Dari Dokumentasi ke Cerita: Saat Kota Menjadi Tokoh Utama
Fotografi dokumenter kota adalah praktik menggunakan foto untuk merekam kehidupan urban dengan pendekatan kritis dan puitis, sehingga jalan, bangunan, dan penghuninya tidak tampil sekadar sebagai objek visual, tetapi sebagai rangkaian narasi visual urban yang memuat pengalaman, konflik, ingatan, dan harapan kolektif warga kota. Di sinilah kolaborasi 12 fotografer dalam proyek bertajuk “Suradaya – What Remains Unseen” menunjukkan kenapa kamera tidak cukup berhenti pada fungsi dokumentasi. Pelatihan yang diikuti 12 fotografer dari Indonesia dan Jerman ini diselenggarakan oleh Wisma Jerman Surabaya dan Institut Français d'Indonésie Surabaya dengan dukungan Franco-German Cultural Fund (FGCF). Dengan memilih Surabaya sebagai ruang jelajah, mereka membuktikan bahwa kota bisa dibaca seperti buku: bab demi bab, sudut demi sudut, dengan suara yang berbeda-beda namun saling menguatkan.
Dua Belas Pasang Mata, Satu Kota dengan Banyak Wajah
Kolaborasi fotografer lokal dan internasional ini dimulai dari panggilan terbuka yang menjaring puluhan pelamar, sebelum disaring menjadi 12 peserta yang berproses intens selama satu bulan penuh. Mereka datang dengan latar belakang beragam: ada yang terbiasa berkarya di ranah jurnalistik, ada yang dekat dengan seni visual, ada pula yang membawa pengalaman personal. Dari puluhan pendaftar, 12 peserta terpilih untuk berproses bersama selama satu bulan penuh. Hasilnya bukan satu narasi tunggal tentang kota, melainkan mozaik narasi visual urban yang justru menarik karena tidak sepakat pada satu cara pandang. Dari 12 karya yang dihasilkan, masyarakat diajak melihat bahwa sebuah kota selalu menyimpan lebih banyak cerita daripada yang diduga. Di sinilah kekuatan kolaborasi fotografer lokal: mereka saling menambal celah, mengisi kekosongan, dan menantang stereotip yang terlalu datar.
Gaya Visual yang Berbeda, Cerita Lokal yang Saling Menyambung
Setiap fotografer datang dengan gaya visual dan titik tolak berbeda untuk mengangkat aktivitas, pengalaman, dan cerita lokal. Salah satu peserta, Sherly Aprilia, menggunakan ketertarikannya pada isu perempuan untuk memotret bonita, suporter perempuan klub Persebaya, termasuk sepasang bonita kembar yang mengelola toko pernak-pernik klub tersebut. Mentor menantangnya menembus permukaan: bukan hanya wajah fanatik di tribun, tetapi pertanyaan: dari mana lahir loyalitas itu, bagaimana ia diturunkan di dalam keluarga, hingga Sherly memotret ayah sang subjek dan momen konvoi 99 tahun Persebaya. Di lain sisi, Claudia Permatasari Suciono memilih menghadap trauma pribadi: ia kembali ke Surabaya setelah keluarganya terdampak kebakaran Pasar Turi dan menjadikan proyek ini semacam terapi visual. Dua arah ini—keluar menuju komunitas dan masuk ke dalam diri—membuktikan bahwa cerita melalui lensa bukan soal jarak, melainkan kedalaman.
Kota sebagai Arsip Hidup: Saat Objek Menjadi Narasi Sosial
Pelatihan yang dimulai 2 Juni 2026 ini tidak berhenti pada teknik memotret, tetapi mendorong peserta memikirkan bagaimana sebuah gambar mengonstruksi cara kita memandang kota. Setelah lima hari kelas literasi visual tentang arsip, mereka masuk ke kelas produksi foto dokumenter yang diampu Kai Löffelbein, yang menekankan ragam pendekatan dalam foto dokumenter dan cara memaksimalkan arsip sebagai sumber pengetahuan untuk bercerita. Pendekatan ini penting di era banjir gambar dan akal imitasi generatif; pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah foto itu "asli", tetapi cerita sosial apa yang ia bentuk. Melalui tiga lensa konseptual—apa yang terlihat, apa yang hilang, dan apa yang mungkin terjadi—para peserta mengkaji ulang citra-citra yang selama ini membentuk persepsi tentang Surabaya, lalu memproduksi ulang kota sebagai ruang hidup yang dibentuk oleh beragam cerita, aktivitas, dan pengalaman.
Narasi Visual Urban dan Risiko di Lapangan
Narasi visual urban tidak hanya lahir dari proyek terkurasi di dalam kota; ia juga terbentuk dari kerja lapangan yang berisiko tinggi di sekelilingnya. Bagi Muhammad Bagus Khoirunnas, kameranya adalah cara merekam peristiwa penting, termasuk ketika aktivitas Gunung Anak Krakatau meningkat. Ia memilih mengarahkan lensa ke gunung dan kehidupan warga di pesisir: orang yang duduk di pantai, anak-anak yang bermain bola, momen kecil yang menjelaskan bagaimana masyarakat hidup berdampingan dengan ancaman bencana. Speedboat yang ditumpangi Bagus bersama empat jurnalis lainnya kemudian dilaporkan kehilangan kontak pada Senin (7/9) sore. Pengalamannya mengingatkan bahwa cerita melalui lensa menuntut keberanian menghadapi medan, waktu, dan risiko. Ada peristiwa yang harus dicari, momentum yang harus ditunggu, dan cerita yang harus disampaikan melalui sebuah foto.
Mengapa Kolaborasi Menghasilkan Arsip yang Lebih Dalam
Keistimewaan “Suradaya – What Remains Unseen” terletak pada pendekatan kolaboratifnya. Pameran ini melibatkan 12 peserta muda dari Indonesia dan Jerman yang didampingi akademisi dan praktisi fotografi internasional, termasuk dari Hochschule Hannover dan École Nationale Supérieure de la Photographie (ENSP) Arles. Dalam proses itu, setiap hari peserta wajib membawa hasil foto untuk dipresentasikan, dibedah, dan diarahkan ulang. Ritme seperti ini membuat cerita-cerita individual saling berkait: satu proyek menyorot loyalitas suporter, yang lain mengurai trauma kebakaran, sementara yang lain lagi mungkin menyingkap detail kampung, makanan, atau budaya yang sering diabaikan. Melalui berbagai pendekatan tersebut, Suradaya menghadirkan Surabaya bukan semata-mata sebagai objek dokumentasi, melainkan sebagai ruang hidup yang dibentuk oleh beragam cerita, aktivitas, dan pengalaman. Kolaborasi mengubah kumpulan foto menjadi arsip visual multidimensional—jauh lebih kaya daripada karya individual yang berdiri sendiri.






