Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Bakpia Day Rayakan Cita Rasa Autentik dan Komunitas Patuk

Bakpia Day Rayakan Cita Rasa Autentik dan Komunitas Patuk
Minat|Makanan Kaki Lima

Bakpia Day ke-14: Lebih dari Sekadar Festival Makanan Lokal

Bakpia Day ke-14 adalah sebuah festival makanan lokal di kawasan Patuk, Kelurahan Ngampilan, Yogyakarta, yang dirancang bukan hanya untuk membagikan bakpia kepada pengunjung, tetapi untuk menegaskan kembali Patuk sebagai sentra kuliner tradisional bakpia sekaligus ruang pertemuan warga lintas suku dan budaya dalam semangat kebersamaan yang hidup sehari-hari. Di tengah maraknya Bakpia Day Yogyakarta dan berbagai agenda wisata kuliner lain, edisi ke-14 ini terasa berbeda karena berani menyatakan bahwa cita rasa autentik tidak bisa dipisahkan dari rasa kebersamaan. Diselenggarakan pada Sabtu, 24 Oktober 2026, acara ini mengusung tema "Authentic Taste of Patuk" yang secara terang menolak menjadikan bakpia sekadar komoditas wisata. Patuk tidak ingin hanya dikenal sebagai lokasi belanja oleh-oleh, tetapi sebagai kampung yang menjaga warisan rasa dan cerita di balik setiap kulit bakpia yang dipanggang.

Bakpia Day Rayakan Cita Rasa Autentik dan Komunitas Patuk

Authentic Taste of Patuk: Rasa Bakpia dan Rasa Kebersamaan

Tema "Authentic Taste of Patuk" layak dibaca sebagai sikap politik rasa: mempertahankan kuliner tradisional Patuk sekaligus merawat memori sosial warganya. Mantri Pamong Praja Kemantren Ngampilan, Anif Luhur Kurniawan, menegaskan bahwa kata taste tidak berhenti pada rasa cokelat atau keju, tetapi meluas menjadi rasa kebersamaan yang lahir dari pengalaman hidup berdampingan dalam keberagaman. Ini penting, karena festival makanan lokal sering terjebak pada kemasan visual tanpa menyentuh akar komunitas. Bakpia Day ke-14 memilih jalan lain: menjadikan panggung acara sebagai cermin kehidupan kampung yang heterogen. Di Patuk, cita rasa autentik berarti resep panggangan yang konsisten sekaligus relasi sosial yang tidak putus. Ketika warga berbagai latar budaya berkumpul, mereka tidak hanya memakan bakpia, tetapi ikut merasakan bagaimana sebuah kampung mendefinisikan dirinya melalui makanan.

Rangkaian Acara: Dari Andum Rasa hingga Umbul Doa

Rangkaian Bakpia Day ke-14 disusun seperti perjalanan rasa: dimulai dari atraksi seni Andum Rasa, berlanjut ke podcast, Umbul Doa, dan ditutup Karnaval Bakpia Day #14. Andum Rasa di Titik Nol Kilometer Yogyakarta menjadi gerbang perayaan, ketika bakpia dibagikan kepada pengunjung sambil mengajak mereka memberi kesan tentang cita rasa autentik Patuk. Di sini, bakpia bukan sampel promosi, melainkan medium dialog antara kampung produsen dan publik kota. Podcast di Taman Bakpia menghadirkan pemerintah, pengusaha bakpia, akademisi, tokoh masyarakat, hingga wisatawan mancanegara, termasuk seorang warga Rusia yang tinggal di Ngampilan. Percakapan lintas perspektif ini menunjukkan bahwa mempertahankan bakpia panggang khas Patuk adalah urusan bersama, bukan hanya kepentingan pelaku usaha. Umbul Doa dengan kirab Ulu Bekti, doa lintas agama, dan pemotongan tumpeng mempertegas bahwa warisan kuliner dijaga dengan syukur, bukan sekadar strategi branding.

Karnaval Bakpia Day dan Identitas Patuk sebagai Rumah Bakpia

Puncak Bakpia Day ke-14 adalah karnaval yang menyusuri rute dari Jalan Bhayangkara menuju eks Pabrik Tegel Kunci di Jalan KS Tubun, diikuti 19 kontingen dari 13 RW di Kelurahan Ngampilan. Di sepanjang jalan, identitas budaya yang beragam—dari adat Jawa, Tionghoa, Betawi, Bali, Sunda, Sasak, Minangkabau, Madura, Batak, Dayak, Toraja, Aceh, Asmat hingga Barongsai—ditampilkan sebagai bukti bahwa Patuk adalah rumah bakpia yang dibangun oleh banyak latar. Ketua Panitia Bakpia Day ke-14, Dimaz Arifin Hamsyah, menyebut acara ini sebagai momentum krusial untuk menegaskan kembali Patuk sebagai rumah mula industri bakpia di Yogyakarta dan destinasi utama bagi mereka yang mencari pengalaman otentik sentra bakpia. Di tengah gempuran tren usaha bakpia di berbagai sudut daerah, sikap ini adalah pernyataan tegas: keaslian Bakpia Patuk tidak boleh larut dalam standar rasa massal. Karnaval pun menjadi deklarasi terbuka bahwa bakpia panggang Patuk memiliki karakter yang layak diperjuangkan.

Warisan Kuliner yang Dijaga Komunitas, Bukan Sekadar Brand

Bakpia Day ke-14 menunjukkan bahwa warisan kuliner tradisional hanya bisa bertahan jika komunitas berdiri di garis depan, bukan sekadar mengandalkan nama besar produk. Umbul Doa sebagai ungkapan syukur para pelaku usaha bakpia menandai bahwa keberlanjutan Bakpia Patuk bergantung pada relasi spiritual dan sosial yang mereka bangun, bukan pada tren sesaat. Di sisi lain, penegasan pentingnya mempertahankan karakter serta keaslian Bakpia Patuk di tengah menjamurnya usaha bakpia di berbagai daerah adalah kritik halus terhadap homogenisasi rasa. Bakpia Day Yogyakarta versi Patuk mengingatkan bahwa cita rasa autentik tidak bisa diproduksi massal tanpa konteks. Ia lahir dari ruang, sejarah, dan orang-orang yang merawatnya. Kesimpulannya jelas: jika ingin bakpia tetap menjadi identitas, bukan sekadar oleh-oleh, maka festival seperti Bakpia Day harus terus berpihak pada komunitas, bukan hanya pada pasar.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!