SITANI: Definisi Singkat dan Mengapa Penting bagi Pekarangan Warga
SITANI (Sistem Irigasi Otomatis Tanaman Obat Keluarga) adalah teknologi irigasi otomatis berbasis penjadwalan yang dirancang mahasiswa untuk menyiram tanaman pekarangan secara teratur, dengan durasi penyiraman disesuaikan kebutuhan air masing-masing jenis tanaman, sehingga lahan kecil di sekitar rumah dapat menjadi sumber pangan yang lebih produktif dan terawat meski pemiliknya sibuk beraktivitas setiap hari. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Profesi Kesehatan Universitas Hasanuddin yang diinisiasi oleh Dimas Prayudha meluncurkan SITANI di Desa Bolli, Kecamatan Ponre, Kabupaten Bone. Langkah ini punya pesan tegas: ketahanan pangan keluarga tidak akan bergerak jika pekarangan terus dibiarkan kosong atau tanaman mati karena penyiraman tidak konsisten. SITANI menempatkan irigasi otomatis sensor sebagai simbol sistem pertanian pintar yang membumi, bukan sekadar jargon teknologi.

Masalah Nyata di Pekarangan: Air Boros, Tanaman Layu, Minat Berkebun Turun
Sebelum SITANI diterapkan, pekarangan warga Bolli mencerminkan masalah klasik pertanian rumah tangga: lahan ada, sumber air cukup, tetapi pemanfaatan minim. Penyiraman dilakukan manual, bergantung pada waktu luang dan ingatan pemilik rumah. Akibat padatnya aktivitas, penyiraman sering tidak konsisten dan penggunaan air tidak efisien. Dampaknya terasa langsung: tanaman mudah layu atau mati, produktivitas pekarangan rendah, dan minat masyarakat berkebun ikut merosot. Situasi ini menunjukkan betapa gagalnya pendekatan yang hanya menyuruh warga "rajin menyiram" tanpa memberi alat yang memudahkan. Di titik inilah teknologi pertanian mahasiswa menjadi pembeda: bukan mengubah kesadaran melalui ceramah, melainkan mengubah perilaku lewat sistem yang bekerja sendiri setiap hari. Jika irigasi otomatis sensor dan IoT pertanian pekarangan terus dianggap mahal dan rumit, pekarangan akan tetap kalah oleh kesibukan.
Bagaimana SITANI Bekerja: Jadwal Ilmiah dan Komponen yang Terjangkau
Kekuatan SITANI ada pada desain yang sederhana tapi ilmiah. Sistem irigasi otomatis ini berjalan sesuai jadwal yang telah diatur sehingga tanaman sayur, tanaman obat keluarga (TOGA), dan tanaman hias tetap memperoleh air secara optimal tanpa harus disiram manual setiap hari. Penentuan durasi penyiraman tidak asal tebak: sayur daun disiram 8 menit per hari, sayur buah 23 menit per hari, dan tanaman obat 15 menit per hari. Komponen yang digunakan pun terjangkau dan mudah didapat, seperti Digital Timer Switch Weekly Stop, selang PE 7 mm, dripper PS-Driver Putar 8 Arah, dan konektor pendukung. Pernyataannya jelas dan patut dikutip: "Penentuan durasi penyiraman disesuaikan secara ilmiah berdasarkan jenis dan kebutuhan air masing-masing tanaman." Inilah contoh sistem pertanian pintar yang tidak bergantung pada alat mahal, namun cukup mengandalkan penjadwalan dan pemahaman dasar tentang kebutuhan air tanaman.
Dari SITANI ke Eco-Nudge: Teknologi dan Perilaku Berjalan Beriringan
SITANI berdiri dalam ekosistem inovasi yang sama dengan program lain yang dikembangkan mahasiswa KKN Unhas, seperti Eco-Nudge untuk kebersihan sekolah di SDN 99 Barru. Di sana, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Inovasi Desa menghadirkan tempat sampah modifikasi yang dibagi dua wadah dengan wajah "Senang" dan "Sedih" agar siswa tergerak membuang sampah di tempatnya melalui fun theory. Ahmad Syahid sebagai penanggung jawab menjelaskan, tujuan program adalah memodifikasi pengalaman membuang sampah agar menjadi interaksi yang menyenangkan, bukan perintah yang membosankan. Respon siswa dan guru sangat antusias, dan Eco-Nudge diharapkan membentuk kebiasaan jangka panjang sekaligus menjadi prototipe yang mudah direplikasi sekolah lain. Keterkaitan dengan SITANI jelas: teknologi pertanian mahasiswa bukan hanya soal alat, tetapi cara cerdas mengubah perilaku—di kebun lewat irigasi otomatis sensor, di sekolah lewat desain tempat sampah. Sistem pertanian pintar butuh keduanya.
Mengapa Program KKN Penting: Dari Pekarangan ke Ketahanan Pangan Keluarga
Program SITANI tidak berhenti pada pemasangan alat. Mahasiswa KKN-PK Unhas turut memberikan pemahaman langsung kepada warga mengenai cara penggunaan dan pemeliharaan sistem. Ini langkah krusial: teknologi yang tidak dipahami akan berakhir menganggur di pojok pekarangan. Dengan pendekatan ini, irigasi otomatis sensor dan gagasan IoT pertanian pekarangan menjadi pengetahuan milik bersama, bukan milik teknisi saja. Program kerja SITANI secara terang mengusung gerakan optimalisasi pekarangan melalui teknologi irigasi otomatis untuk mendukung ketahanan pangan keluarga. Harapannya jelas: meningkatkan efisiensi penggunaan air, mengoptimalkan produktivitas pekarangan, dan memperkuat ketahanan pangan keluarga di Desa Bolli. Jika program KKN terus diarahkan pada solusi praktis seperti ini, desa akan melihat mahasiswa bukan sekadar tamu musiman, tetapi mitra teknologi pertanian mahasiswa yang ikut menyelesaikan tantangan pertanian nyata dengan sistem pertanian pintar yang bisa dirawat sendiri oleh warga.








