari Presiden secara bergantian. Ikrar tentang satu tanah air, satu bangsa, dan bahasa persatuan mengingatkan bahwa persatuan bukan sekadar semboyan seremonial. Ia adalah pilihan yang perlu terus dijaga, terutama ketika perbedaan mudah dimanfaatkan untuk memecah belah. Menghubungkan ajakan belajar sejarah dengan Sumpah Pemuda membuat pesan itu lebih konkret: memahami masa lalu penting agar semangat kebangsaan tidak berhenti sebagai teks yang dibaca setiap tahun.

Prabowo Ajak Anak Muda Belajar Sejarah agar Kesalahan Tak Terulang

Membaca masa lalu, merawat masa depan

Momen Prabowo membaca ikrar bersama anak-anak memberi penekanan simbolis pada pewarisan nilai antargenerasi. Namun simbol saja tidak cukup. Agar pesan belajar sejarah punya arti, generasi muda perlu diajak menimbang alasan di balik peristiwa, mendengar beragam sudut pandang, dan membedakan penghormatan terhadap masa lalu dari sikap menutup mata atas kesalahannya.

Pada akhirnya, ajakan Prabowo Subianto paling kuat jika dipahami sebagai peringatan sekaligus tanggung jawab. Sejarah memberi bukti bahwa perpecahan dapat melemahkan bangsa, sedangkan Sumpah Pemuda menegaskan cita-cita untuk berdiri sebagai satu bangsa. Generasi muda tidak harus mewarisi semua keputusan pendahulunya; mereka perlu memahami akibatnya agar dapat memilih jalan yang lebih baik. Belajar sejarah bukan nostalgia, melainkan salah satu cara menjaga persatuan dan mencegah kesalahan lama berulang.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!