Dampak AI ditentukan oleh cara penerapannya
AI di dunia kerja adalah penggunaan kecerdasan buatan untuk membantu tugas profesional, mulai dari mengolah informasi hingga menyusun konten, sementara manusia tetap mengarahkan proses dan mengambil keputusan. Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan apakah teknologi ini akan masuk ke tempat kerja, melainkan siapa yang memperoleh manfaat dan siapa yang menanggung risikonya. AI dapat meningkatkan produktivitas dan membuka peluang ekonomi, tetapi otomatisasi yang diterapkan tanpa memikirkan kondisi ketenagakerjaan berpotensi menciptakan persoalan baru. Risiko itu lebih besar ketika teknologi yang dirancang untuk lingkungan dengan kekurangan tenaga kerja dipakai di masyarakat yang memiliki banyak penduduk usia produktif, tetapi lapangan kerja terbatas.
Kekhawatiran tersebut disampaikan Rahayu Saraswati, Ketua Dewan Pembina Rembuk Pemuda, dalam Rembuk Nasional Pemuda Indonesia ke-3 di Jakarta pada 31 Oktober 2026. Ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi semestinya memperkuat produktivitas dan membuka kesempatan, bukan menjadi alasan untuk mengurangi pekerjaan tanpa mempertimbangkan dampaknya. Rahayu juga menilai generasi muda telah berkontribusi sebagai pengusaha, peneliti, akademisi, dan pekerja di berbagai sektor. Namun, kontribusi itu perlu ditopang oleh pilihan teknologi dan kebijakan yang tidak menutup jalan bagi tenaga kerja baru.
Otomatisasi perlu menjaga nilai kerja manusia
Contoh bahwa AI tidak harus menggantikan pekerja terlihat pada layanan penempatan tenaga kerja. Kementerian Ketenagakerjaan menyatakan teknologi dimaksudkan untuk memperkuat efisiensi layanan Pengantar Kerja, bukan mengambil alih perannya. Direktur Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja, Sugeng Heri Suseno, menyampaikan hal itu dalam rapat kerja Ikatan Pengantar Kerja Indonesia pada 4 November 2026. Pendampingan manusia tetap dibutuhkan untuk memberi pertimbangan emosional dan memeriksa informasi secara inklusif—hal yang tak cukup diserahkan kepada sistem otomatis.
Kemnaker menetapkan lima pilar dukungan agar peran Pengantar Kerja tetap kuat dalam ekosistem SIAPkerja: pengembangan kompetensi, penguatan sarana data, penugasan sesuai kompetensi, dukungan kelembagaan, serta kolaborasi lintas unit. Arah ini masuk akal: data dapat membantu membaca kebutuhan pasar kerja, tetapi penilaian manusia tetap penting saat informasi perlu ditafsirkan dan diterjemahkan menjadi layanan. Kemnaker juga meminta Ikatan Pengantar Kerja Indonesia terlibat dalam rapat teknis dan penyusunan regulasi. Otomatisasi yang baik semestinya memperbaiki mutu layanan, bukan menghapus keahlian yang membuat layanan itu relevan bagi manusia.
AI Career membuka ruang bagi Gen Z
Di sisi lain, AI dan pekerjaan tidak hanya berkaitan dengan risiko kehilangan tugas; keduanya juga membentuk cara baru untuk membangun karier. Tren AI Career berarti memakai kecerdasan buatan sebagai alat pendukung, bukan menyerahkan seluruh pekerjaan kepada mesin. Bagi Gen Z, keterampilan menggunakan AI dapat membantu menyusun gagasan, merapikan pekerjaan, mencari alternatif solusi, dan mempercepat produksi. Teknologi ini sudah digunakan untuk membuat konten, mengolah data, merancang desain, serta membantu urusan administratif. Dalam pemasaran digital dan pembuatan konten, misalnya, AI dapat menyumbang inspirasi dan variasi konsep, tetapi pekerja tetap perlu memahami audiens serta menentukan suara dan tujuan komunikasinya.
Peluang AI Career Gen Z bukan sekadar kemampuan menulis perintah kepada mesin. Nilai karier muncul ketika pekerja mampu memadukan kecepatan alat dengan kreativitas, penilaian, dan pengetahuan bidangnya. Pemberi kerja sebaiknya mengukur keberhasilan otomatisasi dari mutu hasil dan layanan, bukan hanya dari jumlah tugas yang dialihkan ke perangkat lunak. Mereka juga perlu melatih pekerja sebelum mengubah alur kerja, menjelaskan tugas mana yang akan dibantu AI, dan menyiapkan jalur pengembangan keterampilan. Bagi pekerja, sikap paling berguna adalah mencoba alat baru secara kritis sambil memperkuat kemampuan yang sulit digantikan, seperti komunikasi, pemahaman konteks, dan pengambilan keputusan.

Pilih otomatisasi yang memperluas kesempatan
Perdebatan tentang otomatisasi pekerjaan sering dipersempit menjadi dua pilihan: mempertahankan semua tugas seperti semula atau menggantikan pekerja dengan mesin. Pilihan yang lebih bertanggung jawab adalah menilai setiap penggunaan AI berdasarkan dampaknya terhadap pekerjaan, mutu layanan, dan peluang belajar. Pengusaha perlu melibatkan pekerja saat merancang perubahan, memetakan tugas yang dapat dibantu, serta mengukur apakah waktu yang dihemat benar-benar dialihkan ke pekerjaan bernilai lebih tinggi. Pekerja pun perlu mendapat akses pada pelatihan yang relevan, bukan sekadar diminta beradaptasi sendiri. Kolaborasi pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan organisasi pemuda penting agar manfaat teknologi tidak hanya terkumpul pada perusahaan.
Rahayu mendorong pengusaha mempertimbangkan dampak teknologi terhadap keberlangsungan pekerjaan dan menekankan perlunya kerja sama lintas sektor. Rembuk Pemuda, yang memiliki perwakilan di 29 provinsi, berupaya menghimpun aspirasi daerah untuk disampaikan kepada pemerintah daerah maupun pusat. Langkah semacam ini perlu berjalan beriringan dengan penguatan kompetensi dan keterlibatan organisasi profesi dalam kebijakan ketenagakerjaan. Kesimpulannya, AI bukan ancaman yang tak terelakkan maupun solusi otomatis bagi semua masalah kerja. Hasilnya bergantung pada pilihan manusia: gunakan AI untuk memperkuat kemampuan pekerja dan memperluas kesempatan, bukan sekadar memangkas tenaga kerja.






