Mimpi pendidikan anak: bukan sekadar gelar, tapi sejarah keluarga
Mimpi pendidikan anak adalah harapan jangka panjang orang tua agar putra-putrinya mencapai jenjang sekolah setinggi mungkin dengan karakter yang matang, kemandirian yang kuat, dan kemampuan akademik yang layak, sehingga pendidikan tinggi tidak berhenti sebagai gelar di ijazah, tetapi menjadi tonggak perubahan bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya. Di banyak rumah, mimpi ini lahir dari keterbatasan masa lalu: orang tua yang tidak sempat kuliah, generasi pertama yang merasakan bangku perguruan tinggi, atau keluarga yang baru pernah menyaksikan penerimaan PTN bergengsi. Karena itu, setiap pencapaian akademik anak membawa beban emosi yang besar—campuran antara kebanggaan, rasa lega, dan dorongan untuk terus ada di samping mereka, bukan hanya saat wisuda, tapi sepanjang perjalanan.
Abdel Achrian dan "pecah telur" keluarga di ITB
Ketika putri Abdel Achrian diterima di Institut Teknologi Bandung, kebanggaan sebagai orang tua hampir tidak mampu ia sembunyikan. Di acara penyambutan anggota baru Ikatan Orang Tua Mahasiswa (IOM) ITB pada Rabu, 5 Agustus 2026, senyumnya menyimpan kisah panjang tentang mimpi pendidikan anak yang akhirnya menembus salah satu PTN bergengsi di tanah air. Bagi Abdel, keberhasilan ini bukan sekadar pencapaian akademik; ia menyebutnya sebagai "pecah telur" karena baru kali pertama dalam keluarga besarnya ada yang masuk ITB, dan itu adalah anaknya sendiri. Di balik euforia, ia mengingat masa kuliahnya dulu: dilepas begitu saja tanpa pemantauan perkembangan semester demi semester hingga rasa tanggung jawab kepada orang tua menipis. Pengalaman pahit itu membentuk sikapnya sekarang; ia menekankan bahwa orang tua perlu hadir sebagai mitra akademik, bukan pengawas hidup kampus.

Dari taman kampus ke podium cumlaude: perjuangan lulus S2 Kris
Kontras dengan kisah keluarga yang menembus ITB, perjalanan Kristiyawanto—anak tukang taman di sebuah kampus besar—menunjukkan sisi lain mimpi pendidikan anak: bertahan melawan jeda, usia, dan biaya. Ia sempat berhenti studi selama 10 tahun sebelum berani melanjutkan ke jenjang magister. Selama menempuh S2, ia membagi waktu antara bekerja dan kuliah demi membayar biaya dengan penghasilannya sendiri, setelah sebelumnya menyelesaikan S1 dengan beasiswa Bidikmisi. Orang tuanya sehari-hari bekerja sebagai petugas kebersihan dan perawatan taman di lingkungan kampus tempat ia belajar. Mereka tidak memahami istilah akademis, tetapi tidak pernah berhenti memberi doa dan dukungan moral. Hasilnya, Kris meraih gelar Magister Ilmu Komunikasi dengan predikat cumlaude dan mempersembahkannya sebagai wujud syukur atas restu keluarga yang setia menemani perjuangan lulus S2 penuh tantangan.
Ijazah sebagai simbol gotong royong keluarga, bukan trofi pribadi
Ada satu benang merah dari kisah Abdel dan Kris: ijazah tidak pernah berdiri sebagai trofi individual. Momen wisuda magister yang dirayakan Kris bersama orang tuanya hingga viral di media sosial menegaskan bahwa pencapaian akademik anak adalah buah gotong royong keluarga, terutama ketika orang tua bertahan dalam pekerjaan yang tidak berlabel prestisius, tetapi memberi fondasi moral yang kuat. Di sisi lain, Abdel mengapresiasi IOM ITB sebagai ruang gotong royong antarkeluarga mahasiswa, tempat orang tua yang mampu urunan dana dan beasiswa agar mahasiswa dengan kemampuan akademik dapat menyelesaikan studi tanpa tersandung biaya. Sikap ini menolak pandangan bahwa pendidikan tinggi adalah arena kompetisi individu semata. Ijazah menjadi tanda bahwa ada jaringan dukungan—dari rumah sampai komunitas orang tua di kampus—yang memilih terlibat bukan dengan mengatur, melainkan menemani perjalanan.
Pelajaran bagi orang tua: hadir, percaya, dan menyokong mimpi pendidikan anak
Dua kisah ini seharusnya mengusik cara pandang orang tua terhadap mimpi pendidikan anak. Pertama, penerimaan PTN bergengsi memang membanggakan, tetapi tidak boleh memutus komunikasi dan pemantauan yang sehat terhadap proses belajar anak. Abdel menegaskan bahwa fasilitas pemantauan orang tua di kampus adalah sarana untuk menjadi partner, bukan untuk ikut campur urusan kuliah. Kedua, cerita Kris membuktikan bahwa restu dan dukungan moral orang tua yang bekerja sebagai tukang taman dapat melahirkan perjuangan lulus S2 sampai meraih cumlaude. Setelah merampungkan studinya, ia bahkan berniat mencari peluang sebagai dosen praktisi dan menyiapkan langkah menuju S3. Di titik ini, inspirasi orang tua bukan diukur dari status sosial, melainkan dari kesediaan untuk hadir, percaya pada kemampuan anak, dan konsisten menyokong aspirasi pendidikan tanpa menyerah pada jeda waktu atau keterbatasan ekonomi.





