Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Hoaks hingga Jejak Jemari: Adab Remaja di Ruang Digital

Dari Hoaks hingga Jejak Jemari: Adab Remaja di Ruang Digital
Minat|Pendidikan Orang Tua dan Anak

Adab digital dimulai dari kebiasaan sehari-hari

Adab digital remaja adalah sikap sopan, bertanggung jawab, dan berpegang pada nilai moral saat berkomunikasi serta bertindak di internet, sebagaimana dalam kehidupan sehari-hari. Pesan ini terasa penting ketika media sosial menjadi tempat berbagi kabar, menyampaikan pendapat, dan menanggapi orang lain; satu komentar yang diketik tanpa pertimbangan dapat berubah menjadi perdebatan yang merendahkan. Dalam Grand Final Festival Dai Cilik 2026 tingkat SMP/MTs di Atrium Plaza Madiun pada Sabtu (24/10), Sifara Zahra Oktavia mengajak remaja menjaga akhlak dan adab di dunia nyata maupun dunia maya. Ia menekankan bahwa cara menulis status, mengunggah konten, dan mengomentari unggahan orang lain seharusnya tetap berpijak pada tuntunan moral. Ajakan itu bukan soal membatasi diri dari internet, melainkan mengingatkan bahwa layar tidak menghapus tanggung jawab atas ucapan dan tindakan.

Bagi keluarga, pesan Sifara dapat menjadi pembuka obrolan yang lebih berguna daripada sekadar melarang penggunaan gawai. Orang tua dapat bertanya bagaimana rasanya menerima komentar kasar, lalu mengajak remaja memikirkan dampak komentar serupa jika ditulis kepada orang lain. Percakapan tentang etika remaja online juga bisa menyentuh kebiasaan sebelum menekan tombol kirim: apakah unggahan itu jujur, perlu, dan tidak mempermalukan siapa pun? Sikap bijak bermedia sosial tumbuh melalui pertimbangan kecil yang diulang, bukan hanya nasihat besar setelah terjadi masalah. Dengan demikian, adab bukan aturan yang berhenti di luar layar; ia tampak dalam pilihan kata, cara berbeda pendapat, serta kesediaan menahan diri ketika percakapan mulai memanas.

Dari Hoaks hingga Jejak Jemari: Adab Remaja di Ruang Digital

Jangan biarkan kabar viral menggantikan nalar

Arus informasi yang cepat membuat kabar mudah sampai ke beranda, tetapi kecepatan bukan bukti kebenaran. Dalam acara yang sama, Kianinara Loh Jenar Surga memperingatkan bahwa informasi yang diterima belum tentu benar, sementara hoaks dan konten yang menghasut dapat memperkeruh suasana serta memecah persaudaraan. Peringatan ini menuntut lebih dari sekadar menyuruh remaja berhati-hati: mereka perlu membiasakan diri berhenti sebelum menyebarkan kabar yang memancing marah atau takut. Cara mengenali hoaks dapat menjadi bahan diskusi keluarga, tetapi jangan menganggap satu ciri saja cukup untuk memastikan sebuah informasi palsu. Yang lebih penting adalah menguji isi kabar, mencari asalnya, dan tidak ikut menyebarkan sesuatu yang belum jelas. Remaja yang kritis tidak mudah dijadikan perantara provokasi.

Orang tua bisa mengajak anak membahas contoh unggahan yang ramai beredar, lalu menanyakan apa yang diketahui dan apa yang masih berupa dugaan. Pertanyaan seperti “Siapa yang menyampaikan kabar ini?” atau “Apa bukti yang mendukungnya?” melatih penalaran tanpa mengubah percakapan menjadi ujian. Jika sebuah konten mengadu domba, keluarga dapat membahas siapa yang mungkin dirugikan ketika kabar itu diteruskan. Pendekatan ini lebih kuat daripada menyuruh anak percaya pada setiap pesan dari orang dewasa; tujuannya ialah membangun kebiasaan memeriksa, bukan mengganti satu kepatuhan buta dengan kepatuhan lain. Di ruang digital, menunda membagikan kabar yang belum terverifikasi juga merupakan tindakan beradab.

