Mengapa anak lebih rentan terhadap asap
Asap polusi anak adalah campuran partikel halus dan gas berbahaya yang dapat mengiritasi saluran napas, memicu gangguan pernapasan, dan memperburuk risiko kesehatan ketika paparannya berlangsung pekat atau lama. Risiko pada anak lebih besar karena mereka menghirup lebih banyak udara dibandingkan berat badannya, sementara sistem pernapasan dan kekebalan tubuh masih berkembang.
Partikel PM2,5 dan PM10 dari kebakaran dapat masuk jauh ke saluran napas; paparan jangka pendek bisa memicu batuk, pilek, radang tenggorokan, sesak, hingga ISPA. Anak dengan asma, penyakit jantung bawaan, atau gangguan paru kronis menghadapi risiko lebih tinggi. Karena itu, kabut yang terasa mengganggu bukan sekadar masalah kenyamanan.
Skala kasus menunjukkan alasan untuk waspada. Kemenkes mencatat 314.124 kasus ISPA terdampak karhutla pada 20 Agustus–20 Oktober 2026, termasuk 70.890 kasus pada anak di bawah lima tahun. Angka ini tidak membuktikan setiap kasus disebabkan langsung oleh asap, tetapi cukup menjadi peringatan agar orang tua tidak menganggap gejala napas anak sebagai keluhan sepele.

Kenali gejala dan jangan menunggu sesak memburuk
Batuk, pilek, radang tenggorokan, demam, dan sesak napas termasuk gejala yang dapat muncul ketika anak terpapar asap atau mengalami ISPA. Keluhan tersebut tidak selalu menandakan bahwa asap adalah penyebabnya, sebab penentuan diagnosis memerlukan pemeriksaan. Namun, kesulitan bernapas atau keluhan yang menetap patut ditangani segera, bukan ditunggu sampai anak tampak sangat lemah.
Orang tua sebaiknya memperhatikan perubahan napas, batuk yang mengganggu tidur, dan kesulitan anak menghirup udara dengan nyaman. Bayi dan balita perlu diamati dengan saksama karena mereka belum dapat menjelaskan keluhan seperti orang dewasa. Jika muncul sesak, demam yang tidak kunjung reda, atau batuk yang terus berulang, hubungi tenaga kesehatan untuk penilaian. Jangan menyimpulkan sendiri bahwa semua gejala semata-mata akibat kabut asap.
Risiko juga tidak berhenti pada keluhan sementara: paparan berkepanjangan berpotensi menimbulkan kerusakan paru permanen, PPOK, gangguan jantung dan pembuluh darah, hingga kanker paru. Ini bukan alasan untuk mendiagnosis dampak jangka panjang pada anak dari satu episode batuk, melainkan pengingat bahwa mengurangi paparan dan mencari pertolongan saat gejala muncul adalah pilihan yang lebih aman.
Kisah yang menegaskan pentingnya pemeriksaan
Di Palembang, Aisya






