Modernisasi Pertanian Tabalong: Strategi Dua Arah yang Tidak Bisa Ditunda
Modernisasi pertanian Tabalong adalah strategi dua arah yang menggabungkan pembangunan irigasi pertanian modern dengan penyaluran bantuan sarana prasarana pertanian langsung kepada kelompok tani Tabalong untuk meningkatkan produktivitas petani lokal sekaligus mengurangi risiko gagal panen. Pendekatan ini bukan sekadar program rutin, melainkan pilihan politik anggaran yang berani: di satu sisi pemerintah membangun fondasi fisik seperti saluran air, jalan usaha tani, dan sumur bor; di sisi lain, petani diberi amunisi berupa benih, alsintan, dan bibit hortikultura agar lahan yang sudah dibuka benar-benar menghasilkan. Tanpa kombinasi keduanya, modernisasi akan berhenti pada jargon, dan petani kembali dibiarkan menanggung beban iklim serta harga sendirian.
Langkah konkret terbaru terlihat di wilayah selatan, ketika Pemerintah Kabupaten Tabalong menyalurkan bantuan sarana dan prasarana pertanian kepada kelompok tani setelah panen padi di Desa Banua Rantau pada Kamis 10 September 2026. Paket bantuan pertanian Tabalong ini tidak kecil: benih padi untuk pertanaman musim kemarau se-Kecamatan Banua Lawas dengan total 36.750 kilogram, satu paket jalan usaha tani, irigasi dan sumur bor, ditambah dua paket irigasi perpompaan serta pengembangan cabai rawit di lahan tujuh hektare. Ini bukan simbolis belaka; angka-angka tersebut menunjukkan keseriusan investasi pada sisi produksi. Pernyataan Kepala DKP3 Fahrul Raji bahwa bantuan ini diharapkan meningkatkan produktivitas dan meminimalkan gagal panen menegaskan orientasi program yang jelas ke hasil di sawah, bukan sekadar seremonial.
Selatan Diperkuat Sarana Produksi: Insentif Nyata bagi Petani
Di wilayah selatan, arah kebijakan terlihat jelas: fokus pada bantuan sarana prasarana pertanian yang langsung terasa di tangan petani. Benih padi musim kemarau yang disalurkan ke seluruh Banua Lawas dengan berat 36.750 kilogram adalah sinyal kuat bahwa pemerintah tidak ingin petani kekurangan bahan tanam pada fase kritis. Dalam satu kalimat yang layak dikutip, "salah satu bantuan yang diserahkan berupa benih padi untuk pertanaman musim kemarau se-Kecamatan Banua Lawas, dengan total 36.750 kilogram". Dipadukan dengan pengembangan cabai rawit di lahan tujuh hektare, langkah ini membuka peluang diversifikasi pendapatan, sesuatu yang sering diseru namun jarang difasilitasi secara konkret.
Lebih penting lagi, bantuan sumur bor dan irigasi perpompaan menunjukkan kesadaran bahwa produktivitas petani lokal bertumpu pada ketersediaan air yang stabil, terutama saat musim kemarau. Pemerintah juga menyiapkan satu paket jalan usaha tani, irigasi, dan sumur bor, yang berarti akses ke lahan dan air diupayakan sekaligus. Kepala DKP3 menargetkan, bantuan ini sudah dapat dimanfaatkan pada musim hujan sekitar November, dengan perkiraan panen kembali pada bulan April berikutnya. Artinya, bantuan pertanian Tabalong di selatan bukan hibah satu kali, tetapi bagian dari siklus tanam terencana yang menghubungkan input, proses, hingga panen. Jika kelompok tani mampu mengelola bantuan ini secara kolektif dan transparan, selatan Tabalong berpeluang menjadi laboratorium keberhasilan modernisasi berbasis sarana produksi.
Utara Fokus Irigasi dan Alsintan: Menyiapkan Lompatan Lahan 500 Hektare
Berbeda dengan selatan yang telah menikmati bantuan langsung, wajah modernisasi di wilayah utara Tabalong justru dipusatkan pada perbaikan pondasi: irigasi pertanian modern dan penyelesaian bendungan. Wakil Bupati Habib Taufani Alkaf secara terbuka menyoroti kelemahan saluran irigasi di persawahan utara, yang dinilai “masih banyak kekurangan” sehingga menghambat optimalisasi lahan. Kritik ini muncul usai ia memimpin tanam perdana padi sistem PM-AAS di Kecamatan Jaro pada 21 Mei 2026, menandakan bahwa pemerintah menyadari kesenjangan antara potensi lahan dan kenyataan di lapangan.
