Dari ‘Seribu Air Terjun’ ke Layar Global: Makna Terpilihnya Wae Lolos
Desa Wae Lolos Flores adalah sebuah desa wisata NTT di Kecamatan Sano Nggoang, Manggarai Barat, yang dijuluki Kawasan Seribu Air Terjun karena kekayaan air terjun, sungai jernih, dan hamparan sawah di kaki Pegunungan Mbeliling; terpilihnya desa ini sebagai salah satu Pékin Express filming location untuk reality show Prancis Musim 23 menjadikannya contoh bagaimana eksposur media global dapat mengubah wajah destinasi lokal menjadi destinasi wisata internasional dengan peluang ekonomi dan budaya yang jauh lebih luas.
Pemilihan Wae Lolos sebagai lokasi utama syuting bukan sekadar kabar gembira bagi warga setempat; ini adalah titik balik. Ketika ratusan kru dan peserta internasional menginjak tanah desa dan kamera reality show petualangan legendaris itu merekam setiap sudut kampung, Wae Lolos beralih dari destinasi unggulan alam NTT yang relatif sepi menjadi panggung yang ditonton jutaan pemirsa global. Jika dikelola dengan visi yang jelas, momentum ini bisa mengubah peta pariwisata Flores Barat untuk jangka panjang.

Pékin Express: Format Ekstrem yang Menonjolkan Kekuatan Desa
Pékin Express adalah reality show Prancis berformat balap lintas negara dengan anggaran amat terbatas, memaksa peserta menumpang kendaraan dan bermalam di rumah warga. Struktur acara yang bergantung pada keramahan lokal ini menjadi keuntungan besar bagi Wae Lolos. Bukan resort mewah yang ditampilkan, melainkan kehangatan rumah-rumah desa, sawah, jalan kampung, dan air terjun yang selama ini hanya dinikmati wisatawan yang datang langsung.
Musim ke-23 membawa 10 pasangan peserta melintasi rute panjang dari Pantai Koka di Flores, melalui Sumbawa, Lombok, Bali, lalu berakhir di Manila, dengan enam episode penuh berlokasi di Indonesia. Salah satu tantangan kunci adalah perlombaan sepeda mengelilingi Kampung Langgo, melintasi lereng perbukitan dan permukiman warga. Dalam format seperti ini, desa wisata bukan sekadar latar belakang, tetapi karakter utama yang menentukan ritme cerita. Wae Lolos tampil apa adanya: indah, menantang, dan sarat kehidupan sehari-hari.
Lonjakan Eksposur: Dari Syuting ke Kunjungan Wisata dan Ekonomi Lokal
Syuting Pékin Express di Wae Lolos berlangsung sejak akhir Agustus hingga Oktober, seiring perjalanan produksi yang dimulai di Pantai Koka pada 28 Agustus dan berakhir di Manila pada 8 Oktober. Selama periode ini, ratusan peserta dan kru televisi bergerak di desa, mengonsumsi layanan lokal dan berinteraksi intens dengan warga. Bagi ekonomi desa, kehadiran ini adalah simulasi mini dari masa depan: bagaimana rasanya ketika wisatawan internasional datang dalam jumlah signifikan, dan layanan lokal harus sanggup melayani.
Ketua Pokdarwis Cunca Plias, Robert Perkasa, menyebut kehadiran Pékin Express sebagai “peluang ekonomi baru bagi warga desa melalui peningkatan jumlah kunjungan wisatawan.” Kutipan ini penting: bukan sekadar berharap turis datang, tapi mengakui bahwa desa punya posisi tawar baru. Ketika tayang perdana di kanal M6 pada musim semi 2027, setiap adegan di Wae Lolos akan menjadi promosi gratis yang tidak mungkin mampu dibeli desa wisata mana pun. Tantangannya adalah menyiapkan kapasitas layanan dan tata kelola, agar lonjakan kunjungan nanti berujung pada kesejahteraan warga, bukan sekadar keramaian sesaat.
Infrastruktur dan Budaya: Antara Godaan Komersialisasi dan Pariwisata Berkelanjutan
Wae Lolos dikembangkan oleh Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores sebagai destinasi unggulan wisata alam NTT. Dengan status baru sebagai Pékin Express filming location, tekanan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur pariwisata akan meningkat: akses jalan, akomodasi, hingga fasilitas penunjang. Di satu sisi, ini peluang nyata untuk membuka lapangan usaha bagi warga. Di sisi lain, jika tidak hati-hati, pembangunan berpotensi mengorbankan keaslian lanskap yang justru membuat Wae Lolos menarik.
Robert menegaskan harapan agar kegiatan syuting tidak berhenti pada dampak jangka pendek, melainkan mendorong warga “semakin mencintai, melestarikan, dan menjaga keaslian alam serta budaya lokal sebagai modal utama pariwisata berkelanjutan.” Posisi ini krusial: desa wisata NTT seperti Wae Lolos harus menolak godaan menjadi sekadar spot foto massal. Ritual adat, pola bertani, hingga cara warga menyambut tamu mesti tetap sahih, bukan sekadar pertunjukan untuk kamera. Eksposur global idealnya memantik kesadaran bahwa identitas lokal adalah aset, bukan dekorasi.
Menuju Destinasi Wisata Internasional yang Berbasis Gotong Royong
Interaksi erat peserta dengan penduduk lokal, lengkap dengan tantangan bahasa dan budaya, menjadi salah satu daya tarik utama acara ini. Di Wae Lolos, interaksi itu akan melahirkan kisah emosional sekaligus memberi wawasan unik tentang kehidupan sehari-hari masyarakat desa. Jika warga memegang kendali atas narasi—menunjukkan gotong royong, keterbukaan, dan identitas kampung—maka Wae Lolos Flores tidak hanya tampil sebagai latar eksotis, tetapi sebagai komunitas yang sanggup mengelola kedatangan dunia ke halaman rumahnya.
Harapan yang diucapkan Robert bahwa “dengan semangat gotong royong dan keterbukaan terhadap budaya baru, Indonesia siap menyambut wisatawan dari berbagai belahan dunia dan menjadi destinasi wisata yang mendunia” adalah pernyataan sikap yang seharusnya dipegang semua desa wisata NTT. Kesimpulannya jelas: terpilihnya Wae Lolos sebagai lokasi syuting reality show Prancis bukan tujuan akhir, melainkan titik berangkat menuju model destinasi wisata internasional yang menempatkan warga sebagai subjek, alam sebagai titipan, dan budaya sebagai kompas.






