Adu penalti menjadi penentu babak 16 besar
Piala Liga Inggris adalah kompetisi gugur antarklub yang dapat mengubah satu pertandingan imbang menjadi ujian ketenangan melalui adu penalti, dan babak 16 besar kali ini membuktikannya dengan menyingkirkan beberapa unggulan. Hasil Piala Liga Inggris menghadirkan kontras tajam: Liverpool dan Manchester City bertahan setelah melewati drama dari titik penalti, sedangkan Chelsea dan Arsenal pulang lebih awal. Pada pertandingan yang selesai hingga Rabu, 4 November 2026, delapan tim telah memastikan tiket ke perempat final. Hasil ini lebih dari sekadar kejutan; ia menegaskan bahwa reputasi dan status unggulan tidak memberi jaminan di kompetisi gugur. Dua tim elite selamat dari tekanan, tetapi Fleetwood Town menunjukkan bahwa klub dari kasta lebih rendah pun dapat memanfaatkan satu malam besar untuk mengubah peta persaingan.
- Liverpool menyingkirkan Chelsea setelah imbang 1-1 dan menang adu penalti 6-5.
- Manchester City melewati Brighton dengan kemenangan adu penalti 4-3 setelah skor 2-2.
- Fleetwood Town menyingkirkan Arsenal melalui adu penalti 5-3 setelah imbang 1-1.

Liverpool vs Chelsea: satu gol, lalu adu ketahanan
Liverpool vs Chelsea menyajikan duel ketat yang akhirnya menguji keteguhan para penendang, bukan dominasi selama waktu normal. Chelsea unggul lebih dulu melalui penalti Morgan Rogers pada menit ke-40, tetapi Liverpool membalas hanya tiga menit kemudian lewat penalti Cody Gakpo. Skor 1-1 bertahan sampai peluit akhir, lalu Liverpool menang 6-5 dalam adu penalti. Kemenangan tuan rumah terasa pantas sebagai ganjaran atas kemampuan mereka bertahan dalam laga yang tipis marginnya, sementara Chelsea harus menyesali kegagalan pada momen paling menentukan. Adu penalti ini juga bukan kemenangan tanpa cela: Kostas Tsimikas dan Ryan Gravenberch gagal untuk Liverpool, sedangkan Valentin Barco, Wesley Fofana, dan Emmanuel Emegha gagal bagi Chelsea. Meski begitu, Liverpool menemukan cukup eksekutor yang tenang untuk melaju ke perempat final dan mengakhiri perjalanan Chelsea.
Man City lolos, Arsenal tersingkir oleh Fleetwood
Man City vs Brighton menjadi ujian serius bagi tuan rumah. Brighton dua kali memimpin lewat Malick Yalcouye pada menit ke-30 dan Georginio Rutter pada menit ke-47. Manchester City menyamakan kedudukan melalui Mateo Kovacic pada menit ke-40, lalu Vitor Reis mencetak gol penyeimbang pada menit ke-72 untuk memaksa skor 2-2 bertahan hingga akhir. City kemudian menang 4-3 dalam adu penalti. Kiper Geronimo Rulli berperan penting dengan menggagalkan tendangan Yasin Ayari dan Lewis Dunk, meski Kovacic menjadi satu-satunya algojo City yang gagal. Kelolosan itu penting, tetapi perlawanan Brighton memperlihatkan bahwa jalan City ke perempat final sama sekali tidak mudah.
Kejutan yang lebih besar datang ketika Arsenal tersingkir oleh Fleetwood Town, klub League Two atau kasta keempat sepak bola Inggris. Aaron Loupalo-Bi membawa Fleetwood unggul pada menit ke-21, sebelum Viktor Gyokeres menyamakan skor pada menit ke-50. Kartu merah Max Dowman pada menit ke-85 menambah kesulitan Arsenal, dan Fleetwood akhirnya menang adu penalti 5-3. Bagi Arsenal, tersingkir dengan cara ini adalah peringatan bahwa nama besar tidak cukup ketika lawan bermain lebih efektif pada kesempatan menentukan. Bagi Fleetwood, kemenangan tersebut merupakan pencapaian besar dan bukti paling jelas bahwa kejutan dalam turnamen gugur bukan sekadar cerita sampingan.

Perempat final menanti pada Desember
Liverpool dan Manchester City melaju ke perempat final bersama enam tim lain: Fleetwood Town, Bradford City, Crystal Palace, Bournemouth, Sunderland, dan Everton. Babak delapan besar dijadwalkan berlangsung pada pekan yang dimulai Senin, 14 Desember 2026, tetapi tanggal serta jam kick-off setiap pertandingan masih menunggu pengumuman resmi penyelenggara. Bagi penggemar sepak bola Inggris, perhatian kini beralih pada perebutan empat tempat di semifinal. Liverpool dan City datang dengan momentum lolos dari adu penalti, tetapi pengalaman babak 16 besar menunjukkan bahwa keunggulan di atas kertas tidak akan cukup. Chelsea dan Arsenal telah menjadi pengingat bahwa satu malam buruk bisa mengakhiri perjalanan. Kesimpulannya jelas: babak gugur ini memberi ganjaran kepada tim yang mampu bertahan saat tekanan memuncak, dan perempat final berpotensi kembali menghadirkan kejutan.






