Keteguhan Berjualan di Tengah Krisis: Wajah Nyata Resiliensi Ekonomi Lokal
Pedagang jalanan tangguh adalah pelaku usaha kecil yang memilih tetap berjualan dalam kondisi ekstrem seperti bencana alam, sepinya pelanggan, atau hilangnya aset, dan melalui keteguhan berjualan sehari-hari mereka menjaga aliran penghasilan keluarga sekaligus menjadi penopang resiliensi ekonomi lokal yang membuat sebuah kampung atau kota tidak lumpuh sepenuhnya ketika krisis datang menghantam. Fenomena ini bukan romantisasi kemiskinan, melainkan kenyataan pahit bahwa dalam banyak krisis, negara dan pasar formal lambat bergerak, sementara pedagang kecil langsung menyesuaikan diri: menggelar lapak di bawah abu, menjaga warung di tepi longsor, atau setia membuka kios meski wisatawan hilang. Mereka adalah garis depan ekonomi, namun terlalu sering dipandang sekadar latar belakang.
Kisah-kisah Bu Retri, Mak Enok, dan Puji menunjukkan bahwa keteguhan pedagang bukan sekadar soal kerja keras, melainkan keputusan politis tubuh mereka: tetap berdiri di ruang publik, menuntut hak atas penghidupan. Di saat bencana alam pedagang paling dulu merasakan dampak, namun mereka juga yang paling cepat bangkit. Ketika pengunjung menurun, rumah tertimbun longsor, atau hujan abu menempel di gerobak, mereka memilih satu hal: jangan berhenti berjualan. Sikap ini layak dibaca bukan sebagai kebiasaan, tetapi sebagai bentuk perlawanan terhadap nasib yang ingin meminggirkan mereka dari ruang ekonomi.
Bu Retri: Dua Puluh Enam Tahun Menjaga Lapak di Songgoriti yang Sepi
Di kawasan wisata Songgoriti yang dulu ramai, kini hanya riuh kenangan dan kios-kios yang lebih banyak tutup daripada buka. Di tengah penurunan wisatawan yang panjang sejak pandemi, Bu Retri, pedagang sayur dari Sidomulyo, memilih tetap bertahan setelah kurang lebih 26 tahun menggantungkan hidup di sana. Dalam seminggu, ia kadang hanya memperoleh sekitar Rp50 ribu, dan kadang tidak mendapat apa-apa sama sekali. Namun, ia tetap bangun, datang, dan menggelar sayur di pasar yang pengunjungnya kian menipis. "Kadang dapat, kadang tidak sama sekali. Dalam seminggu kadang hanya dapat 50 ribu rupiah," adalah kalimat yang merangkum betapa tipis jarak antara usaha dan kerugian bagi pedagang kecil.
Ada ironi yang tajam di Songgoriti: sekitar 150 stand tersedia, tetapi hanya sekitar 15 pedagang yang aktif saat akhir pekan dan lebih sedikit lagi di hari biasa. Sepi wisatawan bukan hanya masalah sektor pariwisata, melainkan pukulan langsung ke dapur pedagang seperti Bu Retri. Pendapatan yang menurun tidak membuat beban berkurang; mereka tetap wajib membayar retribusi harian kepada pengelola pasar. Di sinilah keteguhan berjualan tampak telanjang: pedagang jalanan tangguh ini memaksa diri hadir meski tahu kemungkinan rugi. Harapan mereka sederhana namun tegas: pembenahan kawasan dan kebijakan yang berpihak agar Songgoriti bangkit, bukan sekadar wacana koordinasi antara pemerintah kota dan kabupaten yang terdengar namun belum berwujud nyata di lapak mereka.

Mak Enok: Mendirikan Warung Lagi di Ujung Longsor dan Duka
Jika keteguhan Bu Retri berhadapan dengan sepi, keteguhan Mak Enok berhadapan langsung dengan kematian dan reruntuhan. Longsor yang menerjang kampungnya mengubur lebih dari 30 rumah dan menewaskan lebih dari 90 jiwa dalam satu malam, menghapus tatanan hidup warga yang mayoritas petani. Di tepian longsor itu, rumah Mak Enok rusak berat; dapur terbuka, dinding hancur, dan warung kecilnya ikut lenyap sebagai sumber penghasilan. Dalam kekacauan pencarian korban, ia memilih menyumbangkan seluruh barang dagangannya kepada tim SAR dan relawan, sehingga warungnya berhenti beroperasi total. Keputusan ini menggambarkan bahwa pedagang jalanan tangguh juga merupakan jaringan solidaritas pertama di lokasi bencana alam pedagang: mereka menyumbangkan stok yang seharusnya menjadi pemasukan demi menyambung nyawa orang lain.
