Fase Pemulihan Bencana: Lebih dari Sekadar Keluar dari Tenda
Fase pemulihan gempa NTT adalah periode transisi 90 hari setelah tanggap darurat, ketika fokus bergeser dari penyelamatan nyawa ke pemulihan kehidupan: pembangunan hunian sementara penyintas, penyaluran bantuan dana renovasi rumah, dan dukungan psikososial gempa yang menata kembali rasa aman, ekonomi keluarga, serta kesehatan mental komunitas yang goyah akibat guncangan magnitudo 7,7 dan rentetan gempa susulan. Tiga kabupaten yang paling terpukul—Manggarai, Manggarai Timur, dan Nagekeo—resmi mengakhiri status tanggap darurat dan masuk ke fase pemulihan bencana selama 90 hari. Ini bukan sekadar perubahan istilah administratif; ini penanda bahwa warga tidak boleh dibiarkan berlama-lama dalam ketidakpastian. Ketika status darurat ditutup, tanggung jawab pemerintah dan lembaga kemanusiaan justru harus semakin jelas: di fase pemulihan gempa NTT, apakah warga benar-benar punya rumah, pendapatan, dan harapan yang bisa dipegang?
Hunian Sementara Penyintas: Antara Tenda, Huntara, dan Hak atas Tempat Tinggal
Di lapangan, pemulihan gempa NTT paling terlihat dari pergeseran warga dari tenda ke hunian sementara penyintas berupa huntara yang dibangun bertahap. Badan penanggulangan bencana mencatat sejumlah huntara untuk penyintas gempa M7,7 sudah selesai, dengan pembangunan masif seperti 110 unit di Manggarai dan empat unit yang telah rampung. Opsi bagi rumah rusak berat kini terang: warga bisa memilih dana tunggu hunian atau huntara, dan sebagian besar memilih hunian nyata dibanding uang yang mudah habis. Di sisi lain, lembaga zakat membangun 10 unit huntara: sembilan di Manggarai Timur—lima di Desa Gololijun, tiga di Satar Kampas, satu di Satar Punda Barat—serta satu unit di Ngada, Kelurahan Ite Jaya. "Huntara ini kami bangun agar para penyintas punya tempat tinggal yang layak dan aman selama menunggu pemulihan hunian permanen," tegas pimpinan pendistribusian zakat. Fase pemulihan bencana tidak boleh berhenti di angka unit; yang utama apakah setiap keluarga benar-benar keluar dari pengungsian dengan martabat.

Bantuan Dana Renovasi: Stimulan yang Harus Mengangkat, Bukan Membebani
Pemulihan gempa NTT juga bergantung pada seberapa cepat dan adil bantuan dana renovasi rumah mendarat di rekening warga. Pemerintah menetapkan skema stimulan: rumah rusak ringan mendapat Rp15 juta, rusak sedang Rp30 juta, dan rusak berat dialokasikan Rp70 juta. Untuk rusak berat, rumah baru senilai Rp70 juta akan dibangunkan kembali, sementara kategori ringan dan sedang menerima transfer langsung agar bisa memperbaiki sendiri. Kebijakan ini adalah pengakuan bahwa tempat tinggal bukan urusan karitas, melainkan hak. "Setiap keluarga dapat mengetahui secara persis hak yang diterimanya" karena nominal diumumkan terbuka dan didukung verifikasi ketat by name by address bersama badan statistik. Selama pendataan berjalan, kebutuhan dasar di pengungsian diklaim tetap dipenuhi setiap hari. Namun kecepatan penyaluran dan kualitas bangunan akan menentukan apakah stimulan menjadi pijakan untuk bangkit atau jebakan yang memaksa warga berutang demi menutup kekurangan.
Dukungan Psikososial Gempa: Menyusun Ulang Rasa Aman Anak dan Guru
Jika rumah adalah tubuh pemulihan gempa NTT, maka dukungan psikososial gempa adalah jiwanya. Di SD Inpres Rojabai, Ende, layanan dukungan psikososial (PSS) menyasar 121 penerima manfaat: 116 anak dan lima guru. Tim lokal bekerja bersama tim dari kota lain untuk menghadirkan kegiatan bermain edukatif, mitigasi gempa, dan penguatan perilaku hidup bersih dan sehat yang disesuaikan usia anak. Anak diajak berkumpul lagi, memulihkan rasa aman yang retak, dan belajar langkah yang bisa mereka ambil saat bumi bergetar. Bagi guru, diselenggarakan Focus Group Discussion sebagai ruang berbagi pengalaman, mengurai tantangan pascagempa, dan mengidentifikasi kebutuhan dukungan bagi diri sendiri maupun murid. Melalui layanan ini, organisasi kemanusiaan tidak berhenti di logistik: mereka mengakui bahwa trauma tidak hilang ketika tenda diganti huntara. Pemulihan yang abai pada mental korban hanya akan melahirkan generasi yang hidup di rumah baru, tetapi dihantui ketakutan lama.
Kolaborasi dan Tanggung Jawab Jangka Panjang dalam Pemulihan Gempa NTT
Rangkaian program pemulihan gempa NTT memperlihatkan satu hal: tanpa kolaborasi, fase pemulihan bencana akan timpang. Pemerintah daerah di Manggarai, Manggarai Timur, dan Nagekeo telah menetapkan transisi darurat ke pemulihan 90 hari sebagai kerangka kerja resmi. Di lapangan, badan nasional penanggulangan bencana mengawal pembangunan huntara dan pemutakhiran data penerima bantuan di tujuh kabupaten terdampak. Lembaga zakat melengkapi dengan air bersih 145.100 liter, 84.250 porsi makanan dapur umum, layanan kesehatan bagi 821 pasien, serta empat masjid dan tiga sekolah darurat. Di sisi lain, layanan psikososial memastikan sekolah menjadi ruang pemulihan, bukan sekadar tempat kembali belajar. Semua ini menunjukkan arah yang benar: pemulihan harus menyentuh rumah, perut, dan jiwa sekaligus. Namun fase 90 hari hanyalah awal. Jika komitmen jangka panjang dan pengawasan warga tidak terjaga, risiko kembali ke titik rapuh akan selalu mengintai. Kesimpulannya, pemulihan gempa NTT hanya layak disebut berhasil bila penyintas bukan lagi “korban” dalam narasi orang lain, melainkan subjek yang hidup mandiri di rumah aman, dengan mental yang pulih dan komunitas yang lebih siap menghadapi bencana berikutnya.






