Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Bagaimana ‘Ain’t in L.A.’ Jadi Anthem Pemberdayaan Perempuan di TikTok

Bagaimana ‘Ain’t in L.A.’ Jadi Anthem Pemberdayaan Perempuan di TikTok
Minat|Menyanyi

Bukan Sekadar Lagu Viral: Apa yang Dibawa ‘Ain’t in L.A.’

Fenomena lagu ‘Ain’t in L.A.’ ADÉLA di TikTok adalah tren pemberdayaan perempuan yang memanfaatkan lirik berani tentang mimpi dan identitas untuk menantang standar kecantikan, kesuksesan, dan pusat perhatian yang selama ini terpaku pada kota-kota besar dan kehidupan glamor industri hiburan. Lagu “Ain’t In LA” karya penyanyi asal Slowakia, ADÉLA, kini tengah menjadi fenomena viral di platform TikTok. Namun yang membuatnya penting bukan hanya karena lagu ADÉLA viral, melainkan karena cara perempuan memakainya untuk mendefinisikan dirinya sendiri. Potongan liriknya berubah menjadi semacam lirik anthem perempuan: kalimat pendek yang terasa seperti manifesto pribadi, dibarengi visual diri, kota asal, dan kehidupan sehari-hari yang selama ini jarang dianggap layak dirayakan.

Bagaimana ‘Ain’t in L.A.’ Jadi Anthem Pemberdayaan Perempuan di TikTok

Dari Bratislava ke FYP: Musik, Kota Asal, dan Identitas

Popularitas lagu ini melejit setelah ADÉLA mengunggah video TikTok yang menyoroti kota asalnya, Bratislava di Slowakia. Unggahan tersebut memicu tren global dengan format kalimat, “Can’t always be LA, someone’s gotta hold it down in [nama kota asal]”. Di sinilah kuncinya: Ain't in L.A. TikTok bukan soal Los Angeles, melainkan soal mengklaim tempat sendiri. Musik video yang diambil di Bratislava dan kisah bahwa lagu ini ditulis terinspirasi foto sang ibu muda membuat narasi kota kecil dan sosok perempuan yang terlupakan menjadi pusat cerita. Ketika pada September 2026 lagu ini duduk di posisi ketujuh Spotify Daily Top Songs Global, yang ikut naik bukan hanya nama ADÉLA, tapi juga gagasan bahwa identitas perempuan dan asal-usul mereka layak mendapatkan panggung global.

“The Baddest Bitches Ain’t in L.A.”: Lirik yang Menyentil Standar Perempuan Keren

Di balik tren ini, ada satu kalimat yang terasa seperti pernyataan lantang: “The baddest bitches ain’t in L.A.”. Frasa inilah yang mengubah lagu ADÉLA viral menjadi tren pemberdayaan perempuan. Selama ini, imaji “perempuan keren” dilekatkan pada standar sempit: tubuh tertentu, gaya tertentu, hidup di kota tertentu, bekerja di industri yang dianggap bergengsi. ADÉLA membalik pakem ini. Melalui lirik “the baddest bitches ain’t in L.A.”, ia menegaskan bahwa perempuan keren tidak harus berada di Los Angeles, tidak harus tinggal di kota besar, bekerja di industri populer, atau memiliki hidup yang tampak sempurna di media sosial. Lagu ini ingin menggambarkan sosok perempuan dengan mimpi besar dan kemampuan hebat meski tidak hidup di kota industri hiburan megah seperti LA. Inilah inti lirik anthem perempuan yang membuat banyak orang merasa diwakili.

Dari Bedroom ke Panggung Global: Perempuan Merayakan Diri di TikTok

Di TikTok, potongan ‘Ain’t in L.A.’ mengiringi video yang menunjukkan pakaian yang mereka kenakan, wajah yang mereka banggakan, pekerjaan yang mereka jalani, kota tempat tinggal, perjalanan, sampai hal-hal kecil yang membuat mereka merasa cukup dengan dirinya sendiri. Lagu tersebut digunakan perempuan untuk menunjukkan penampilan, cara berpakaian, pencapaian, perjalanan, lingkungan tempat tinggal, bahkan sekadar menunjukkan dirinya sendiri. Tren ini membuktikan: perempuan bisa berada di Los Angeles, Bratislava, Jakarta, Flores, Papua, atau kota kecil mana pun dan tetap memiliki mimpi, kemampuan, cerita, serta kehidupan yang layak dirayakan. Lagu ini menjadi pengingat kuat bahwa potensi untuk bersinar dan meraih kesuksesan bisa datang dari mana saja, tanpa terbatas oleh letak geografis. Mengambil sedikit ruang untuk diri sendiri di layar kecil ternyata dapat menjadi bentuk pemberdayaan yang sering dilupakan.

Kekuatan dan Batas Pemberdayaan Digital: Musik sebagai Medium, Bukan Jawaban Tunggal

Melalui tren TikTok, lagu ‘Ain’t In L.A.’ terasa lebih dari sekadar backsound; ia menjadi medium untuk menyatukan musik dengan pengalaman personal masing-masing orang. Respons pendengar di media sosial menunjukkan bagaimana makna lagu tersebut berkembang dan menyentuh isu meninggalkan rumah, tekanan harus pindah ke kota besar, dan keberanian merayakan hidup di tempat asal. Namun, ada batas yang perlu diakui. Ketika algoritma terus memperlihatkan perempuan dengan kehidupan yang terlihat sempurna, kita perlu mengingat banyak perempuan lain yang perjuangannya tidak terekam kamera. Karena itu, ketika berbicara tentang tren pemberdayaan perempuan, penting untuk tidak menganggap pengalaman satu kelompok perempuan sebagai pengalaman semua perempuan dan tidak memaksa satu narasi menjadi universal. Musik dapat menjadi medium kuat representasi identitas di era digital, tetapi pemberdayaan sejati tetap menuntut ruang aman, kesempatan nyata, dan keberagaman cerita di luar layar.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!