Tujuh bulan setelah longsor, ketika banyak orang mungkin sudah menyerah atau pindah, Mak Enok mulai lagi dari nol. Ia kembali membuka warung di depan rumah dengan jumlah barang yang sangat terbatas, etalase yang dipenuhi ruang kosong, dan pelanggan yang hilang bersama rumah-rumah yang tertimbun tanah. Setiap hari ia menjaga warung, menunggu pembeli yang mungkin tidak datang, sambil bertanya lirih: "Kalau warganya tidak ada, siapa yang beli?". Sebelum bencana, ia sudah terbiasa hidup di pinggir: menggantungkan hidup dari kebun labu siam dengan panen 1 hingga 1,5 ton yang sebagian besar habis untuk membayar utang, dan menambah penghasilan lewat berjualan gorengan keliling dari modal seperempat kilogram tepung. Resiliensi ekonomi lokal di kampungnya dulu dibangun dari kerja keras seperti itu; kini, ia berusaha menyalakan kembali bara ekonomi tersebut dari warung yang nyaris kosong.
Puji dan Hujan Abu Vulkanik: Tetap Menggoreng di Bawah Langit yang Mengancam
Di kota lain, seorang pedagang bernama Puji menghadapi bentuk bencana yang berbeda: erupsi Gunung Anak Krakatau yang menurunkan hujan abu vulkanik hingga mengganggu aktivitas warga di sekitar lapaknya. Debu tipis menempel di gerobak dan peralatan pedagang kaki lima di jalan tempat ia berjualan, mengubah ruang usaha menjadi area berisiko bagi kesehatan. Saat malam erupsi, abu turun pekat dan masuk ke tempat memasak, memaksa Puji menutup gerai lebih awal demi keselamatan. Keputusan itu menunjukkan bahwa keteguhan berjualan bukan berarti abai terhadap risiko; pedagang jalanan tangguh justru harus cepat mengambil keputusan di antara kebutuhan penghasilan harian dan perlindungan diri.
Namun keesokan harinya, ia kembali membuka lapak seperti biasa, karena tidak ada tabungan besar yang bisa menanggung hari-hari tanpa penghasilan. Menurut pengalamannya, minat beli masyarakat tetap stabil karena kebutuhan makan tidak berhenti hanya karena abu turun dari langit. Omzetnya tidak menurun, tetapi beban kerja teknis bertambah: membersihkan area memasak lebih intens, memindahkan penggorengan ke dalam ruangan, dan mengelola bahan baku pisang yang kulitnya tampak kehitaman akibat abu panas. Di sini resiliensi ekonomi lokal terlihat sangat konkret: UMKM di kawasan itu memilih tetap melanjutkan jual beli, memastikan lingkungan sekitar punya akses makanan sekaligus memulihkan ritme kehidupan harian setelah erupsi. Keteguhan Puji mengingatkan bahwa pemulihan pasca-bencana bukan hanya soal bantuan, melainkan keberanian pedagang terus beroperasi.

Mengakui Peran Pedagang Jalanan Tangguh: Dari Simpati ke Tanggung Jawab Kolektif
Tiga kisah ini menyusun gambaran yang konsisten: pedagang kecil selalu berada di garis depan ketika krisis ekonomi dan bencana alam menghantam. Bu Retri menunggu kebijakan pembenahan Songgoriti sambil menahan sepi pengunjung dan kewajiban retribusi harian. Mak Enok menjaga warung di tepi longsor, menyusun kembali hidup di atas puing, sekaligus merawat ingatan atas keluarga dan tetangga yang hilang. Puji membuka lagi gerainya setelah hujan abu, merapikan ruang memasak, dan memastikan warga tetap punya tempat membeli makanan. Dedikasi mereka bukan sekadar kisah perjuangan pedagang, tetapi simbol resiliensi ekonomi lokal yang menjaga kampung dan kota tetap berdetak ketika sistem formal goyah.
Pertanyaannya: sampai kapan kita hanya mengagumi keteguhan berjualan itu tanpa mengubah struktur yang membuat mereka selalu berada di posisi paling rentan? Harapan pedagang Songgoriti atas pembenahan kawasan wisata dan komunikasi lintas pemerintah daerah menunjukkan bahwa intervensi kebijakan bukan hal mustahil, hanya sering terlambat dirasakan di lapak. Di kampung longsor, dukungan bagi usaha kecil pasca-bencana seharusnya setara penting dengan pembangunan kembali infrastruktur fisik. Di kawasan terdampak abu vulkanik, protokol kesehatan dan bantuan peralatan bagi UMKM mestinya dianggap bagian dari penanganan erupsi, bukan urusan tambahan. Mengakui pedagang jalanan tangguh berarti memindahkan mereka dari posisi tokoh inspiratif ke posisi subjek kebijakan: orang-orang yang hak atas penghidupannya perlu dijaga bersama, bukan diserahkan pada keteguhan semata.






