Mitos berawal sebelum bayi lahir
Mitos kesehatan bayi adalah kepercayaan yang diwariskan tentang kehamilan dan perawatan bayi, tetapi belum tentu selaras dengan pengetahuan medis atau kebutuhan kesehatan anak. Karena sering disampaikan oleh orang terdekat, kepercayaan ini dapat terasa seperti kewajiban, bukan sekadar saran. Kisah Yulia, seorang perempuan kelahiran 1959, memperlihatkan bagaimana tradisi menyertai keluarga sejak masa kehamilan hingga membesarkan anak. Ia mengingat anjuran minum air kelapa dan makan bengkuang agar kulit bayi bersih, serta larangan menyantap makanan pedas karena dipercaya membuat bayi kemerahan atau mengalami belekan. Keyakinan semacam itu tidak berhenti ketika bayi lahir: larangan dan ritual tertentu juga diwariskan sebagai perlindungan dari marabahaya. Di sinilah orang tua perlu membedakan nilai kebersamaan dalam tradisi dari klaim kesehatan yang seharusnya diperiksa. Menghormati keluarga tidak berarti harus menerima setiap petuah sebagai fakta.

Ketika kebiasaan budaya menjadi praktik berisiko
Tekanan budaya membuat praktik yang keliru sulit dihentikan karena kebiasaan tumbuh dari gagasan bersama, lalu dianggap sebagai cara merawat yang wajar. Pakar antropologi Universitas Padjadjaran Erna Herawati menjelaskan bahwa sistem gagasan membentuk perilaku budaya, termasuk cara masyarakat memberi makan bayi. Ia mencontohkan anggapan bahwa bayi menangis berarti lapar dan ASI kurang mengenyangkan; akibatnya, sebagian keluarga memberi makanan tambahan sebelum bayi berusia enam bulan. Di Jawa, contohnya pisang yang dikerok, sedangkan di Jawa Barat dapat berupa bubur atau makanan padat lain. Di NTB, ada pula kebiasaan mengunyahkan makanan sebelum menyuapkannya kepada bayi di bawah enam bulan. Praktik-praktik ini bukan sekadar pilihan pribadi ketika tekanan keluarga ikut menentukan. Namun, kedekatan dengan tradisi tidak menjadikannya aman: perawatan bayi harus menimbang kebutuhan biologis, bukan hanya kebiasaan yang diwariskan.

Linimasa bukan ruang konsultasi medis
Disinformasi kesehatan bayi di media sosial dapat mengemas kepercayaan lama dalam video yang meyakinkan, lalu menjangkau orang tua yang sedang cemas. Dokter spesialis anak RS KORPRI Pura Raharja Surabaya, Rahmah Yashinta, meminta ibu muda tidak menjadikan linimasa sebagai rujukan medis utama. Informasi yang beredar mencakup anggapan mistis tentang sawan hingga anjuran memberi madu atau air tajin kepada bayi. Saat anak demam dan kejang, misalnya, penjelasan gaib dapat mengalihkan perhatian dari risiko medis yang perlu dinilai. Rahmah menyebut suhu di atas 37,5°C sebagai demam dan mengingatkan risiko kejang meningkat saat suhu menembus 38,5°C. Ia juga menjelaskan bahwa ASI pada enam bulan pertama mencukupi kebutuhan bayi. Angka dan klaim seperti ini tetap perlu ditempatkan dalam konteks kondisi anak; unggahan viral bukan pemeriksaan klinis dan tidak dapat menggantikan saran tenaga kesehatan.

Uji nasihat, bukan hubungan keluarga
Orang tua tidak harus memilih antara menghormati keluarga dan melindungi kesehatan bayi. Cara yang lebih bijak ialah menerima nasihat dengan tenang, lalu memeriksa klaimnya kepada dokter anak—terutama bila menyangkut makanan, demam, kejang, atau tindakan yang dapat membahayakan bayi. Tanyakan apa dasar anjuran tersebut, kapan praktik itu aman, dan tanda apa yang memerlukan pertolongan medis. Hindari memberi bayi sesuatu hanya karena banyak orang di media sosial mengulanginya; popularitas bukan bukti keamanan. Sikap ini penting karena bayi belum dapat menjelaskan keluhan, sementara orang tua baru sering menghadapi banyak suara sekaligus. Tenaga medis dapat membantu memilah mana kebiasaan keluarga yang tidak bermasalah dan mana yang perlu dihentikan. Pada akhirnya, tradisi boleh menjadi bagian dari identitas keluarga, tetapi keputusan perawatan harus mengikuti kebutuhan dan keselamatan bayi. Nasihat terbaik bukan yang paling tua atau paling viral, melainkan yang dapat dipertanggungjawabkan secara medis.