Filter wajah bukan ukuran akhlak

Lidya Dewi Wulandari mengangkat sisi lain kehidupan media sosial: perhatian pada tampilan dapat mengalahkan perhatian pada perilaku. Dalam ceramahnya di Grand Final Festival Dai Cilik 2026 tingkat SMP/MTs di Atrium Plaza Madiun pada Sabtu (24/10), siswi SMPN 1 Pangkur itu mengingatkan bahwa remaja bisa rajin mempercantik foto dengan filter, tetapi lupa membenahi perangai sehari-hari. Perbandingan tersebut tajam karena menyentuh kebiasaan yang mudah dikenali: citra daring sering dirawat dengan teliti, sedangkan sikap kepada keluarga, teman, atau orang asing dianggap urusan terpisah. Padahal, akhlak tidak dinilai dari kesempurnaan gambar, melainkan dari tindakan nyata. Pesan Lidya mengajak remaja bertanya apakah mereka lebih sibuk terlihat baik di layar atau sungguh-sungguh berlaku baik.

Inilah bahan obrolan keluarga yang tidak perlu berakhir dengan menyalahkan filter atau media sosial. Orang tua dapat membahas perbedaan antara memperindah foto dan berpura-pura menjadi pribadi yang berbeda, lalu mengaitkannya dengan perilaku konkret: menepati janji, menghargai batas orang lain, dan meminta maaf ketika keliru. Remaja pun dapat diajak menilai kebiasaan digital tanpa merasa setiap unggahan mereka sedang diawasi. Teguran Lidya bukan ajakan untuk menolak teknologi, melainkan pengingat agar perhatian pada penampilan tidak menyingkirkan pembinaan budi pekerti. Jika kebiasaan di dunia maya dan kehidupan sehari-hari selaras, adab tidak menjadi hiasan profil, tetapi bagian dari karakter.

Jadikan pesan para dai cilik awal percakapan

Pesan Sifara, Kianinara, dan Lidya bertemu pada satu pokok: perilaku digital adalah bagian dari akhlak, bukan ruang bebas tanpa akibat. Sifara mengingatkan pentingnya menjaga ucapan dan tindakan, Kianinara mendorong nalar kritis menghadapi kabar palsu serta provokasi, sementara Lidya menyoroti jarak antara penampilan daring dan perangai nyata. Bagi orang tua, rangkaian gagasan ini dapat dipakai untuk mengajak remaja berdiskusi tentang perilaku digital tanpa menggurui. Mulailah dari pengalaman mereka sendiri: unggahan yang membuat tidak nyaman, kabar yang membuat marah, atau tekanan untuk terlihat sempurna. Dengarkan dahulu, lalu bahas pilihan yang lebih bertanggung jawab. Percakapan yang terbuka membantu nasihat tentang adab digital remaja terasa dekat dengan keputusan yang mereka hadapi setiap hari.

Pada akhirnya, menjadi bijak bermedia sosial bukan berarti selalu diam atau menjauhi internet. Artinya, remaja mampu berbicara tanpa merendahkan, menahan diri dari menyebarkan kabar yang belum jelas, dan tidak mengukur akhlak dari tampilan yang sudah disaring. Keluarga berperan bukan dengan mengambil alih setiap keputusan, melainkan dengan memberi ruang untuk bertanya, berpikir, dan belajar memperbaiki kesalahan. Jejak jemari di layar memang tidak terlihat seperti tindakan di dunia nyata, tetapi dampaknya dapat dirasakan orang lain. Karena itu, menjaga adab di ruang digital seharusnya menjadi kebiasaan bersama: dimulai dari satu pesan, satu komentar, dan satu keputusan untuk tidak ikut memperkeruh keadaan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!