Kunci lompatan ada pada Bendungan Kinarum di Kecamatan Upau. Potensi pengembangan sawah di sana diperkirakan mencapai sekitar 500 hektare jika bendungan selesai dikerjakan. Dengan kata lain, setiap keterlambatan penyelesaian infrastruktur berarti penundaan berlipat terhadap produktivitas petani lokal. Wabup menekankan perlunya dukungan alsintan modern untuk mendorong regenerasi petani milenial, sekaligus mengajukan proposal pengadaan bibit hortikultura seperti cabai dan bawang merah. Alsintan modern dan bibit unggul mulai masuk ke sektor pertanian dan perkebunan Tabalong, tetapi untuk lahan oplah masih dalam tahap perkembangan yang perlu terus dikawal instansi terkait. Pendekatan di utara ini menunjukkan bahwa pemerintah berusaha membangun ekosistem: air, alat, dan bibit, sebelum mengharapkan lonjakan produksi.

Pendekatan Dua Arah: Antara Infrastruktur, Bantuan Operasional, dan PR Besar di Lapangan
Jika dilihat dari atas, strategi Tabalong jelas mengarah pada pendekatan dua arah: infrastruktur dasar dan dukungan langsung ke petani berjalan paralel. Di selatan, bantuan sarana produksi seperti benih, jalan usaha tani, irigasi, sumur bor, dan irigasi perpompaan digelontorkan ke kelompok tani Tabalong untuk memperkuat siklus tanam segera. Di utara, pemerintah menyiapkan pondasi panjang melalui perbaikan saluran irigasi dan penyelesaian bendungan Kinarum yang berpotensi membuka 500 hektare sawah baru. Di atasnya, alsintan modern dan bibit hortikultura diusulkan sebagai penopang regenerasi petani milenial dan pengembangan hortikultura.
Program ini pada dasarnya menjahit investasi infrastruktur dengan bantuan operasional untuk mendukung produktivitas petani. Bantuan sumur bor dan irigasi diharapkan memenuhi kebutuhan air sekaligus mengurangi risiko gagal panen di musim kemarau, sementara penyelesaian irigasi dan bendungan ditargetkan memberi kesejahteraan yang nyata bagi petani melalui pertanian dan hortikultura yang berkembang. Namun masih ada pekerjaan rumah: memastikan distribusi bantuan tepat sasaran, menghindari ketergantungan, serta menyiapkan pendampingan manajemen usaha tani. Tanpa itu, irigasi pertanian modern bisa menjadi monumen beton, dan sarana prasarana pertanian hanya bertahan sebagai berita, bukan sebagai perubahan di sawah dan dompet petani.
Kesimpulan: Saatnya Menuntut Konsistensi, Bukan Sekadar Program
Kombinasi bantuan pertanian Tabalong di selatan dan fokus irigasi pertanian modern di utara menunjukkan bahwa pemerintah kabupaten sudah berada di jalur konsep yang tepat: infrastruktur dan input berjalan bersama. Kelompok tani Tabalong mendapat sinyal kuat bahwa pemerintah melihat mereka bukan objek, tetapi mitra produksi yang harus dibekali air, benih, alsintan, dan akses lahan. Jalannya kini bukan lagi soal ide, tetapi konsistensi eksekusi: menyelesaikan bendungan Kinarum, menutup kelemahan saluran irigasi, dan memastikan bantuan sarana prasarana pertanian dikelola transparan serta berkelanjutan.
Jika siklus yang sudah dirancang—mulai pemanfaatan bantuan pada musim hujan hingga panen yang diperkirakan April—berhasil dijaga, Tabalong berpeluang menunjukkan bahwa modernisasi pertanian tidak harus berarti meninggalkan petani kecil. Sebaliknya, produktivitas petani lokal dapat meningkat bersama kesejahteraan ketika investasi fisik bertemu dengan dukungan operasional yang terencana. Tugas publik adalah mengawasi, mengingatkan, dan terlibat, memastikan modernisasi bukan slogan baru yang menggantikan jargon lama, melainkan perubahan nyata di sawah, ladang, dan dapur petani.






