Teras Samarinda Tahap II: Lebih dari Sekadar Taman Kota di Tepi Mahakam
Teras Samarinda Tahap II adalah proyek ruang publik yang mengembangkan tepian Sungai Mahakam menjadi waterfront kota yang terintegrasi, dengan fungsi rekreasi, olahraga, dan interaksi sosial, sekaligus menata ulang infrastruktur publik Samarinda agar lebih tertib, aman, dan estetis bagi warga yang menikmati kawasan sungai di tengah kota. Peresmian resmi segmen 2, 3, dan 4 dijadwalkan pada Sabtu malam, 29 Agustus, setelah Wali Kota Andi Harun melakukan serangkaian inspeksi lapangan untuk memastikan pekerjaan fisik dan estetika kawasan benar-benar siap digunakan masyarakat umum. Keputusan membuka lebih cepat dari jadwal semula menunjukkan bahwa pemerintah kota menjadikan pengembangan waterfront Mahakam sebagai prioritas strategis, bukan proyek kosmetik yang sekadar merapikan tepian sungai tanpa perubahan tata kelola.

Inspeksi Wali Kota dan Standar Estetika: Ruang Publik Harus Serius
Pembukaan Teras Samarinda Tahap II bukan sekadar memotong pita, melainkan ujian keseriusan kota dalam merawat infrastruktur publik Samarinda. Wali Kota Andi Harun memimpin langsung inspeksi lapangan pada 24 dan 25 Agustus untuk memfinalisasi kesiapan peresmian segmen 2, 3, dan 4, sambil menegakkan SOP sebelum penandatanganan peresmian resmi. Dari pengecekan akhir, ia menyatakan kawasan "secara umum sudah siap digunakan masyarakat" meski sejumlah pekerjaan kecil masih berjalan dan tidak mengganggu pembukaan. Menariknya, fokus koreksi bukan hanya pada struktur, tetapi pada detail estetika: rumput taman yang mengering diganti, sprinkler ditambah, pompa air dioptimalkan, dan furnitur gedung yang dinilai tidak kompatibel diperintahkan untuk diganti. Sikap ini penting: ruang publik yang layak bukan hanya kuat secara fisik, tetapi juga terawat dan enak dipandang sepanjang waktu, bukan hanya saat hari peresmian.

Parkir Dipindah ke Basement Pasar Pagi: Mengembalikan Tepian Sungai untuk Pejalan Kaki
Salah satu keputusan paling berani dalam pengembangan Teras Samarinda Tahap II adalah penataan ulang parkir di kawasan tepian sungai. Pemerintah kota tidak lagi mentoleransi median jalan depan Pasar Pagi sebagai lokasi parkir, dan berencana memasang pagar agar area tersebut dikembalikan pada fungsi lalu lintas dan keselamatan. Pengunjung dialihkan menggunakan basement gedung Pasar Pagi baru sebagai area parkir, sehingga ruang di permukaan bisa dimaksimalkan untuk aktivitas pejalan kaki, keluarga, dan pengguna ruang publik. Sikap Andi Harun yang menilai berjalan kaki dari basement ke Teras Samarinda selaras dengan konsep ruang publik—rekreasi yang mendorong gerakan fisik dan olahraga—layak diapresiasi. Jika konsisten diterapkan, kebijakan ini akan mengubah kultur kota: tepian sungai bukan lagi deretan mobil parkir, melainkan koridor pedestrian waterfront Mahakam yang ramah warga dan lebih tertib sebagai bagian dari revitalisasi tepian sungai.

Dampak bagi Warga: Alternatif Ruang Publik dan Tantangan Perawatan
Bagi warga, Teras Samarinda Tahap II segmen 2–4 adalah penambahan signifikan dalam jajaran ruang publik kota. Kawasan ini diharapkan menjadi alternatif baru untuk bersantai, berolahraga, dan menikmati pemandangan Sungai Mahakam, melengkapi Teras Samarinda Tahap I yang sudah lebih dulu hidup sebagai titik kumpul warga. Secara fisik, pembangunan dinilai sudah siap digunakan masyarakat, dengan sisa pekerjaan minor seperti area bongkar muat di sebelah kanan gedung pelabuhan dan penyempurnaan elemen arsitektur yang masih dituntaskan oleh penyedia jasa. Pengelolaan kebersihan akan melibatkan Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Perhubungan, menunjukkan bahwa proyek waterfront ini menuntut koordinasi lintas dinas, bukan hanya urusan konstruksi. Namun, tantangannya jelas: tanpa perawatan konsisten—mulai dari rumput sampai furnitur—revitalisasi tepian sungai bisa cepat memudar. Warga pun perlu ikut menjaga, karena ruang publik yang aktif bergantung pada budaya penggunaan yang tertib.
Segmen 1 dan Masa Depan Waterfront Mahakam
Peresmian kali ini sengaja dibatasi pada segmen 2, 3, dan 4, sementara segmen 1 yang menjadi jembatan penghubung langsung antara Teras Samarinda Tahap II dan Tahap I masih dalam pengerjaan dan terikat kontrak hingga Desember. Targetnya, penghubung itu dapat diresmikan sebelum malam pergantian tahun, sehingga seluruh rangkaian Teras Samarinda menyatu sebagai koridor waterfront yang utuh di tepi Mahakam. Artinya, proyek pengembangan waterfront Mahakam belum selesai; justru baru memasuki fase di mana integrasi ruang publik, lalu lintas, dan aktivitas pelabuhan diuji dalam praktik sehari-hari. Jika pemeliharaan oleh Dinas PU dan disiplin kebersihan oleh dinas terkait berjalan konsisten, kota ini berpeluang menjadikan sungainya sebagai halaman depan, bukan lagi halaman belakang yang dipenuhi parkir liar dan fasilitas seadanya. Teras Samarinda Tahap II adalah pesan tegas: tata ruang kota bisa berubah, selama ada kemauan politik dan dukungan warga.






