Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dua Pilar Strategi Turunkan Stunting: Spesifik dan Sensitif

Dua Pilar Strategi Turunkan Stunting: Spesifik dan Sensitif
Minat|Pengetahuan Parenting

Stunting Turun, Tapi Tanpa Dua Intervensi Utama Kita Bisa Mundur

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, penyakit berulang, dan pengasuhan yang kurang memadai sehingga tinggi badan dan perkembangan otak anak terhambat secara permanen, yang pada akhirnya menurunkan kualitas sumber daya manusia dan produktivitas di masa depan.

Pesan utama dari langkah terbaru pemerintah daerah jelas: pencegahan stunting anak hanya akan efektif bila dua pilar intervensi spesifik sensitif dijalankan bersamaan dan konsisten. Pemerintah provinsi menegaskan penanganan stunting sebagai salah satu prioritas pembangunan yang membutuhkan kebijakan tepat sasaran dan berkelanjutan. Pernyataan ini muncul dalam Rapat Koordinasi Teknis Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting Regional Sumatera pada 27 Agustus, saat pemerintah memaparkan strategi dan capaian. Di satu sisi, angka stunting secara nasional memang sudah turun dari 30,8 persen menjadi 19,8 persen. Namun beberapa daerah masih berada di atas rata-rata itu, sehingga jeda antara capaian dan target menjadi alasan kuat mengapa momentum sekarang tidak boleh mengendur.

Intervensi Spesifik: Dari Tablet Tambah Darah hingga Program Kesehatan Ibu Hamil

Intervensi spesifik adalah jantung pencegahan stunting anak karena langsung menyasar ibu, bayi, dan kelompok berisiko. Pemerintah provinsi menggunakan pendekatan ini untuk memperkuat status gizi sejak sebelum kehamilan, masa hamil, hingga awal kehidupan anak. Salah satu langkah paling strategis adalah pemberian tablet tambah darah remaja putri sebagai persiapan kehamilan yang sehat di masa depan. Dari target 815.520 remaja putri yang bersekolah, 636.637 atau 78 persen telah menjalani skrining kesehatan. Angka ini menggambarkan keseriusan, tetapi juga memperlihatkan masih adanya celah yang harus ditutup.

Rangkaian program kesehatan ibu hamil pun diperkuat. Pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil dengan kekurangan energi kronis sudah menjangkau 87 persen sasaran dan memenuhi target nasional. Pemeriksaan kehamilan (ANC) minimal enam kali baru mencapai 20,4 persen dari target 48 persen pada triwulan II. Di sisi lain, ASI eksklusif bagi bayi di bawah enam bulan sudah tembus 83,3 persen, melampaui target nasional 76 persen, sementara makanan tambahan lokal untuk anak bermasalah gizi mencapai 67 persen. Intervensi spesifik ini terbukti efektif, tetapi jika angka ANC tidak naik cepat, fondasi kesehatan janin dan bayi tetap akan rapuh.

Intervensi Sensitif: Sanitasi, Pangan, dan Edukasi sebagai Penopang Tidak Kalah Penting

Jika intervensi spesifik adalah “obat” langsung, maka intervensi sensitif adalah ekosistem yang memastikan obat itu bekerja maksimal. Pendekatan ini menuntut cara pandang holistik lintas sektor untuk mendukung kesehatan ibu dan anak. Pemerintah daerah menggabungkan edukasi perilaku hidup sehat dengan upaya meningkatkan pemenuhan pangan dan gizi keluarga sebagai bagian utama intervensi sensitif. Tanpa perbaikan pola makan, kebersihan, dan lingkungan, segala upaya klinis berisiko tergerus infeksi berulang dan praktik pengasuhan yang kurang tepat.

Langkah konkret tampak pada pembangunan 348 unit jamban sehat di 10 kabupaten/kota serta perbaikan 840 rumah tidak layak huni di 29 kabupaten/kota dalam periode 2025–2026. Ini bukan detail teknis belaka, melainkan sinyal bahwa stunting dipandang sebagai persoalan sanitasi, perumahan, dan kesejahteraan, bukan hanya urusan puskesmas. Pemerintah menegaskan bahwa pencegahan dan percepatan penurunan stunting tidak mungkin diselesaikan oleh satu sektor saja; dibutuhkan kerja bersama dari pemerintah, tenaga kesehatan, pendidikan, dunia usaha, akademisi, organisasi masyarakat hingga keluarga.

Mengapa Kebijakan Harus Tepat Sasaran dan Berkelanjutan

Kombinasi intervensi spesifik sensitif hanya akan menghasilkan dampak maksimal bila dibingkai oleh kebijakan yang tepat sasaran dan berkelanjutan. Pemerintah daerah sendiri mengakui bahwa berbagai capaian yang sudah diraih harus terus dipelihara dan ditingkatkan melalui kebijakan yang tidak berubah-ubah arah setiap pergantian pimpinan. Fakta bahwa prevalensi stunting di salah satu provinsi masih 22 persen, di atas angka nasional 19,8 persen, menunjukkan bahwa program belum menyentuh semua kelompok sasaran secara merata. Target besar yang dicanangkan adalah memastikan setiap anak tumbuh sehat sehingga ambisi Indonesia Emas 2045 dapat tercapai.

Di sinilah pentingnya perencanaan berbasis data: misalnya, tingginya cakupan ASI eksklusif patut dipertahankan, sementara rendahnya ANC enam kali harus jadi prioritas perbaikan anggaran dan layanan. Tanpa fokus yang tajam, ada risiko sumber daya tersebar terlalu tipis dan hasil perlahan mandek. Kebijakan berkelanjutan berarti anggaran yang konsisten, program yang tidak berganti nama tanpa evaluasi, serta indikator yang dipantau terus-menerus, bukan hanya menjelang survei nasional.

Koordinasi Lintas Sektor dan Komitmen Jangka Panjang: Ujian Sesungguhnya

Akhirnya, pertanyaan utama bukan lagi “apa yang harus dilakukan”, tetapi “siapa melakukan apa dan sampai kapan mau konsisten”. Pemerintah menegaskan bahwa pencegahan stunting anak tidak mungkin ditangani satu sektor; harus ada kerja bersama pemerintah pusat dan daerah, tenaga kesehatan, pendidikan, dunia usaha, akademisi, organisasi masyarakat, hingga keluarga sebagai garda terdepan. Rapat koordinasi yang dihadiri 154 kepala daerah se-Sumatera dan diakhiri dengan penandatanganan komitmen bersama penurunan stunting menjadi simbol pentingnya koordinasi lintas wilayah.

Namun simbol tanpa implementasi tidak akan menurunkan satu pun angka stunting. Komitmen kepala daerah dinilai sangat penting agar program pencegahan dan percepatan penurunan stunting menjadi prioritas pembangunan di daerah, dan sumber daya yang diperlukan dapat dimobilisasi. Komitmen itu juga harus turun menjadi aksi nyata yang menyasar langsung setiap kelompok sasaran. Kesimpulannya, dua pilar intervensi spesifik dan sensitif sudah berada di jalur yang benar. Tugas besar ke depan adalah menjaga koordinasi dan komitmen jangka panjang agar penurunan stunting tidak berhenti di tengah jalan, melainkan menjadi fondasi generasi sehat yang betul-betul terwujud.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!