Dua capaian, dua ajang berbeda
Prestasi siswa SD dalam kompetisi bahasa Inggris adalah bukti bahwa kemampuan akademik anak dapat berkembang melalui latihan, minat, dan kesempatan untuk menguji diri. Dua siswi baru-baru ini mencatat hasil yang membanggakan, tetapi capaian mereka perlu dibaca sesuai jalur masing-masing, bukan disatukan seolah berasal dari perlombaan yang sama.
Razqya Shenaura Alka Pradisa, siswi kelas 4D At-Takwir SD Prestasi Global Depok, meraih juara pertama bidang Bahasa Inggris dalam Lomba Kompetisi Indonesia Season 1. Sementara itu, Alesha Zahra Widodo, siswi kelas VI SDIT Anak Sholeh Mempawah, berhasil menembus final Olimpiade Bahasa Inggris tingkat nasional dalam 2nd Islamic Youth Festival JSIT Indonesia 2026. Juara pertama adalah hasil akhir yang telah diraih; lolos final merupakan tiket menuju babak penentuan. Perbedaan ini penting agar kabar prestasi keduanya tetap akurat sekaligus sama-sama diapresiasi.
Skor tinggi di tengah persaingan nasional
Keberhasilan Razqya punya ukuran yang jelas: kompetisi yang digelar secara daring itu diikuti 287 peserta dari berbagai daerah, dan ia memperoleh skor 95. Angka tersebut memberi konteks pada gelar juara pertamanya—bukan sekadar pengakuan sekolah, melainkan hasil dalam persaingan dengan peserta dari banyak wilayah.
Capaian ini juga memperlihatkan mengapa kompetisi bahasa Inggris layak menjadi ruang belajar, bukan hanya panggung untuk mencari pemenang. Siswa dapat menguji pemahaman dan kesiapan menghadapi soal yang menantang, sementara pengalaman bersaing bisa menumbuhkan keberanian. Pihak sekolah mendukung keikutsertaan murid dalam berbagai ajang sebagai bagian dari upaya mengembangkan kemampuan dan semangat belajar. Prestasi Razqya patut dirayakan, tetapi pesan yang lebih luas ialah bahwa ketekunan dan dukungan memberi anak kesempatan untuk menunjukkan apa yang telah dipelajari.

Alesha menuju final dengan bekal kebiasaan
Perjalanan Alesha menuju final memperlihatkan hasil dari minat yang tumbuh lama. Ia menyelesaikan 50 soal dalam 11 menit dengan satu jawaban keliru saat kompetisi tingkat Provinsi Kalimantan Barat, lalu menjadi satu-satunya wakil provinsi itu yang lolos ke final nasional pada ajang tersebut. Hasil itu berbeda dari gelar juara Razqya, tetapi sama-sama menandai kemampuan yang teruji.
Menurut kisah keluarganya, ketertarikan Alesha pada bahasa Inggris mulai terlihat saat berusia tiga tahun karena ia gemar menonton kartun berbahasa Inggris. Pada usia empat tahun, ia mulai terbiasa bercakap dalam bahasa itu bersama ibunya, dr. Aulia Rizkia. Sumber berita juga menyebut Alesha tidak pernah mengikuti kursus atau les bahasa Inggris di luar sekolah. Kisah ini bukan resep tunggal untuk semua murid, tetapi menunjukkan bahwa kebiasaan sehari-hari, ketekunan, dukungan keluarga, dan peran guru dapat saling menguatkan.
Final menjadi langkah berikutnya
Babak final nasional Alesha dijadwalkan berlangsung pada 14 November 2026 di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Jakarta, dan ayahnya, dr. Sugeng Eko Widodo, menyatakan akan mendampinginya. Dengan demikian, pencapaian yang diberitakan untuk Alesha masih berlanjut, sedangkan Razqya telah menuntaskan kompetisinya dengan posisi juara pertama di ajang berbeda.
Kedua kabar ini memberi gambaran yang lebih kaya tentang prestasi siswa SD daripada sekadar daftar pemenang. Ada gelar juara dengan skor tinggi, dan ada keberhasilan melaju ke babak final setelah performa kuat di tingkat provinsi. Keduanya layak mendapat perhatian tanpa perlu dibandingkan seolah-olah berada dalam satu klasemen. Kesimpulannya, capaian Razqya dan Alesha menunjukkan bahwa kesempatan berkompetisi dapat menjadi dorongan bagi anak untuk mengembangkan kemampuan; hasil akhirnya berbeda, tetapi kerja belajar di baliknya sama-sama patut dihargai.






