Pameran sebagai pintu masuk, bukan garis akhir
UMKM kerajinan kayu ekspor adalah usaha kecil dan menengah yang mengolah kayu menjadi produk bernilai jual untuk dipasarkan kepada pembeli lintas negara dengan kesiapan mutu, desain, dan transaksi. Trade Expo Indonesia 2026 memberi pelaku usaha ruang untuk memperkenalkan produk dan menjajaki kerja sama dengan pembeli internasional. Pameran berlangsung pada 14–18 Oktober di ICE BSD City, Tangerang. Skala acara memperbesar peluang bertemu calon mitra: sekitar 1.873 perusahaan mengisi lima zona, termasuk fesyen dan kerajinan tangan serta perabot dan dekorasi rumah, sementara pembeli datang dari lebih dari 134 negara. Namun, keramaian pameran bukan jaminan pesanan. Nilainya terletak pada akses yang sulit dibangun sendiri; pelaku usaha perlu mengubah pertemuan menjadi tindak lanjut konkret. Karena itu, persiapan sebaiknya berpusat pada kejelasan keunggulan produk, bukan semata-mata tampilan stan.
Produk unggulan harus disertai kesiapan berdagang
Peruri memfasilitasi dua UMKM binaannya untuk mengikuti Trade Expo Indonesia 2026 sebagai upaya memperluas akses pasar ekspor. Salah satunya, D’craft Indonesia, menawarkan produk kriya premium ramah lingkungan berbahan dasar kayu; peserta lainnya, Dakey House, mengembangkan media tanam dari limbah kelapa. Kehadiran D’craft menunjukkan bahwa kerajinan kayu dapat menonjolkan bahan dan nilai tambah, bukan hanya bentuk. Namun, calon pembeli perlu mendapat alasan yang jelas untuk melanjutkan percakapan setelah melihat produk. Menurut saya, pelaku usaha sebaiknya datang dengan informasi produk yang konsisten, contoh yang mewakili mutu, dan jawaban tentang kemampuan memenuhi pesanan. Itu bukan formalitas: pameran menyediakan kesempatan memperkenalkan produk secara langsung dan menjajaki kemitraan, sementara kerja sama bisnis serta kontrak dagang masih harus diperjuangkan setelah pertemuan. Ukuran keberhasilan bukan sekadar tampil, melainkan tindak lanjut yang membuka hubungan dagang.
Pendampingan membantu usaha daerah menjangkau pembeli
Dukungan kelembagaan penting karena akses ke pameran saja belum cukup untuk membantu UMKM menyiapkan langkah ke pasar yang lebih luas. Bandara Internasional Supadio mendampingi pelaku UMKM dalam ajang tersebut untuk mendukung perluasan pemasaran produk unggulan Kalimantan Barat. Peruri, melalui program pembinaan dan inkubasi, memfasilitasi dua UMKM binaannya untuk berpartisipasi. Kedua contoh ini memperlihatkan peran pendamping yang berbeda tetapi saling melengkapi: membuka akses partisipasi dan memberi pelaku usaha kesempatan bertemu calon mitra. Bagi UMKM daerah, dukungan semacam ini membuat perluasan pasar internasional lebih terjangkau sebagai langkah yang bisa dijajaki, bukan sekadar cita-cita. Supadio berharap dukungan berkelanjutan dapat memperkuat ekosistem perdagangan dan kewirausahaan di Kalimantan Barat. Harapan itu layak diterjemahkan menjadi pendampingan yang berlanjut setelah pameran, ketika calon mitra perlu ditindaklanjuti. Pada akhirnya, ekspor tumbuh dari produk yang siap dan hubungan bisnis yang dirawat.







