Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Edukasi Gizi Sekolah: Belajar Sehat Tanpa Menambah Jam Pelajaran

Edukasi Gizi Sekolah: Belajar Sehat Tanpa Menambah Jam Pelajaran
Minat|Pengetahuan Parenting

Makan sekolah bisa menjadi ruang belajar

Edukasi gizi sekolah adalah pembelajaran yang membantu siswa memahami kandungan makanan dan kaitannya dengan kesehatan melalui pengetahuan serta kebiasaan makan sehari-hari. Gagasan ini layak diterapkan, tetapi tidak perlu otomatis menjadi mata pelajaran baru. Kepala Badan Gizi Nasional, Sudaryono, mengusulkan edukasi gizi diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), agar siswa tidak hanya menerima makanan, tetapi juga memahami manfaat nutrisinya. Ia menyampaikan usulan itu pada 25 Oktober 2026, lalu menjelaskan dalam agenda Refleksi 100 Hari Kepemimpinan BGN pada 29 Oktober bahwa kegiatan tersebut sebaiknya berlangsung bersamaan dengan waktu makan siswa.

Dorongan ini berangkat dari persoalan yang tidak bisa diatasi dengan menyediakan makanan saja. Indonesia menghadapi beban ganda gizi: prevalensi stunting tercatat 19,8%, sementara obesitas anak yang dikaitkan dengan konsumsi pangan ultra-proses juga meningkat. Sudaryono mengatakan ia melihat langsung kekurangan gizi dan keterbatasan pemenuhan pangan di daerah terpencil. Dalam kondisi seperti itu, anak perlu memahami alasan tubuh membutuhkan makanan beragam. Namun, pemahaman itu akan lebih berguna bila tumbuh dari pengalaman sehari-hari, bukan sekadar materi yang dihafal untuk ujian.

Edukasi Gizi Sekolah: Belajar Sehat Tanpa Menambah Jam Pelajaran

Tak perlu mengubah gizi menjadi mata pelajaran

Perdebatan tentang integrasi ke kurikulum pendidikan penting, tetapi istilah “masuk kurikulum” tidak harus berarti menambah satu mata pelajaran. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti sebelumnya berpendapat pendidikan gizi lebih tepat membentuk perilaku melalui pembiasaan daripada sekadar menyampaikan pengetahuan. Pandangan itu masuk akal: siswa dapat menghafal fungsi vitamin, tetapi tetap tidak terbiasa memilih sayur atau menghargai makanan yang tersedia.

Menambah mata pelajaran juga berisiko mengambil jam dari pembelajaran lain atau memperpanjang hari belajar siswa. Karena itu, sekolah sebaiknya memasukkan pesan gizi ke dalam praktik yang sudah ada: mengenali bahan pada menu, membicarakan keragaman makanan, menjaga kebersihan, dan tidak menyia-nyiakan hidangan. Kebiasaan antre, makan bersama, serta menghormati makanan dapat menjadi pembelajaran karakter tanpa lembar tugas tambahan. Ukuran keberhasilannya bukan banyaknya istilah yang diingat, melainkan apakah siswa mulai memahami dan menerapkan pilihan makan yang lebih seimbang.

Gunakan waktu makan, bukan jam pelajaran

Usulan paling praktis adalah menjadikan waktu makan sebagai momen penjelasan singkat tentang menu yang sedang disantap. Sudaryono mengusulkan siswa yang pulang siang makan MBG pada pukul 12.00–13.00 sambil mendapat penjelasan tentang karbohidrat, protein hewani, dan sayuran. Untuk siswa kelas 1 dan 2 yang pulang pagi, ia menyebut makan sebelum pulang, sekitar pukul 10.00. Dengan cara ini, makanan menjadi contoh langsung: guru atau pendamping dapat menjelaskan fungsi zat gizi tanpa memindahkan pelajaran matematika atau bahasa.

Penerapannya perlu luwes, bukan seragam untuk setiap sekolah. Jadwal pembagian makanan, usia siswa, dan waktu pulang berbeda-beda; penjelasan juga sebaiknya singkat, relevan dengan menu, dan tidak membuat anak kehilangan waktu untuk makan. Siswa dapat diajak mengenali sumber protein, membandingkan peran lauk dan sayur, atau menyebutkan alasan tubuh memerlukan karbohidrat. Jika waktu makan berubah menjadi ceramah panjang, tujuan awalnya justru gagal. Edukasi harus menyertai makan, bukan mengambil alihnya.

Rancang pelaksanaan sebelum memperluas program

Agar edukasi gizi melalui MBG tidak berhenti sebagai slogan, pembagian tugas dan materi harus diperjelas. Usulan integrasi masih memerlukan pembahasan tentang skema penerapan, jenjang sasaran, isi pembelajaran, serta peran sekolah dan pelaksana program; jadwal maupun mekanismenya juga belum dirinci. BGN perlu memastikan kegiatan makan dan penjelasan gizi tidak mengurangi pembelajaran utama, serta memberi sekolah panduan yang mudah disesuaikan dengan kondisi setempat.

Kesimpulannya, program MBG sebaiknya membangun pemahaman gizi lewat pengalaman makan yang rutin, bukan menambah beban kurikulum dengan mata pelajaran baru. Waktu makan siswa sudah menyediakan konteks yang nyata untuk mengenalkan manfaat karbohidrat, protein, dan sayur. Jika penyampaian singkat, konsisten, dan didukung keteladanan orang dewasa, siswa bukan hanya tahu apa yang ada di piringnya, tetapi juga berpeluang membawa kebiasaan sehat itu ke rumah.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!