Dua bekal yang menjawab kebutuhan pasar
Sertifikasi halal UMKM adalah pengakuan bahwa produk dan proses produksinya memenuhi standar halal yang berlaku, sehingga memberi konsumen kepastian sekaligus membantu usaha memperluas peluang pasar. Karena itu, sertifikat dan keterampilan digital sebaiknya dipandang sebagai bekal usaha yang saling melengkapi, bukan sekadar urusan administrasi. Pemerintah memfasilitasi sertifikasi halal gratis bagi 150 UMKM di Jawa Barat sekaligus membekali mereka dengan pelatihan pemasaran digital untuk memperluas jangkauan dan meningkatkan daya saing produk. Langkah ini hadir menjelang penerapan kewajiban sertifikasi halal. Bagi pelaku usaha kecil, pendampingan praktis menjadi penting agar kewajiban tersebut tidak berubah menjadi hambatan, melainkan bisa dimanfaatkan untuk memperkuat kepercayaan dan kesiapan usaha.
Skalanya menunjukkan besarnya pekerjaan yang masih harus diteruskan. Hingga Oktober 2026, sekitar 4,4 juta sertifikat halal telah diterbitkan untuk 3,47 juta pelaku usaha, mencakup 14,68 juta produk. Angka itu menegaskan kemajuan, tetapi akses dan pendampingan tetap perlu menjangkau lebih banyak usaha. Di Jawa Barat, program tersebut juga mendukung target 644.116 produk bersertifikat halal pada 2026.
Sertifikat membangun kepercayaan, konten membuka pasar
Sertifikasi memberi konsumen kepastian dan rasa aman, sementara pengakuan halal lintas negara dapat membantu produk membuka akses ke pasar internasional. Skema pengakuan sertifikasi melalui perjanjian saling pengakuan telah terjalin dengan 39 negara, memberi alasan bagi usaha untuk melihat sertifikat sebagai aset pasar, bukan hanya pemenuhan ketentuan. Namun, sertifikat saja tidak otomatis membuat produk ditemukan pembeli. Pelaku usaha juga perlu mampu menyampaikan keunggulan produk, membuat konten yang menarik, dan menjaga komunikasi dengan pelanggan. Pemasaran digital UMKM dapat membantu membangun merek sekaligus mendorong penjualan; tanpa kemampuan itu, produk yang telah memenuhi standar berisiko tetap sulit menjangkau pasar yang lebih luas.
Program di Jawa Barat melibatkan Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Kementerian Perindustrian, Tokopedia, dan TikTok Shop. Perpaduan lembaga publik dengan platform digital memberi peserta dukungan yang lebih dekat pada kebutuhan nyata: memenuhi standar dan mengenalkan produk. Pelatihan digital UMKM akan paling berguna bila keterampilan yang diajarkan dapat diterapkan langsung pada produk, konten, dan kanal penjualan masing-masing peserta.
Pendampingan lokal perlu berlanjut setelah pelatihan
Dukungan serupa juga datang dari sektor perbankan. BCA mengadakan lokakarya sertifikasi halal gratis di Kantor Cabang Utama Cibubur pada 13 Oktober 2026, yang diikuti 22 peserta, lalu di Pontianak pada 21 Oktober dengan 39 peserta. Peserta juga mendapat akses pembukaan rekening dan QRIS, dukungan yang menghubungkan kepatuhan produk dengan kebutuhan transaksi usaha sehari-hari. Sejak 2023, program BCA telah menjangkau 23 kabupaten/kota di 15 provinsi, dengan lebih dari 6.000 peserta dan lebih dari 4.000 sertifikat halal diterbitkan. Jangkauan tersebut patut diapresiasi, tetapi hasil jangka panjang bergantung pada apakah peserta memperoleh bantuan untuk menuntaskan proses dan menggunakan bekal baru setelah lokakarya.
Pengalaman pelatihan sebelumnya menunjukkan pendampingan digital juga dapat memperjelas pemahaman pasar. Pada 2025, sebanyak 400 peserta menerima sertifikat halal gratis serta mengikuti klinik pendampingan UMKM dan pelatihan pemasaran digital daring; pemahaman mereka tentang produk dan pasar meningkat 28,5%. Angka ini memperlihatkan nilai pelatihan yang terarah, bukan sekadar pengenalan alat. Agar daya saing UMKM meningkat secara berkelanjutan, program berikutnya perlu menjaga kesinambungan: membantu pelaku usaha menerapkan pengetahuan, memperbaiki materi promosi, dan menghubungkan produk dengan pembeli.

Ukuran keberhasilan adalah perubahan pada usaha
Sertifikasi halal dan pelatihan pemasaran digital memberi UMKM dua hal yang dibutuhkan untuk tumbuh: kepercayaan konsumen dan kemampuan menjangkau mereka. Namun, jumlah sertifikat atau peserta bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Dukungan akan lebih berarti bila pelaku usaha mampu menyelesaikan proses sertifikasi, mengelola transaksi, dan memakai kanal digital untuk memperluas pasar. BCA menyatakan akan terus mendorong inisiatif yang memberi nilai tambah bagi pertumbuhan UMKM. Komitmen itu perlu diterjemahkan menjadi pendampingan yang konsisten dan mudah diakses, termasuk setelah kegiatan selesai. Kesimpulannya, sertifikat membuka pintu, tetapi penerapan keterampilan dan dukungan lanjutanlah yang membantu UMKM melangkah melewatinya. Itulah cara paling nyata mengubah fasilitasi menjadi daya saing.






