Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Mengapa Target Pertumbuhan 5,4%-6% Terlalu Ambisius

Mengapa Target Pertumbuhan 5,4%-6% Terlalu Ambisius
Minat|Asia Tenggara

Definisi masalah: target tinggi, realitas 5,2 persen

Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 adalah laju peningkatan output barang dan jasa yang diukur melalui produk domestik bruto riil, yang dipengaruhi oleh konsumsi, investasi, belanja pemerintah, dan ekspor-impor, serta dibatasi oleh inflasi, suku bunga, dan dinamika ketidakpastian global ekonomi yang mengubah perilaku pelaku usaha dan rumah tangga sekaligus ruang kebijakan fiskal serta moneter. Di atas kertas, pemerintah menargetkan pertumbuhan di kisaran 5,4%-6% pada 2026, namun proyeksi OECD dan ADB yang kompak di 5,2% memberi sinyal bahwa mesin ekonomi nasional belum cukup kuat untuk menembus batas atas tersebut. Kenaikan proyeksi OECD menjadi 5,2% bahkan baru terjadi setelah revisi 0,5 poin persentase dari laporan sebelumnya. Artinya, kabar baik soal perbaikan proyeksi datang bersama pesan tersirat: batas realistis pertumbuhan masih terpaku di angka lima koma dua.

Optimisme terbatas OECD dan ADB: kuat, tapi tidak spektakuler

OECD menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 menjadi 5,2 persen, naik 0,5 poin persentase dari perkiraan sebelumnya dalam laporan Juni. Lembaga ini melihat ekonomi masih ditopang permintaan domestik yang tangguh dan perbaikan terms of trade yang mendorong investasi. Nada senada datang dari ADB yang juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 sebesar 5,2 persen, sejalan dengan perkiraan OECD. Di tingkat kawasan, ADB memprediksi Asia Tenggara tumbuh 4,7 persen pada 2026 dan 4,9 persen pada 2027, dengan beberapa negara tetangga bahkan diproyeksi melaju lebih kencang. "Pertumbuhan Indonesia diproyeksikan relatif stabil, sebesar 5,2 persen pada 2026 dan 5,1 persen pada 2027". Stabil berarti aman, tetapi juga menyiratkan bahwa lompatan menuju target pemerintah 5,4%-6% bukan baseline, melainkan skenario optimistis yang butuh dorongan ekstra.

Target pemerintah 5,4%-6% dan tembok ketidakpastian global

Kepala Ekonom Bank Danamon Indonesia Irman Faiz menilai target pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 5,4% hingga 6% pada 2026 "cukup menantang" untuk dicapai. Ia sendiri memperkirakan pertumbuhan tahun ini hanya sekitar 5,2% year on year, atau di bawah target pemerintah. Tantangan utamanya bukan semata kinerja domestik, melainkan ketidakpastian global ekonomi. OECD memperingatkan prospek global masih dibayangi ketidakpastian tinggi, terutama dari perkembangan pasar energi dan konflik di Timur Tengah. Di level lebih mikro, Irman menyebut ketidakpastian global, suku bunga yang lebih tinggi, tekanan harga energi, dan ruang konsumsi domestik yang melemah pada semester II sebagai faktor yang mulai menahan momentum pertumbuhan. Dengan lingkungan seperti ini, mengincar 5,4%-6% tanpa penyesuaian strategi sama saja berharap angin sakal berubah menjadi angin pendorong.

Belanja dan investasi: mesin utama di semester II

Meski tembok tantangan tinggi, bukan berarti ruang manuver tertutup. Irman menilai investasi tetap menjadi penopang penting pada semester II, terutama yang terkait hilirisasi, infrastruktur, pusat data, dan ekonomi digital. Investasi jenis ini relatif tahan guncangan dan dapat menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 tetap di kisaran proyeksi OECD dan ADB, yaitu 5,2 persen. Di sisi lain, percepatan belanja pemerintah pada paruh kedua tahun, termasuk pemanfaatan Saldo Anggaran Lebih, berpotensi memberi dorongan tambahan pada aktivitas domestik. Kombinasi belanja dan investasi inilah yang diperkirakan menjadi penopang utama pertumbuhan, menggantikan konsumsi rumah tangga yang ruangnya dinilai tidak sekuat semester I. Namun, untuk mengangkat laju dari 5,2% menuju target pemerintah 5,4%, akselerasi semester II harus jauh di atas tren, bukan sekadar sedikit lebih baik.

Risiko inflasi dan El Niño: ruang kebijakan makin sempit

Di tengah usaha mengejar target, risiko inflasi tidak bisa dianggap gangguan kecil. OECD memperkirakan inflasi Indonesia naik menjadi 3,3 persen pada 2026, sebelum turun menjadi 3,0 persen pada 2027. Kenaikan ini masih dalam koridor moderat, tetapi berpotensi membesar jika dampak El Niño menekan pasokan pangan dan energi. OECD mengakui kebijakan dukungan harga pemerintah sementara meredam tekanan kenaikan harga energi. Namun, penahan harga adalah solusi jangka pendek yang menyempitkan ruang fiskal, sementara suku bunga tinggi menahan agresivitas moneter. Dalam situasi seperti ini, mengejar target pemerintah 5,4 persen justru berisiko memicu ketegangan antara stabilitas harga dan ambisi pertumbuhan. Tanpa reformasi struktural yang memperkuat produktivitas dan ketahanan sektor riil, tekanan inflasi hanya akan membuat setiap tambahan 0,1 poin pertumbuhan menjadi semakin mahal secara kebijakan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!