Gelombang BLACKPINK comeback solo: lebih dari sekadar rilis berdekatan
Fenomena BLACKPINK comeback solo adalah momen ketika tiga dari empat member—Jennie, Lisa, dan Jisoo—merilis musik secara terpisah dalam waktu berdekatan dengan konsep video musik yang berbeda, yang bukan hanya memperpanjang masa kejayaan grup tetapi juga menegaskan identitas artistik masing-masing sebagai solois yang berdiri sendiri di peta K-Pop global. Tiga nama besar ini tidak tampil sebagai kompetitor frontal, melainkan sebagai tiga poros strategi solo K-Pop yang saling mengisi ruang. Di tengah keheningan rilisan grup, mereka mengubah jeda menjadi etalase kekuatan individu: satu fokus pada visual dan narasi gelap, satu pada kebanggaan budaya dan rekaman rekor, satunya lagi pada konsistensi pasar domestik. Inilah cara baru idola generasi sekarang menjaga relevansi: bukan menunggu era promosi grup berikutnya, tetapi membangun maraton karier solo yang panjang.

Jennie dengan "Fallen Angel": narasi gelap dan performa yang terbelah
Jennie membuka rangkaian Jennie Lisa Jisoo rilis dengan EP Fallen Angel pada 28 Agustus, berisi tiga lagu HEAVEN, Less than a Lover, dan Fallen Angel sebagai title track. Secara konsep, comeback ini adalah pernyataan identitas: perjalanan menemukan kebebasan lewat keberanian menghadapi diri sejati yang baru ditemukan, sekaligus pesan bagi mereka yang mencari tempat yang bisa disebut rumah. MV-nya memantik kontroversi: nuansa gelap, simbol yang dikaitkan dengan satanic dan Illuminati, hingga adegan malaikat jatuh dan anak-anak dengan busana mirip misdinar gereja. Namun di angka, Fallen Angel menunjukkan paradoks. HEAVEN dan Less than a Lover debut di #150 dan #196 Spotify Global dengan sekitar 1,31 juta dan 1,2 juta streaming, sementara lagu utama bahkan tidak masuk chart hari pertama. Di Korea, Fallen Angel baru muncul di #17 Bugs, #48 Melon, dan #135 Genie. Di sisi lain, MV-nya tercatat di jajaran opening view tertinggi solo K-Pop 2026 dan EP-nya memuncaki World Album iTunes serta meraih posisi tinggi di platform musik utama Tiongkok. Ini bukan ledakan digital, tetapi langkah berani keluar dari zona aman—lebih mirip investasi identitas artistik jangka panjang daripada kejar rekor instan.

Lisa dan "SaWaDiKa": ketika rekor dan budaya lokal jadi senjata global
Jika Jennie menekan pedal eksperimentasi visual, Lisa menginjak gas penuh di jalur rekor. SaWaDiKa, single pra-rilisnya, dirilis pada 4 September dan langsung mengguncang YouTube dan Spotify. Lagu ini berakar kuat pada budaya Thailand, dengan MV berisi Muay Thai, tuk-tuk, hingga stasiun kereta Hua Lamphong yang mengemas identitas kampung halaman menjadi tontonan global. Dalam 24 jam, MV SaWaDiKa mencatat 70,8 juta penayangan dan menempatkannya di antara MV solo K-Pop dengan views pembukaan tertinggi 2026. Hanya dalam dua hari lebih, angka itu menembus 100 juta, menjadikannya MV tercepat yang mencapai tonggak tersebut pada 2026 dan tercepat kedua sepanjang sejarah solo K-Pop setelah LALISA—yang juga milik Lisa. Di Spotify Global, SaWaDiKa debut di #13 dengan sekitar 2,7 juta streaming, menjadi debut terbesar tahun 2026 untuk artis solo K-Pop. Strateginya jelas: menyatukan kebanggaan lokal, koreografi mudah di-viral-kan, dan produksi besar-besaran untuk memaksimalkan daya sebar. Bukan sekadar comeback, tetapi demonstrasi kekuatan brand solo yang sudah siap bermain sebagai pemain utama, bukan pelengkap grup.
Jisoo dengan "Click": maraton domestik di tengah sprint global
Empat jam setelah SaWaDiKa, Jisoo merilis Click, single utama album solo penuh pertamanya—momen bersejarah karena dua member BLACKPINK merilis produk solo di hari yang sama. Di YouTube, Click memang memulai dengan langkah lebih pelan: butuh sekitar 1 jam 46 menit untuk menyentuh 1 juta penonton dan mengumpulkan 13 juta views setelah 24 jam. Namun strategi Jisoo bukan sprint global, melainkan konsistensi di kandang. Click dengan cepat muncul di tangga lagu digital Korea seperti Melon, Genie, dan Bugs, memperlihatkan basis publik domestik yang kuat. Di sini terlihat pola strategi solo K-Pop yang berbeda: Lisa menancapkan bendera di panggung internasional dengan angka masif, sementara Jisoo menegaskan posisinya sebagai penyanyi yang mampu menguasai pasar lokal secara stabil. "Meskipun Lisa memulai dengan sangat gemilang dengan jumlah penonton dan pendengar yang luar biasa, Jisoo terus menunjukkan daya tarik yang konsisten di pasar domestik". Ini bukan persaingan langsung, melainkan dua jalur karier yang saling melengkapi: satu membangun skala global, satu menguatkan akar di rumah.
Rosé "404 Not Found" dan masa depan strategi solo BLACKPINK
Di tengah gencarnya BLACKPINK comeback solo, satu pertanyaan menggantung: di mana Rosé? Saat Jennie, Lisa, dan Jisoo merilis musik baru, Rosé menjadi satu-satunya member tanpa MV, lagu, maupun tanggal rilis jelas untuk karya berikutnya. Laporan lain menyebut ia masih mempersiapkan karya terbarunya, sementara wawancara terbaru menggambarkan fokusnya pada penulisan musik, eksplorasi diri, dan pencarian arah baru untuk album yang ia samakan dengan menyelami diri sendiri dan mendokumentasikan sebuah periode hidup. Fan pun menyebut statusnya dengan istilah sarkastis "404 Not Found (error, not connected)". Ketidakhadiran Rosé di gelombang comeback ini justru menegaskan ekspektasi penggemar terhadap kelengkapan keempat member dan memperjelas bahwa strategi solo K-Pop untuk grup sebesar BLACKPINK bukan lagi bonus sampingan. Ke depan, pertanyaan utamanya bukan “apakah” Rosé akan bergabung dalam siklus ini, melainkan “bagaimana” ia akan merancang identitas artistik member versinya sendiri agar tidak sekadar mengisi slot yang kosong, tetapi menutup lingkaran diversifikasi brand solo BLACKPINK dengan kuat.






