Bantuan yang melihat kebutuhan anak
Bantuan kemanusiaan untuk anak pengungsi banjir adalah dukungan yang memenuhi kebutuhan fisik sekaligus membantu anak merasa aman dan pulih secara emosional selama bencana. Polres Aceh Selatan menyalurkan bantuan kepada warga terdampak banjir di Kecamatan Trumon dan Trumon Tengah, lalu memberi perhatian khusus kepada anak-anak di posko pengungsian. Kapolres AKBP T. Ricki Fadlianshah mengunjungi Posko Kompi Brimob di Gampong Ie Jeureuneh pada Selasa sore, 3 November 2026, setelah banjir akibat luapan Sungai Lae Soraya memaksa warga meninggalkan rumah. Pilihan untuk membawa susu, popok, makanan tambahan, dan jajanan anak menunjukkan bahwa bantuan korban banjir perlu disesuaikan dengan siapa yang terdampak. Paket umum penting, tetapi keluarga dengan bayi dan anak kecil menghadapi kebutuhan yang lebih khusus ketika harus bertahan beberapa hari di pengungsian Aceh Selatan.

Kebutuhan dasar saja belum cukup
Di Posko Kompi Brimob, 45 anak termasuk di antara 133 orang yang mengungsi. Bantuan yang disalurkan mencakup beras, minyak goreng, mi instan, telur, susu, popok bayi, makanan ringan, selimut, kelambu, serta kebutuhan pokok lainnya. Perlengkapan seperti popok dan susu bukan tambahan sepele: bagi keluarga yang jauh dari rumah, keduanya membantu menjaga rutinitas perawatan anak saat keadaan serba terbatas. Seorang pengungsi, Marijah, menyebut susu, popok, dan makanan tambahan sangat berarti bagi keluarga yang memiliki bayi dan anak kecil selama beberapa hari di posko. Karena itu, mutu tanggap darurat patut dinilai bukan hanya dari jumlah paket yang datang, tetapi juga dari kecocokannya dengan kebutuhan warga. Perhatian kepada anak membuat bantuan lebih berguna bagi seluruh keluarga.

Pemulihan rasa takut sama pentingnya
Banjir mengganggu lebih dari tempat tinggal; pengalaman mengungsi juga dapat membuat anak takut dan cemas. Kapolres berdialog dengan warga dan memberikan trauma healing anak untuk membantu meredakan rasa takut akibat bencana. Ia menyatakan, “Kami ingin anak-anak di pengungsian Kompi Brimob Trumon Tengah merasa bahwa mereka tidak sendiri.” Pesan itu penting, tetapi pendampingan psikologis sebaiknya tidak berhenti pada satu kunjungan. Anak memerlukan kehadiran orang dewasa yang menenangkan, ruang aman untuk bermain, serta dukungan berkelanjutan selama keluarga belum dapat pulang. Sebanyak 45 anak di posko tersebut menegaskan bahwa kebutuhan ini bukan perkara sampingan. Bantuan barang dapat meringankan beban hari ini; perhatian yang konsisten membantu anak kembali merasa aman.

Tanggap darurat harus berlanjut hingga aman pulang
Sebagian pengungsi belum berani kembali karena khawatir banjir susulan, sehingga kepastian keselamatan harus mendahului dorongan untuk pulang. Harapan Kapolres agar anak-anak kembali tersenyum, mengurangi rasa takut, dan perlahan pulih dari trauma perlu diterjemahkan menjadi dukungan nyata selama masa pengungsian. Bantuan dan kunjungan Polres Aceh Selatan merupakan langkah berarti, tetapi pemulihan tidak selesai ketika paket dibagikan. Kebutuhan bayi, kenyamanan keluarga, rasa aman, dan kelanjutan pendampingan perlu tetap diperhatikan sampai warga dapat kembali ke rumah dengan aman. Kesimpulannya, respons banjir yang berpihak kepada anak harus menyatukan bantuan fisik dan dukungan psikologis. Dengan begitu, anak pengungsi banjir tidak hanya bertahan di posko, tetapi juga mendapat kesempatan untuk pulih.







