Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Di Era AI, Ketekunan dan Integritas Tetap Menentukan Prestasi

Di Era AI, Ketekunan dan Integritas Tetap Menentukan Prestasi
Minat|Eksplorasi Aplikasi AI

Teknologi mempercepat kerja, karakter menentukan hasil

AI dunia kerja adalah penggunaan kecerdasan artifisial dalam kegiatan profesional yang mengubah cara orang menyelesaikan tugas, belajar, dan menghasilkan karya, sekaligus menuntut manusia memperbarui keterampilan serta tanggung jawabnya. Karena itu, prestasi era AI tidak cukup diukur dari kecakapan mengoperasikan teknologi: mutu kerja juga bergantung pada cara seseorang berpikir, berusaha, dan mengambil keputusan.

Pesan itu mengemuka dalam dua agenda kampus pada akhir Oktober. Rektor Universitas Nusa Mandiri, Prof. Dr. Ir. Dwiza Riana, menyampaikan bahwa teknologi harus menjadi alat untuk mengembangkan potensi, bukan alasan mengabaikan proses belajar dan pembentukan karakter. Dalam seminar kecerdasan artifisial di kampus UNM, Jakarta Timur, pada 29 Oktober, ia menegaskan bahwa ketekunan dan integritas tetap menjadi fondasi keberhasilan di tengah perubahan teknologi.

Sehari kemudian, Rektor Universitas Trisakti, Prof. Dr. Ir. Kadarsah Suryadi, DEA., ASEAN Eng., menyampaikan peringatan serupa kepada para wisudawan: gelar akademik saja tidak menjamin kesiapan menghadapi perubahan zaman. Pesannya penting karena teknologi dapat mempercepat pekerjaan, tetapi tidak otomatis membuat hasil kerja lebih bijak atau bertanggung jawab.

Di Era AI, Ketekunan dan Integritas Tetap Menentukan Prestasi

Gelar adalah awal, bukan jaminan kesiapan

Pada wisuda Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 di Jakarta Convention Center, Universitas Trisakti melepas 1.797 lulusan dari jenjang diploma hingga doktor; 540 di antaranya meraih predikat cum laude. Angka itu menunjukkan capaian akademik yang patut dihargai. Namun, kelulusan bukan garis akhir: kemampuan yang diperoleh di kampus perlu diterapkan pada persoalan nyata dan disesuaikan dengan kebutuhan kerja yang terus berubah.

Rektor Trisakti mendorong lulusan untuk terus memperbarui pengetahuan dan mengasah kemampuan yang sulit digantikan teknologi. Adaptasi, berpikir kritis, kreativitas, empati, tanggung jawab, integritas, dan kebijaksanaan bukan pelengkap ijazah, melainkan bekal yang menentukan apakah ilmu dapat digunakan dengan baik. Maka, kesiapan lulusan tidak semestinya disimpulkan dari gelar atau nilai saja.

Peringatan tersebut juga berlaku bagi mahasiswa sebelum wisuda. Jika belajar berhenti saat kuliah selesai, keterampilan bisa lekas tertinggal ketika struktur pekerjaan berubah. Gelar membuka pintu, tetapi kemauan memperbarui kemampuanlah yang membantu seseorang bertahan dan memberi kontribusi setelah masuk ke dunia profesional.

Integritas mahasiswa menjadi pembeda

Dwiza menempatkan ketekunan dan integritas sebagai landasan prestasi, sementara Kadarsah menekankan adaptasi dan keterampilan manusiawi yang tetap diperlukan dalam kehidupan profesional maupun sosial. Arah kedua pesan ini sama: teknologi perlu dikuasai, tetapi kualitas manusia menentukan bagaimana teknologi digunakan. Integritas mahasiswa, misalnya, tampak dalam kesediaan bertanggung jawab atas hasil kerja, termasuk saat AI membantu menyusun atau mempercepatnya.

AI menawarkan peluang untuk belajar, berinovasi, dan menghasilkan karya. Namun, kemudahan itu bukan alasan untuk melewati proses berpikir atau menyerahkan penilaian sepenuhnya kepada mesin. Ketekunan berarti terus belajar dan mencoba; integritas berarti jujur mengenai kontribusi sendiri serta mempertimbangkan dampak keputusan. Keduanya membuat kecakapan digital lebih bernilai daripada sekadar kemampuan memakai perangkat.

Dengan demikian, perbedaan penekanan kedua rektor justru saling melengkapi. UNM menyoroti sikap yang menopang perjalanan meraih prestasi, sedangkan Trisakti mengingatkan bahwa lulusan harus terus menambah kemampuan setelah memperoleh gelar. Bekal manusia yang tak mudah otomatisasi mencakup karakter sekaligus kebiasaan belajar.

Prestasi menuntut proses setelah seminar dan wisuda

Dwiza berharap peserta seminar tidak pulang hanya membawa sertifikat, tetapi juga gagasan baru, keterampilan untuk dikembangkan, dan tekad berkarya. Harapan itu menempatkan prestasi sebagai hasil dari tindakan berkelanjutan, bukan efek instan dari seminar ataupun teknologi. UNM juga menyatakan akan terus bergerak menuju kampus yang unggul, inovatif, dan berdaya saing global.

Bagi mahasiswa dan lulusan, langkah berikutnya jelas: gunakan AI untuk memperluas kemampuan, tetapi terus latih penalaran, kreativitas, tanggung jawab, dan empati. Jangan menganggap ijazah sebagai bukti bahwa proses belajar telah selesai; jangan pula mengira alat yang canggih dapat menggantikan disiplin dalam menghasilkan pekerjaan bermutu. Sikap ini membuat kesiapan menghadapi perubahan lebih nyata.

Kesimpulannya, AI mengubah cara bekerja, tetapi tidak menghapus kebutuhan akan manusia yang tekun, jujur, adaptif, dan bijaksana. Pesan dua rektor bertemu pada satu prinsip: teknologi dapat membantu mempercepat pekerjaan, sedangkan karakter dan kemauan belajar menentukan nilai hasilnya. Itulah bekal yang membuat prestasi era AI tetap bermakna.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!