GIIAS sebagai Panggung Agresif Mobil China Indonesia
Penetrasi mobil China Indonesia melalui pameran otomotif adalah strategi ketika produsen otomotif China menggunakan ajang besar seperti GIIAS untuk menguji selera pasar, mengumpulkan pemesanan awal, sekaligus membangun citra merk secara cepat dengan kombinasi produk baru, test drive, dan pesan harga atau teknologi yang menantang pemain mapan.
Di GIIAS 2026 pameran, BAW dan GWM tampil sebagai dua nama baru yang langsung menantang arus utama. BAW mengumpulkan data ketertarikan dari 1.400 calon pelanggan potensial selama pameran 29 Juli–9 Agustus, lewat lima model yang dibawa ke booth mereka. Sementara itu, Inchcape GWM Indonesia mengantongi lebih dari 350 pemesanan kendaraan dalam periode pameran yang sama. Angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan bukti bahwa konsumen lokal bersedia menggeser perhatian dari merek lama ketika ditawari paket desain, fitur, dan teknologi yang terasa lebih segar.
Momentum ini memperlihatkan bahwa ruang pasar untuk produsen otomotif China bukan lagi di pinggiran. Mereka masuk lewat panggung paling ramai, mengincar segmen paling gemuk: SUV dan kendaraan keluarga, bukan ceruk kecil yang aman. Itu langkah berani, tetapi sesuai dengan perubahan selera konsumen yang kian rasional dan sensitif terhadap value.
BAW: Menjual T01 dan M8 Sambil Menyiapkan Produksi Lokal
Strategi BAW di GIIAS terlihat cukup jelas: bangun minat dulu, lalu susul dengan komitmen jangka panjang lewat produksi lokal. Di pameran tersebut, BAW menampilkan lima lini kendaraan andalan, yakni BAW T01 M8 bersama X03, D5, dan T10 Pro. Dari 1.400 calon konsumen yang tercatat, T01 menjadi primadona dengan kontribusi 30 persen, sementara minat terhadap M8 sebagai MPV listrik premium terbagi kuat di kalangan pembeli individu. Kombinasi SUV dan MPV listrik ini menargetkan dua pola penggunaan yang paling umum: mobil harian dan mobil keluarga.
Di balik panggung pameran, BAW bergerak menyusun fondasi industri. Melalui PT BAW Automobile Trading Indonesia, perusahaan menandatangani kerja sama dengan PT Handal Indonesia Motor untuk menjalankan proses perakitan kendaraan di dalam negeri. Mereka menargetkan tingkat komponen dalam negeri minimal 40 persen sebagai bagian dari strategi lokalisasi. Pernyataan resmi manajemen menyebut, "Kami berkomitmen mendukung kebijakan lokalisasi dan bekerja secara konsisten untuk mencapai setidaknya 40 persen TKDN melalui produksi lokal dan kerja sama dengan mitra."
Dari sudut pandang konsumen, langkah ini penting karena perakitan lokal di fasilitas berkapasitas 15 ribu unit per tahun diharapkan membuat rantai pasok lebih cepat merespons kebutuhan pasar dan meningkatkan penggunaan komponen lokal. Itu berarti potensi ketersediaan unit lebih stabil, waktu tunggu lebih pendek, dan jaringan purna jual yang tidak sekadar simbol kehadiran.
GWM: Mengandalkan Tank dan Ragam Teknologi untuk Menggoda SUV Hunter
Berbeda dengan BAW yang tampil sebagai pendatang baru total, GWM datang dengan pendekatan yang lebih matang: menonjolkan satu lini hero, Tank, sambil membawa variasi teknologi penggerak yang luas. Di GIIAS 2026 pameran, Inchcape GWM Indonesia membukukan lebih dari 350 pemesanan kendaraan, dengan lini GWM Tank pemesanan sebagai kontributor terbesar. Hampir 5.000 calon pelanggan tercatat mengunjungi booth mereka, meningkat sekitar lima kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Itu lonjakan perhatian yang sulit diabaikan di segmen SUV.
Menariknya, permintaan tidak berkumpul pada satu jenis powertrain saja, tetapi tersebar pada opsi diesel, battery electric vehicle (BEV), dan hybrid yang ditawarkan. Bagi konsumen, ini membuka ruang memilih SUV yang sesuai kebiasaan berkendara: tetap mengandalkan diesel untuk jarak jauh, mulai mencoba hybrid untuk efisiensi, atau melompat ke BEV penuh. GWM juga membawa enam model, termasuk Tank 500 Diesel Black Warrior Edition dan Tank 300 Diesel, sekaligus melakukan debut ORA 5 di pasar lokal.
Lebih dari 700 pengunjung memanfaatkan fasilitas test drive selama pameran, sebuah langkah yang memperkecil jarak antara rasa penasaran dan keputusan beli. Setelah hasil positif di ICE BSD, GWM berniat membawa momentum tersebut ke pameran lanjutan di kota lain. Jika mereka mampu menjaga kualitas pengalaman test drive, transparansi informasi teknologi, dan kejelasan layanan purna jual, keunggulan angka di pameran berpotensi berubah menjadi basis konsumen loyal yang kuat di segmen SUV menengah-ke-atas.
Apa Artinya untuk Konsumen dan Peta Persaingan?
Masuknya BAW dan GWM dengan cara seagresif ini mengubah cara kita memandang mobil China Indonesia. Dulu identik dengan harga miring dan kualitas meragukan, kini narasinya bergeser ke kombinasi desain modern, fitur melimpah, serta teknologi listrik dan hybrid yang selevel – atau bahkan melampaui – pemain mapan. Respons konsumen pun konkret: ribuan minat untuk BAW dan ratusan pemesanan untuk GWM hanya dalam hitungan hari pameran.
Bagi pengguna sehari-hari, dampaknya ada di tiga hal. Pertama, opsi semakin banyak untuk SUV kompak dan kendaraan keluarga, termasuk MPV listrik seperti M8 yang menawarkan kabin luas dan efisiensi tenaga listrik. Kedua, lokalisasi dan target TKDN 40 persen dari BAW menjanjikan ketersediaan suku cadang dan layanan purna jual yang lebih terorganisasi. Ketiga, kompetisi memaksa semua merek—termasuk pemain lama—untuk meningkatkan fitur, teknologi keselamatan, dan layanan tanpa serta-merta mengerek harga.
Ke depan, kuncinya bukan lagi sekadar mengumpulkan data minat di pameran, tetapi mengonversinya menjadi pengalaman kepemilikan yang meyakinkan: jaringan bengkel yang mudah dijangkau, nilai jual kembali yang wajar, dan konsistensi kualitas unit. Jika BAW berhasil memindahkan antusiasme terhadap T01 dan M8 ke jalur produksi lokal yang andal, dan GWM mampu menjaga kepercayaan pembeli Tank lewat layanan yang kuat, maka stempel "pendatang baru" akan cepat gugur, digantikan label pesaing penuh di pasar SUV dan kendaraan keluarga.






